Jumat, 26 April 2013

And The First Love Will Always Stay



***One....

Aku mengamati statusnya yang muncul di beranda facebookku. Sepertinya dia sudah punya pacar baru yang bisa membuat hatinya berbunga - bunga seperti ini. Hemm..... Baguslah, setidaknya dia sudah bisa move on dariku. Dan aku gak harus merasa bersalah terus menerus seperti ini. Aku bangkit dari kursi dan melangkah keluar dari kelas yang sudah kosong sejak 10 menit yang lalu.
"Kak Nisa.....", seorang gadis menghentikan langkahku sebelum aku melewati pintu. Aku mengamati gadis yang ada dihadapanku ini, anaknya tinggi, kulitnya agak kecoklatan, rambutnya pendek, tapi lumayan manis untuk dipandang..
"Kakak bener yang namanya Nisa kan?". Tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ada apa?", tanyaku singkat.
"Bisa kita ngobrol sebentar?", gadis itu berjalan kearah kursi dan aku mengikutinya.
"Kakak gak keberatan kan kalo aku menanyai kakak tentang Kak Bayu?". Aku menatap gadis itu lurus - lurus, berbagai macam pertanyaan mendadak muncul di kepalaku.
"Kamu siapa?", tanyaku dengan nada agak ketus. Sungguh moodku bisa langsung berubah buruk saat mendengar nama Bayu disebut.
Continue reading...

Kamis, 18 April 2013

Never Getting Back Together



Aku terduduk sendiri dalam kamarku yang segaja kubiarkan gelap. Sepintas kulihat tirai di jendela berkibar pelan, memberikan kesejukan di hatiku yang sedang rapuh.
Aku menatap, foto itu. Fotoku dan arnold yang sedang berpose di air terjun kakek bodo yg kami datangi saat liburan imlek tahun lalu.
Air mataku jatuh beruraian, aku menangis tersedu-sedu mengingat stiap kenangan manis yang tiba-tiba berputar di otakku.
" Semua ini salahku, kalo saja bukan karna hal bodoh yang kulakukan pasti Arnold masih disini, memelukku.."

Continue reading...

Tak Mungkin Lagi



Sesaat setelah pesawat landing di bandara juanda, aku merasa seperti jutaan beban terlepas dari pundakku. Sambil menarik koper dan membawa tas ranselku aku melangkah keluar dan menemukan seorang gadis dengan membawa papan bertuliskan "Welcome my lovely Brother Alcander", dengan aksen pita - pita dan coretan ala princess. Aku mengenali coretan itu, dia Aina adik semata wayangku yang kini sudah menjelma menjadi gadis cantik dengan pipi chubby dan rambut panjang coklatnya yang indah, tubuhnya yang langsing bak model membuatku tak berkedip menatapnya. Aku dibuat terkejut oleh perubahannya, dia sangat berbeda dari saat dahulu aku meninggalkan negara ini untuk mengejar impianku di negeri paman Sam selama 5 tahun. Aku melangkah cepat menghampiri gadis itu,
Continue reading...

Aku Bukan Bagian Altamirano



Pagi ini semuanya terlihat berbeda, aku melangkah gontai melewati kelas yang dulu menyimpaan sejuta kenangan indah diotakku. Pikiranku mulai melayang tak karuan menjebakku dalam berbagai memori yang tak pernah akan bisa terhapus.
“ Woi..... pagi – pagi udah bengong disini!”. Teriakan Phia berhasil membawaku kembali ke alam nyata. “ Ayo ke kelas Ra, PR ku belum selesai nih....”. Aku hanya bisa pasrah saat phia menarikku untuk pergi ke kelasku sendiri. Hampir semua anak sibuk dengan tugas mereka sendiri, termasuk Phia sahabatku. Aku lebih memilih untuk menyendiri dan menatap jendela yang ada di seberang kelas. Tak terasa butiran air mata menetes dan membentuk sungai kecil di pipiku. “ Ra, kamu gak papa kan? Kamu ke inget lagi ya?, udah dong Ra kamu harus semangat, life must go on. Okay!”. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Phia, tapi semuanya tak semudah yang phia katakan. Aku masih belum sanggup.

            Tet....tet...tet...... suara bel pulang membuat suasana kelas yang mulanya sepi meledak menjadi teriak kemenangan anak – anak setelah seharian di jejali berbagai macam materi ipa yang sangat menguras tenaga agar bisa terserap otak. Kelas tersa begitu sesak dipenuhi anak – anak yang udah pada gak sabar buat pulang kerumah masing – masing.
Continue reading...

Ghaisan & Alanza


“ Za, mau kemana sih kamu? Buru – buru amat! Tugas kita belum kelar nich?”. Gadis berambut pendek yang sedang menjadi objek pembicaraan itu masih tetap sibuk dengan kegiatannya, mengubek – ubek isi tasnya untuk mencari sesuatu.
“ hmmm....... aku tau, pasti si Ghaisan lagi ya?”.
“ aku tinggal bentar ya Ra, udah di tunggu Ghaisan nich diluar. Janji dech ntar aku cepet balik!”. Gadis berambut pendek yang ternyata bernama Alanza itu buru – buru pergi meninggalkan sahabatnya Nara. Di luar kelas terlihat sesosok cowok dengan tubuh tinggi besar dan dandanan yang bisa di bilang sangat keren itu dengan tidak sabar segera menghampiri Alanza dengan wajah esmosi tingkat tinggi.
“ kamu bodoh banget sih, gak ngerasa apa kalo kamu udah bikin aku mondar – mandir didepan kelas kamu kayak orang tolol Cuma buat nungguin kamu nyariin flasdiskku yang kamu pinjem itu!”.
“ maaf, tadi pagi aku bangun kesiangan. Makanya jadi buru – buru dan aku lupa naroh flashdisk kamu dimana. Maaf ya Can.....”. wajahku tertunduk seketika. Aku tahu disaat seperti ini tidak tepat kalau aku membantah semua perkataan Ican, meski aku tau itu menyakitkan.
“ dasar ceroboh kamu! Udah, males aku!”. Ican mengambil flashdisk dari tangan Alanza dengan kasar dan berlalu pergi meninggalkan Alanza sendiri dilorong kelas. Tiba – tiba tepukan pelan dibahu Alanza membuatnya terkaget dan buru – buru mengusap airmatanya yang menetes.
“ Sampai kapan sih kamu Za bakalan terus – terusan bertahan dengan sikap Ghaisan yang kasar kayak tadi. Kalo aku jadi kamu aku udah putusin tuh cowok kale! Kayak gak ada cowok laen aja di
dunia ini!”. Nara mengoceh panjang lebar, ini bukan untuk pertama kalinya Nara mengoceh seperti ini karna kekecewaannya terhadap sikapku yang pasrah saat Ghaisan mulai bersikap kasar padaku. Aku Cuma bisa tersenyum mendengar ocehan Nara barusan.

Continue reading...
 

Miss Double N's Story Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting