Kamis, 18 April 2013

Ghaisan & Alanza


“ Za, mau kemana sih kamu? Buru – buru amat! Tugas kita belum kelar nich?”. Gadis berambut pendek yang sedang menjadi objek pembicaraan itu masih tetap sibuk dengan kegiatannya, mengubek – ubek isi tasnya untuk mencari sesuatu.
“ hmmm....... aku tau, pasti si Ghaisan lagi ya?”.
“ aku tinggal bentar ya Ra, udah di tunggu Ghaisan nich diluar. Janji dech ntar aku cepet balik!”. Gadis berambut pendek yang ternyata bernama Alanza itu buru – buru pergi meninggalkan sahabatnya Nara. Di luar kelas terlihat sesosok cowok dengan tubuh tinggi besar dan dandanan yang bisa di bilang sangat keren itu dengan tidak sabar segera menghampiri Alanza dengan wajah esmosi tingkat tinggi.
“ kamu bodoh banget sih, gak ngerasa apa kalo kamu udah bikin aku mondar – mandir didepan kelas kamu kayak orang tolol Cuma buat nungguin kamu nyariin flasdiskku yang kamu pinjem itu!”.
“ maaf, tadi pagi aku bangun kesiangan. Makanya jadi buru – buru dan aku lupa naroh flashdisk kamu dimana. Maaf ya Can.....”. wajahku tertunduk seketika. Aku tahu disaat seperti ini tidak tepat kalau aku membantah semua perkataan Ican, meski aku tau itu menyakitkan.
“ dasar ceroboh kamu! Udah, males aku!”. Ican mengambil flashdisk dari tangan Alanza dengan kasar dan berlalu pergi meninggalkan Alanza sendiri dilorong kelas. Tiba – tiba tepukan pelan dibahu Alanza membuatnya terkaget dan buru – buru mengusap airmatanya yang menetes.
“ Sampai kapan sih kamu Za bakalan terus – terusan bertahan dengan sikap Ghaisan yang kasar kayak tadi. Kalo aku jadi kamu aku udah putusin tuh cowok kale! Kayak gak ada cowok laen aja di
dunia ini!”. Nara mengoceh panjang lebar, ini bukan untuk pertama kalinya Nara mengoceh seperti ini karna kekecewaannya terhadap sikapku yang pasrah saat Ghaisan mulai bersikap kasar padaku. Aku Cuma bisa tersenyum mendengar ocehan Nara barusan.


“ sayangnya aku bukan kamu Ra. Cuma dia yang bisa buat aku jatuh cinta Ra!”.
“  hah??? Cinta katamu? Kalo begini jadinya sih aku ogah Za, makan aja tuh cinta!”. Rana meledekku dengan ucapan sarkatisnya.
“ emang cinta bisa di makan?”. Aku balik melemparkan pertanyaan ke Nara yang membuatnya langsung terdiam.
‘Hahahahhahaha’. Kita berduapun akhirnya tertawa bersama dan memutuskan untuk pergi kekantin.
     Suasana kantin cukup sepi siang ini, mungkin karna jam makan siang udah slesai kali ya?. Aku dan Nara memasuki kantin dan mulai menjelajah menu – menu yang ditempel diatas stand – stand makanan yang ada di kantin. Setelah memesan makanan + minuman, kita berduapun akhirnya duduk di pojok kantin yang menjadi tempat favorit kita. Tak seberapa lama segerombolan cowok – cowok memasuki kantin dengan berisiknya dan aku melihat Ghaisan diantara mereka. Saat mata kita berdua saling bertatapan, aku mencoba memberikan senyum termanisku padanya. Tapi apa yang terjadi? Ghaisan malah berbalik dan berjalan keluar dari kantin. Ya tuhan....sebenci itukah dia padaku?.

------------------------------- GHAISAN & ALANZA -----------------------

     Sampai pagi ini aku masih belum bisa menghubungi handphone Ican. Sudah ratusan kali aku memencet tombol handphone untuk menghubungi Ican, Selalu saja mbak veronika yang menjawab telponnya. ‘ Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi’. Sampai – sampai telingaku pengang mendengarnya kata – kata sperti itu terus. Air mataku menetes, rasanya aku putus asa untuk minta maaf ke Ghaisan. Aku tau seperti apa sifat Ghaisan, keras seperti batu. Tapi jujur dari dalam hatiku, aku selalu merindukannya meski tak jarang di pertemuan kita hanya di isi dengan pertengkaran – pertengkaran yang dipicu hal sepele. Seperti kemarin siang contohnya.
tapi sebodoh amatlah, mendingan aku kedapur aja buat bikin kue kesukaan Ican. Hari ini kan harusnya jadi hari Anniversarry ku yang pertama sama Ican. Tapi malah berantakan!.


