"Hey, kamu
kenapa lagi?". Lamunanku mendadak buyar karna tepukan dibahuku.
"eh kamu…
gak ada apa - apa kok!, ada apa?".
Tanyaku pada sahabatku yang berdiri dihadapanku saat ini.
"udahlah…. Gak
usah bohong lagi, seharian ini wajahmu sungguh melow. Dan aku yakin pasti karna
dia lagi ya?".
Aku menghela nafas
panjang, "Hemm… entahlah, serasa dipermainkan saja perasaanku ini!".
Sahabatku menyeret
sebuah kursi dan duduk dihadapanku, "Kamu diapain lagi sih sama dia?".
Tanyanya penasaran.
"aku juga gak
ngerti, berbulan bulan yang lalu dia menghilang begitu saja dari hidupku, dia
bikin aku frustasi. Setiap hari menghubunginya seperti orang gila…!!, beberapa
waktu yang lalu aku memberanikan diri untuk meminta penjelasan padanya. Tapi kamu
tau apa yang terjadi?". Sahabatku
menggeleng cepat.
"Dia membentak
- bentakku, dia bilang kalo aku gak boleh ganggu hidupnya lagi. Aku gak boleh
sms atopun telpon dia lagi…..!". Mendadak mataku terasa panas, dan
perlahan air mata mulai turun membasahi pipi. Sahabatku hanya terdiam menatapku
sambil menyodorkan tisu. Aku menerimanya dan melanjutkan ceritaku.
"tapi kemarin
lusa, mendadak semuanya berubah. Bak gunung es yang tiba - tiba mencair, dia
nge sms aku dengan innocencenya, seperti
gak pernah ada apa - apa gitu…. Jelas aku menanggapinya dengan innocence juga,
aku fikir ini pertanda kalo aku dan dia sudah mulai baikan. Tapi….". Kata
- kataku terputus, tangisku semakin pecah dan sahabatku beringsut memelukku.
Untuk sejenak aku terlarut dalam tangisku, sampai tangisku mereda dan sahabatku
mulai melepas pelukannya.
"Kamu gak apa -
apa kan?", tanyanya pelan. Aku mengangguk lemah.
"Aku cuman
sedih aja, baru sehari dia baik sama aku, tapi sekarang sikapnya sudah balik
kayak dulu lagi. Dia jadi angkuh, cuek dan aku benci caranya menatapku. Aku gak
ngerti apa yang dimauinya, dia susah sekali ditebak….". Aku menyeka sisa -
sia air mataku dengan punggung tangan.
"Sudah -
sudah, ini semua harusnya gak terjadi
kalo kamu gak menaruh rasa, gak terlalu baik, gak terlalu percaya dia, dan kamu
gak terlalu sayang dia. Akibatnya jadi gini kan?, meskipun dia udah nyakitin
kamu tapi kamu masih tetep sayang dia….". Jelas sahabatku panjang lebar.
"terus aku
harus gimana?, aku paling gak bisa didiemin kayak gini…..". Aku
menelungkupkan wajah dimeja.
"sudahlah….
Kamu sabar ajah, kita lihat ajah nanti. Kalo perasaan yang dia punya gak
berubah ke kamu sampe sekarang, dia gak bakalan tega bikin aku nangis kayak
gini. Kamu harus percaya itu…..". Tutup sahabatku untuk menyemangatiku.




0 komentar:
Posting Komentar