Selasa, 31 Januari 2012

ICHI Itu Satu Dan Dia Sahabatku


“Hei ! cepat bangun. Kamu pikir sekarang jam berapa? Kamu harus pergi ke kampus sekarang !”
Aku langsung terbangun dari singgasanaku setelah mendengar teriakan yang sudah tidak asing bagiku. Aku lupa hari ini aku ada jadwal kuliah. Dengan keadaan setengah sadar aku terbangun dari tempat tidurku.

“Ayo cepat bangun, dasar tukang tidur. Cepatlah ! kamu ini sudah hampir terlambat tahu, apa kamu …”
“ La la la la, aku tidak dengar apa-apa. La la la aku tidak dengar apa yang kau ucapkan,” potongku sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya. Aku tahu kalau aku tidak melakukan hal itu maka dia akan terus mengomel tanpa henti. Baiklah aku akan pergi mandi sekarang sebelum ia mengomel lagi. Dan lagipula aku harus segera bergegas menuju kampusku

30 menit kemudian
Akhirnya aku telah sampai di kampus dengan selamat. Kamu tahu selama perjalanan ke kampus ia terus mengomel karena aku telat bangun. Oh ya aku lupa memperkenalkan diriku dan dia. Perkenalkan namaku Aia dan dia adalah Ichi. 
” Selamat pagi Ai” sapa temanku Odi, sesampainya aku di kelas. Sekadar info saja Odi, Ichi, dan aku adalah teman dekat. Kami bertiga sudah saling mengenal sejak masih duduk di bangku SMA.
”Pagi” jawabku dengan agak sedikit malas.
”Kamu terlihat malas sekali, kenapa? Sedang tidak dalam mood yang baguskah?”
”Gara-gara dia tuh. Lihat dia sekarang juga masih mengomeliku. Kamu tidak melihatnyakah?” tunjukku kepada Ichi yang masih mengomeliku sambil menatap pemandangan di luar.

”Oh karena Ichi ternyata” ucap Odi entah kenapa aku merasa nada bicaranya agak sedikit berubah, ” kamu tahu Ai sekarang hari apa?”
”Kalau tidak salah hari ini hari Kamis tanggal 31 Maret bukan?”
”Kamu tidak ingat ternyata. Kalau begitu nanti sepulang dari kuliah ikutlah denganku?”
”Baiklah” ucapku. ” Astaga Ichi, aku mohon kepadamu untuk diam sekarang juga!”
Yap aku telah membentak Ichi, dan kurasa bentakanku tadi cukup membuat dia diam. Dan satu lagi, bentakanku tadi juga sukses membuat teman-teman 1 kelasku menghentikan  aktifitasnya untuk sementara demi melihat apa yang membuatku berkelakuan seperti itu, termasuk Odi.
”Ai kamu tidak apa-apa?” tanya Odi setelah semua keadaan kembali normal.
”Kurasa aku tidak apa-apa. Tapi, kamu tahu kurasa Ichi sekarang kenapa-kenapa. Lihat dia agak murung setelah aku bentak tadi.” aku menunjuk Ichi yang duduk di bangku dekat jendela. Ia benar-benar diam semenjak aku membentaknya. Aku jadi merasa sedikit mungkin lebih tepatnya amat sangat bersalah kepada dia.
”Ai kumohon apa kamu benar-benar tidak ingat apa yang terjadi kepada Ichi? Tolong jangan bersikap seperti ini. Kamu harus menerima kenyataan bahwa ..”. Ucapan Odi terputus karena dosenku telah datang. Aku tidak tahu apa maksud dari ucapan Odi. Memang Ichi kenapa? Kenapa Odi begitu sedih ketika berbicara seperti itu? Aku terus melihat Ichi yang masih terdiam. Memang ada yang salah dengannya? Dan lagi ada apa dengan hari ini? Tanggal 31 Maret. Apakah ada yang istimewa? Seingatku dari kami bertiga tidak ada yang ulang tahun hari ini. Lalu apa?

2 jam kemudian
Aku menghampiri Ichi yang masih duduk terdiam di tempat tadi. Mungkin dengan mengajak Ichi pergi bersama aku dan Odi akan membuatnya merasa lebih baik. Lagipula, aku belum meminta maaf kepadanya. Jadi anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maafku.
”Hei, Ichi. Kenapa diam saja?”
”Kan tadi kamu yang menyuruhku diam. Ya sudah aku diam sekarang”

”Oh ayolah, aku hanya bercanda tadi! ”. ucapanku langsung terhenti ketika dia melihatku dengan tampang kau-pikir-membentak-seseorang-itu-disebut-bercanda yang seakan-akan ingin membunuhku, memang sedikit berlebihan tapi faktanya aku cukup merinding dengan melihat tatapan matanya itu. ”Baik-baik aku mengaku salah, aku minta maaf. Tolong maafkan aku. Dan tolong berhenti menatapku dengan tampang ingin membunuh seperti itu. Maafkan aku!”. ucapku sambil memasang tampang memelas.
”Ya karena kamu sudah meminta maaf. Baiklah aku maafkan” ucapnya.
”Nah begitu dong. Oh ya kamu ikut aku dan Odi saja sekarang. Odi ingin mengajakku ke suatu tempat. Entah di mana aku juga tidak tahu lebih baik kamu tanya Odi langsung saja,” ajakku kepadanya. Sesaat kemudian Odi datang dan langsung mengajak kami pergi.

30 menit kemudian
Kami bertiga telah sampai di sebuah tempat pemakaman umum. Aku tidak tahu mengapa Odi membawaku ke tempat,yang menurutku menyeramkan, ini.
”Odi ..” ucapanku terpotong saat itu juga ketika Odi menarik tanganku dan memaksaku untuk mengikuti langkahnya yang agak panjang. Sedangkan Ichi, aku tidak tahu di mana dia sekarang. Sejak kami turun dari mobil tadi aku tidak melihatnya, mungkin dia ke kamar kecil.
”Kita sudah sampai.” bisik Odi pelan. Kami berhenti di depan sebuah nisan. Sebelum sempat aku bertanya kepada Odi siapa pemilik nisan itu, aku melihat Ichi sudah berdiri di belakang nisan itu. Aku melihat tulisan pada nisan itu yang telah ditunjuk oleh Odi. Sesaat aku merasa wajahku memerah, mataku mulai panas. Pandanganku mulai kabur. Kurasa ini semua karena aku melihat nama yang tertulis di nisan itu


ICHI KISHIHA

”Ta ta tapi dia bersamaku sedari pagi. Dan sekarang dia masih bersama kita. Kamu lihatkan tadi dia mengomeliku di kelas aku bahkan sempat membentaknya agar dia diam,” ucapku. Wajahku semakin memerah menahan emosi. Suaraku bergetar. Pipiku basah karena air yang keluar dari mataku. Dan kurasa mataku mulai terasa bertambah panas.
”Ai aku sudah pergi sejak dulu seharusnya. Bisakah kamu merelakan aku pergi? Kumohon.” bisik Ichi kepadaku
”Ai kumohon sadarlah. Tolong terima kenyataan bahwa Ichi telah pergi,” kali ini Odi yang memohon padaku. Aku tersentak mendengar apa yang dikatakan Ichi. Dia memang telah pergi. Dan dia ingin pergi selamanya? Tapi aku menahannya? Sahabat macam apa aku ini? 
”Iya aku merelakan kepergianmu Ichi,” ucapku sambil menahan agar air mataku ini berhenti keluar. ”Maafkan aku Odi. Aku tidak bisa menerima kenyataan itu. Maafkan aku Ichi. Sekarang kau bisa pergi, aku sudah tidak apa-apa.”
Setelah hening beberapa menit aku dan Odi memutuskan untuk pergi dari makam Ichi. Entah ini halusinasiku atau tidak aku melihat bayangan Ichi melambai kepadaku dan Odi ketika kami memasuki mobil. Dan aku yakin bayangan itu perlahan hilang seperti debu yang tertiup angin.


FIN


Well, cuman sekedar info tambahan dari aku aja ya...
sebenernya ini cerpen bukan aku yang ngarang, tapi temenku Nurla :)
Sama kayak cerpenku yang judulnya Arka, cerpen ini dibuat dalam rangka tugas kuliah. Tapi over all aku akui kalo ini cerpen emang keren... hahahha :D
Two thumbs up dech buat yang bikin... \m/

2 komentar:

BlingByul mengatakan...

Aduh dimasukin di blog beneran~
hhaha thanks yaa udah mau rempong-rempong buat masukin nih cerpen :)

dan thanks juga buat jempolnya :D

dyalifahr on 12 Februari 2012 pukul 18.59 mengatakan...

Hahahaha...... iya donk...
sering-sering aja berkunjung ke blog-ku ya, kali aja cerpenmu yang lain tak posting di blogku lagi.hohohoh V(^^)V

 

Miss Double N's Story Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting