"Ayolah Con.... Please please bantuin gue......". Alika memohon mohon dihadapanku dengan wajah memelas.
"Aduh Lik..... Please dech, berapa kali sih gue bilang, gue gak mau terlibat sama urusan percintaan lo!". Tatapan tajamku kearah Alika mempertegas ucapanku.
"Tapi gue cinta mati sama Devan, dan gue gak terima dia putusin gue kayak gini!". Nada suara Alika terdengar putus asa. Aku melirik kearah wajahnya cantiknya khas sunda yang kini terlihat kusut. Sambil menghembuskan nafas panjang akhirnya aku menyerah pada perasaan tidak tegaku.
"Oke oke... Gue bakalan bantuin lo, kasih gue waktu seminggu dan gue bakalan cari tau alasan kenapa devan mutusin lo!".
"Jangan seminggu donk Con, masak gue harus galau lagi selama seminggu?", tanyanya sambil menatapku.
"Haduh... Cerewet sekali sih lo! Syukur syukur gue mau bantuin lo!". Nada suaraku mendadak sewot. Sejenak aku melihat Alika dengan wajah melasnya bak anak kucing yang ditinggal induknya. Perasaan tak tegaku kembali harus lulus karnanya. "Yaudah 3 hari!". Kataku tegas
"Thank you ya Connie, lo emang Bestiest gue dech!", suara Alika kembali riang.
*****
Malam ini aku mulai menjalankan misiku.
"Lo yakin mau masuk sendirian Con???", tanya Alika dengan nada cemas.
"Emang lo mau ikut?, ya sama aja bo'ong Lik!", jawabku dengan nada ketus.
"Hemm.... Tapi kan tempat ini menyeramkan Con!!!". Alika mengamati daerah sekitar tempat bilyard ini.
"Udah gak pa pa, gue bisa jaga diri kok!". Kataku meyakinkan Alika dan mulai keluar dari mobil untuk memasuki gedung tempat bilyard di depanku ini.
Di dalam gedung Bilyard, hanya tampak kira-kira sepuluh orang sedang bermain di beberapa meja bilyard yang ada.
Tampak sesosok cowok yang jadi targetku malam ini sedang duduk sambil menikmati shisa di sofa yang ada di sudut ruangan.
Aku melangkah menghampiri cowok itu dan berhenti tepat di depan mejanya.
"Permisi, boleh gabung?", suaraku memecah lamunanya dan membuat cowok dihadapanku ini menatap kearahku. Sejenak dia mengamatiku dari ujung kaki hingga kepala sebelum akhirnya dia tersenyum dan mengangguk. Aku mengambil duduk di seberang sofa yang di dudukinya. Sambil meletakkan gelas yang berisi ice mocca cream yang aku bawa di meja, aku mengulurkan tangan kearahnya.
"Kenalin, gue Connie.....". Cowok itu menatapku lekat dan menjabat tanganku. "Gue Devan.....". Untuk beberapa detik suasana menjadi hening sampai akhirnya Devan membuka suara.
"Bay the way, gue gak pernah liat lo disini sebelumnya?". Tanyanya dengan nada suara yang cool. Aku mengalihkan pandanganku kearahnya, cowok dengan penampilan yang kalo boleh aku kasih nilai sih dia bakal dapet nilai 9 dariku. Kulit putih, bersih mulus dengan mata tajam, hidung mancung dan bibir tipis yang merah. Pantas saja Alika bisa hampir gila cuman karna diputusin makhluk yang ada di depanku ini.
"Ooh.. Iya, gue emang baru kali ini kesini, itupun karna Gue janjian sama teman, tapi kayaknya dia bakalan telat datengnya. Makanya gue samperin lo ajah daripada gue bengong sendirian di meja bartender!", aku mengulas senyum paling manisku untuk menyakinkannya.
Akhirnya kita berdua larut dalam obrolan yang lumayan mengasyikkan. Dan misiku malam ini berhasil!
"Eh Van, kayaknya temen gue gak jadi dateng dech. Barusan dia sms gue. Gue cabut duluan ya!". Aku memotong obrolan kami yang sedang asyik.
"Buru - buru banget?, gue anter pulang ya?", tanyanya padaku.
"Eh... Gak usah Van, gue bawa mobil kok. Makasih ya udah nemenin gue....". Aku berdiri sambil mengambil tas tanganku, tiba-tiba Devan menggenggam tanganku.
"Kalo gitu, bisa gue minta nomer hape lo?", tanyanya sambil menatap penuh harap kearahku. Aku mengangguk dan kita saling bertukar nomor handphone. Aku segera keluar dari gedung bilyard dan menghampiri Alika yang sedari tadi sudah menungguku di dalam mobil.
"Gimana Con? Dia ada disana kan?, truz lo ngapain ajah sama dia tadi?", alika mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan ketika mobil yang kukendarai melaju membelah jalanan kota pahlawan yang sepi. aku melirik kearah jam tanganku. Gak kerasa sudah jam 11 malam.
"Lo nginep dirumah gue aja ya Lik, ntar nyokap lo curiga kalo kita baru pulangnya jam segini!". Kataku sambil masih menatap lurus ke jalan raya.
"Emang nyokap lo gak bakalan marahin kita?", tanyanya balik.
"Gak, nyokap lagi nemenin bokap ke Singapura. Ada acara katanya!". Jawabku singkat. Dan Alika hanya mengangguk. Merasa pembicaraannya sudah teralihkan wajahnya mendadak cemberut.
"Tuh kan.... Lo ngalihin perhatian gue lagi Con! Sebel dech!". Bibir Alika monyong 5 centi. Aku tertawa melihat perubahan raut wajahnya.
"Ayok Con, cerita ke gue lo tadi ngapain ajah sama Devan....". Tangannya menggoyang-goyang bahuku. Dan tanpa ada yang terlewatkan, aku menceritakan semua yang kulakukan pada misi pertamaku.
*****
"Rencana kita apa hari ini?", tanya Alika saat aku baru melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi sambil menghanduki rambut yang masih basah.
"Rencana?, rencana apa? Ya ke kampus lah kuliah!". Sahutku enteng.
"Bukan connie sayang....... Rencana kita buat Devan...". Wajah Alika terlihat sangat gemas menatapku. Aku melangkah menghampiri Alika yang masih berada diatas tempat tidur.
"Ooohhh... Itu, nunggu Devan sms dulu dech. Baru ntar gue pikirin lagi rencana kita apa hari ini!".
"Con..... Lo mau janji sesuatu sama gue?", mimik wajah Alika berubah serius sambil menatap lekat mataku.
"Hemm....".
"Lo janji gak bakalan naksir Devan ya....". Wajah Alika benar - benar serius sampai sampai alisnya saling bertautan menunggu jawabanku.
Tawaku meledak seketika. " Hahahahahah lo ngaco ya Lik?, mana mungkin gue naksir Devan! Dia bukan tipe gue, dan juga lo kan tau sendriri dari kecil gue pantang banget buat rebutan cowok sama lo!". Aku tak pernah mendengar alika meminta sesuatu seperti ini, sejak TK kami bersahabat, gak pernah sekalipun aku melihat Alika memintaku untuk gak naksir pacarnya. Dan itu membuatku geli sampai perutku terasa kaku. "Ihh..... Udah donk Con ketawanya! Sebel dech!". Alika bangkit menju kamar mandi dengan wajah cemberut.
Di kampus saat kuliah Bioteknologi sedang berlangsung, handphoneku bergetar. Ada sms dari nomer yang gak kukenal. I
Hai Con, masih inget gue? Gue Devan!
lo sibuk? Bisa kita ketemu?
Aku sudah menebak, pasti dari Devan!. Segera ku balas smsnya dan membuat janji untuk bertemu di cafe yang ada di mall dekat kampusku.
Ketika kuliah sudah usai, aku mencari Alika di jurusannya. Alika dan Aku selalu bersama dari TK hingga saat ini kita kuliah. Namun meski berada di fakultas yang sama, aku dan alika memilih jurusan berbeda. Aku di Sains dan Alika di Biologi.
aku melihat Alika sedang duduk di bangku taman jurusannya.
"Lo gak ada kelas Lik?", tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
"10 menit lagi gue masuk kok, tapi cuman bentar sih buat pralab ajah! Kenapa?", sahutnya sambil menyedot pop ice coklat kesukaannya.
"Devan ngajakin gue ketemuan di cafe yang ada di mall deket kampus kita ini!". Pemberitahuanku barusan membuat Alika melonjak kaget kearahku. "Serius Con?", tanyanya sambil mengguncang-guncangkan bahuku. Aku mengangguk cepat.
"Trus gue harus gimana donk Con? Masa' gue harus bolos pralab?", Alika mulai panik.
"Ngapain?", tanyaku enteng.
"Buat buntutin kalian lah... Gimana sih!", aku tertawa kecil melihat kepanikan Alika.
"Nyantai ajah lik, gue udah atur rencana kok!, jadi gini rencananya....". Aku mendekat ke telinga Alika dan mulai membisikkannya semua rencana yang akan aku lakukan untuk menjebak Devan.
Sesaat setelah Alika masuk kelas, aku langsung menuju mall untuk menemui Devan.
"Sorry.... Lama ya nunggunya?", tanyaku saat aku sampai di depan meja Devan.
"Eh elo Con, enggak kok!", sahut devan sambil mengalihkan perhatiannya kearahku. "Duduk Con!".
Akupun mengambil tempat duduk di seberang devan, dan kita mulai terlibat pembicaraan yang seru. Mulai dari ngobrolin tentang kuliah sampai otomotif.
"Gak nyangka gue, ternyata lo suka otomotif juga con!". Devan menatap kerahku dengan tatapan kagum.
"Hahahah cuman iseng doang kok Van, gue gak terlalu suka sama mobil polosan soalnya!", sahutku enteng.
"O ya, habiz ini lo ada acara lain?", tanya Devan tiba-tiba. Aku menyesap kopi terakhir yang ada dalam gelas. "Enggak, kenapa emang?". Tanyaku balik kepada Devan.
"Mau temenin gue?", tanyanya lagi. Aku mengangkat wajah menatap kearahnya. "Kemana?".
Raut wajah Devan nampak sedang berpikir keras. "Hemm.. Terserah lo aja dech!, gue pengen ngilangin stres nich!". Aku berpikir sebuah tempat yang pas untuk mencari celah agar puncak misiku terlaksana dan semuanya berakhir cepat, tiba-tiba aku terpikirkan sebuah tempat.
"Gimana kalo kita pergi ke karaoke ajah?", tanyaku meminta pendapat Devan. Senyumnya merekah lebar dan dia mengangguk menyetujui usulanku. Segera kita bangkit meninggalkan cafe untuk menju tempat karaoke yang masih berada di dalam mall ini juga.
Di Dalam tempat karaoke sepertinya Devan benar-benar melepaskan semua bebannya, dari lagu pertama sampai lagu ke lima sekarang ini yang dipilihnya hanya lagu-lagu rock, metal dan kawan - kawannya itu yang membuat aku dan Devan tak henti-hentinya melonjak - lonjak. Sampai akhirnya aku kelelahan dan memutuskan untuk duduk di sofa, membiarkan Devan menyelesaikan lagu kelimanya sendirian. Setalah lagu kelima sudah selesai, devan pun ikut duduk di sofa bersamaku.
"Sudah capek?", tanyaku sambil menatap kearah Devan. Aku melihat keringat mengucur dari keningnya. Devan mengangguk sambil tersenyum manis ke arahku. "Makasih ya Con, udah mau nemenin gue....". Aku menatap balik kearahnya sambil mencoba mengelap keringatnya dengan tissue. Tangannya menyentuh tanganku yang sedang mengelap keringatnya, gerakanku terhenti. Devan bergerak maju mendekatiku, kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas karna jarak diantara kita hanya sekitar 5 cm. Aku bisa merasakan deru nafasnya dan aku bisa dengan jelas membaca pikirannya tentang apa yang akan dilakukannya padaku sepuluh detik kemudian. Namun sebelum semuanya terjadi, aku mengusapkan tanganku kematanya dan, "tidur!". Devan pun akhirnya tertidur karna efek hipnotisku. Yach... Inilah satu kelebihan yang tuhan berikan untukku sejak aku kecil, tanpa harus belajar pada siapapun akusudah menguasai ilmu tentang hipnotis dan membaca pikiran yang setara dengan Romy Rafael, master hipnotis yang ada di negari ini. Namun, tak banyak orang yang tau tentang kelebihanku ini, hanya mama, papa dan sahabatku si Alika saja yang tau dan tetap menjaga rahasiaku sampai saat ini.
Kembali pada devan yang masih dibawah pengaruh hipnotisku, buru - buru aku menelpon Alika untuk segera masuk ke kamar karaoke yang kita tempati.
"Oh my gosh....., lo apain Devan Con?". Alika terkejut saat masuk dan mendapati Devan tertidur di sofa. Aku menempelkan jari telunjuk di mulutku untuk memberikan isyarat agar alika tidak berisik.
"Sekarang, lo pengen gue tanya apa sama dia?", tanyaku pada Alika.
" Hemm..... Yang kayak kita omongin kemaren - kemaren dech Con...". Aku mengangguk tanda menegerti.
"Lo harus janji sama gue ya Lik, apapun jawaban yang keluar dari mulut Devan lo gak usah histeris! Ok!".
"Iya iya gue janji Con....". Alika menyetuji perjanjian kami.
Pertama - tama aku mulai memeberikan pertanyaan - pertanyaan ringan kepada Devan.
"Jawab gue! Siapa nama lo?", tanyaku sambil memegang tangan Devan untuk membuatnya merespon pertanyaanku. Masih dengan posisi tertidur di sofa, Devan mejawab pertanyaanku.
"Devan Alcander Everald". Jawabnya.
"Lo sudah punya pacar?".
"Belom!".
"Siapa pacar terakhir lo?".
"Namanya Alika".
Aku melirik kearah Alika yang dengan serius memperhatikan jawaban - jawaban yang devan berikan.
"Siapa itu Alika?", lanjutku bertanya.
"Dia mantan gue yang gue putusin dua minggu yang lalu".
"Kenapa lo putusin dia?",
" Karna gue udah bosen!". Alika kaget mendengar jawaban devan barusan, dari raut wajah aku bisa membaca bahwa Alika tidak terima dengan jawaban Devan barusan. Aku menatap alika untuk meyakinkannya, dan mulai bertanya lagi pada devan.
"Bosen?, kenapa lo bosen sama Alika?".
"Karna gue gak pernah suka sama dia, dia bukan tipe gue!".
Wajah Alika terlihat pucat mendengar jawaban devan barusan, matanya mulai memerah.
"Lo yakin gue terusin pertanyaannya buat Devan?", tanyaku pada Alika.
"Lanjutin aja Con, gue pengen semuanya tuntas!". Jawab Alika tegas dengan suara yang mulai parau karna menahan tangis.
"Lalu, kenapa lo pacarin Alika kalo lo gak pernah suka sama dia?", tanyaku lagi pada Devan.
"Gue cuman pengen bales dendam buat Azka, sahabat gue yang udah di campak'in gitu aja sama Alika. Gue gak terima karna yang gue tau, Azka udah cinta mati sama Alika. Tapi dengan seenaknya Alika putusin azka padahal mereka udah jalan selama hampir 3 tahun. Gue cuman pengen bikin Alika ngerasain apa yang sahabat gue rasain!".
Jawaba Devan barusan membuat alika terhentak dan air matanya mulai mengalir perlahan. Buru - buru alika mengambil tissue dan mengelap pipinya. Aku menatap kearahnya dengan tatapan bertanya. "Lanjutin aja Con, I'm ok!". Katanya.
Aku melanjutkan sesi investigasiku.
"Azka tau tentang misi balas dendam lo ini?", tanyaku dengan nada curiga.
"Enggak, ini semua gue lakuin tanpa sepengetahuan Azka. Bahkan Azka juga gak tahu kalo gue udah di Indo....". Jawabnya enteng.
"Truz, Kenapa lo gak suka sama Alika?".
"Dia bukan tipe gue, dia terlalu gampang buat gue dapetin dan gue mainin".
"Maksud lo?", nada suaraku agak meninggi karena tidak terima dengan jawaban Devan barusan, tapi buru - buru aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya untuk membuat emosiku reda.
"Alika itu cewek gampangan, gue baru kenal sia selama seminggu dan dia mau jadi cewek gue. Dan sebulan gue pacaran sama dia, dia mau ngasih segalanya buat gue".
Aku menatap kearah Alika, wajahnya terlihat sangat pucat dan air matanya mengucur deras. Mendadak perasaanku bimbang, antara iba dan kecewa atas sikap Alika semudah itu takluk pada seseorang yang baru dikenalnya seperti Devan. Tapi segera aku singkirkan semua pikiran itu dan mendekati Alika, aku memeluknya erat. Tangisnya pecah sampai akhirnya Alika bangkit dari tempat duduknya.
"Gue udah gak kuat Con, gue tunggu lo di mobil!". Ucapnya sebelum pergi meninggalkan kamar karaoke dengan deraian air mata.
"Emang apa yang udah lo lakuin ke Alika?", tanyaku penasaran.
"Gue gak berani lakuin apapun sama dia, karna gue tau Azka masih sayang sama dia....". Aku terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk memberikan pertanyaan yang terakhir untuk Devan.
"untuk saat ini, siapa cewek yang lo suka?". Aku menunggu sekitar 5 detik sampai Devan menjawab pertanyaanku.
"Gue suka sama Connie, cewek yang baru gue kenal kemaren tapi udah sanggup bikin gue jatuh cinta sama dia!". Jawaban Devan barusan berhasil membuatku terkejut, sungguh aku tak bisa membayangkan gimana reaksi Alika saat mendengar kata - kata yang devan ucapkan barusan. Mendadak ada perasaan bersalah menggelayuti pikiranku, tapi sebelum pikiranku mengacaukan semuanya aku memberikan sugesti untuk yang terakhir pada Devan.
"Van, dengerin gue!, lupain semua hal yang barusan lo ucapin. Tanamkan dalam - dalam di memori otak lo, kalo kejadian setengah jam yang lalu ini tak pernah terjadi. Dan saat gue sentuh pipi lo, lo bakalan bangun dan ngelupain semuanya!". Akupun menyentuh pipi Devan dengan lembut dan membuatnya terbangun.
"Lo capek banget ya Van?, ampe ketiduran....". Devan menatap kearahku sambil mengucek matanya.
"Gue tertidur ya Con?", tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Aku mengangguk.
"Sorry ya.....", ucapnya lagi dengan wajah polos setengah linglung.
"Kaya'nya gue harus balik duluan Van, ada banyak tugas yang harus gue kerjain buat besok....". Aku bangkit sambil mengambil tasku yang tergeletak dimeja diikuti oleh Devan.
"Gue anterin lo pulang ya....". Seketika aku menoleh kearah devan.
"Gak usah Van, makasih....". Aku tersenyum semanis mungkin untuk menolaknya. "Gue bisa pulang sendiri...".
"Hemm..... Ok lah kalo begitu,kita keluar bareng aja dech...". Devan melangkah keluar sambil membukakan pintu untukku. Kita langsung menuju tempat parkir mobil. Setelah memastikan Devan masuk kemobilnya dan meninggalkan tempat parkir, segera aku menuju mobilku sendiri dan terlihat Alika terisak di dalam mobil. Aku masuk ke mobil dan duduk dibalik bangku pengemudi dalam diam. Sekitar 10 menit lamanya aku membiarkan Alika menjiwai isak tangisnya.
"Conn..... ", panggilnya dengan suara Lirih.
"Hemm....", jawabku.
"Lo marah ya sama gue?", tanyanya sambil menatap melas kearahku. Aku hanya terdiam dengan tatapan lurus kedepan.
"Connn..... Ngomong donk!". Alika mengguncangkan tubuhku dengan raut wajah frustasi. Aku menatap lurus kematanya.
"Enggak, gue gak marah. Cuman gue gak habiz fikir ajah kenapa segampang ini lo bisa kejebak sama permainannya Devan....". Tanyaku dengan tatap sedih.
"Gue....Gue juga gak tau Con, gue cuman butuh pelampiasan dan saat gue butuh Devan muncul...". Jawabnya dengan nada lirih.
"Tapi kenapa lo bisa seceroboh ini?, lo udah jadian sama Azka hampir 3 tahun. Tapi kenapa lo gak pernah tahu kalo Azka punya sahabat yang namanya Devan??". Aku menatap lurus kearah Alika.
"Yang gue tahu sahabat Azka namanya Alca dan dia tinggal Aussie. Mana gue tahu kalo Devan dan Alca itu orang yang sama dan devan sudah balik ke Indo. Foto yang Azka tunjukin ke gue waktu mereka masih SMP sama tampang Devan sekarang bener-bener beda Connie....". Sahut alika panjang lebar untuk meyakinkanku.
Aku menghela nafas panjang tanda pasrah.
*****
"Con.....". Sapa Alika saat aku sedang duduk di taman fakultas sambil menjilati permen lolipop favoriteku.
"Hemm.....", sahutku singkat.
"Sudah seminggu sejak kejadian terakhir dikaraoke itu, lo masih berhubungan sama Devan??", tanya Connie tiba-tiba.
Aku menggeleng cepat, "Kenapa lo tanya begitu Lik?, lo kangen Devan yak?", Aku balik bertanya dan mengagetkan Connie.
"Enak ajah, yang gue kangenin bukan Devan. Tapi Azka.....", jawabnya polos. Tawaku meledak seketika dan membuat wajah connie cemberut.
"Aaaa---- jangan diketawain donk Con!!, jahat banget sich lo!". Connie mencubiti lenganku. Aku bangkit dan berlari menghindari cubitan Connie yang kini sedang mengejarku.
Tapi, tiba-tiba saja.... *Bruukkkk......*. Aku terjatuh karna menabrak seseorang, dan saat aku mendongak untuk mengecek siapa yang aku tabrak ternyata cowok itu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
"Devan.......". Ucapku,membuat connie berhenti mengejarku dan berdiri mematung ditempat.
"Ternyata kalian berdua bersahabat toh?", tanyanya sambil menatapku tajam.
"Kalo iya kenapa?, berarti kita impaskan!", sahutku ketus sambil berbalik menjauhinya. Tapi buru-buru Devan menarik tanganku dan aku berbalik kearahnya.
"Iya sekarang kita impas kok.......". Jawabnya sambil tersenyum manis.
"Lo gak marah?", tanyaku sambil mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya.
"Enggak gue gak marah kok. Gue kesini mau minta maaf sama lo dan Alika. Dan juga gue mau nganterin seseorang yang mau balikan sama lo Lik....". Devan menunjuk kerah cowok yang berada di sebrang jalan sambil memegang sebuket bunga mawar merah favourite Alika. Bak anak kecil yang melihat mamanya, Alika berlari menuju kearah Azka dan memeluknya.
"Maafin aku ya Ka udah putusin kamu......". Ucapnya dengan nada terisak.
"Kok nangis sih sayang...., gak apa-apa kok. Kamu mau balikan sama aku lagi ajah aku udah seneng banget......". Jawab Azka sambil mengelus rambut Alika.
Aku dan Devan berjalan menghampiri mereka.
"Jadi ceritanya kalian balikan nich?", tanyaku sambil mencubit pipi Alika.
"Iya.....". Jawab Alika dengan malu-malu.
Tawaku meledak seketika..... "Wah sepertinya ada yang bakalan traktiran nehh....", celetukku sambil menyikut Devan. Seolah mengerti maksudku, Devan langsung menyahut.
"Iya nich, yaudah langsung berangkat yok kita sekarang.......".
"Kemana?", sahut Azka dan Alika Kompakan.
"Ciieeee---- kompak banget pasangan yang satu ini, ya kemana gitu. Ke resto ato tempat karaoke mana gitu....". Sahutku enteng.
"Malazz......". Sahut mereka berdua lagi.
Dan akhirnya kisah ini berakhir bahagia bak cerita dongeng dengan kembalinya Azka dan Alika. Aku dan Devan???, kita berdua cukup jadi sahabat baik sajalah..... Heheheheh :D




0 komentar:
Posting Komentar