------------------------------- GHAISAN & ALANZA ---------------------------

“ dari pagi sampe sore gini betah banget kamu  Za di dapur!”. Kak Hamdan tiba – tiba masuk ke dapur dan mencomot butter cream buatanku.
“ ih.... kakak ah, jangan di colek – colek gitu ntar abis tau! Itu kan mau buat menghias kue!”. Sengaja aku pasang wajah galak biar kakak satu – satunya yang paling aku sayang ini gak lagi usil mengerjaiku.
“ emang ada acara apa Za?, kok pake
k bikin kue segala?”.
“kakak  mau tau aja sih, ntar malem itu Anniversarryku sama Ghaisan yang pertama kak, makanya aku mau kasih kejutan buat dia malam ini”.
“ emang jam berapa acara kejut – kejutnya?”.
“ hahahahha........  “. Ucapan  kak Hamdan barusan berhasil membuatku tertawa untuk pertama
kalinya sepanjang hari ini.
“ acaranya sih ntar malem jam 11!”.
“ hah? Jam 11? Kamu udah gila apa, malem – malem kerumah orang. Lagian, emang mama bakalan kasih kamu izin apa buat keluar malem – malem?”.
“ ya kan ada kakak, jadi kakak harus bantuin Alanza kabur malem ini!”. Aku memasang tampang se-innocent mungkin agar kakakku mau membantuku kabur malam ini.
“ gak, kakak gak mau Za!. Ntar kalo ada apa – apa
, bisa – bisa kakak yang  dibunuh sama mama papa tau!”. Mata kak Hamdan seolah – olah melotot dari tempatnya mendengar permintaanku barusan
“ ayolah kak, sekali ini aja! Bantuin Alanza. Please....please.... mau ya kak.....”. aku merengek – rengek didepan   kak Hamdan untuk melancarkan rencanaku ini.
“ ya deh, tapi janji buat kali ini aja ya!”. Akhirnya kak Hamdan meloloskan permintaanku.
“ terimakasih kakakku sayang.......”. aku langsung berlari untuk memeluk kakak tersayangku itu.


---------------------------------- GHAISAN & ALANZA--------------------------

Jam 23.00
“ Can, handphone kamu berisik tuh! Dari tadi nyanyi – nyanyi mulu! Ganggu orang tidur aja!”.
kak Nazran, kakanya Ghaisan yang awalnya tidur mendadak terbangun karna nada dering handphone Ican yang gak ada capek – capeknya bunyi.
“ kalo berisik matiin aja tuh handphone kak. Yang jelas aku lagi malez bangun, udah pewe didepan Ps!”. Ghaisan orang yang cuek, bahkan stadium cueknya udah melebihi batas normal, sampai – sampai kakanya sendiripun di ketusin.
akhirnya kak Nazran pun mengalah dan bangkit menuju meja tempat dimana si handphone itu berada. Lalu kak Nazran bersuara lagi,
“kamu beneran gak mau ngangkat telponnya Can? Dari Alanza lho! Kasian tau, dia udah telpon kamu lebih dari 20 kali!”. Kak Nazran menyodorkan si handphone ke Ghaisan, tapi tetep aja Ghaisan cuek bebek. Akhirnya demi kenyamanan dan ketentraman seluruh rumah Kak Nazran mematikan handphone Ghaisan.
Tengah malam saat Ghaisan sedang terlelap tidur. Tiba – tiba dia merasakan belaian lembut di rambutnya. Sangat hangat.... belaian yang dirsakannya sudah tak asing lagi.
“ Alanza!!! Kok kamu bisa ada disini? Kamu masuk lewat mana?”. Ghaisan masih tak mengedipkan mata melihat sosok cewek yang dicintainya kini ada di depannya.
‘ssstt...........’  Alan
za mentup bibir Ghaisan dengan jari telunjuknya.
“ jangan berisik, nanti ada yang dengar!. Aku kesini Cuma mau ngucapin ke kamu. Happy Anniversarry yang pertama sayang.....”. Alanza bergerak maju dan mengecup kening Ican.  Ican yang masih shock akhirnya hanya bisa tertegun menat
ap makhluk cantik yang ada didepannya.
“ kok diem? Ican masih marah ya? Maafin Za ya.... please.....!”.  wajah Alanza memelas. Seandainya  cara ini tak berhasil dia sudah tak tahu lagi harus dengan cara apa meluluhkan hati pangerannya ini.
tapi tiba – tiba Ican memeluk Alanza erat.
“ aku udah maafin kamu kug sayang, maafin aku juga ya yang selalu kasar sama kamu!”. Senyum di wajah Alanza akhirnya terbit. Tapi tiba – tiba Ican melepaskan pelukannya.
“ kamu kok dingin banget sayang?, kamu habis ujan – ujan ya?”.
Alanza hanya tersenyum, “ udah sekarang Ican bobok lagi aja ya. Aku bakalan jagain Ican disini!”.
“ kamu janji gak bakalan kemana – mana kan Za?”. Alanza hanya tersenyum menatap Ghaisan.
 Ghaisan mulai merebahkan kepalanya dipangkuan Alanza. Hatinya sangat bahagia karna malam ini dia ditemani oleh kekasih hatinya.


Keesokan harinya.....
“ Can, bangun Can!”. Kak Nazran menggoncangkan tubuh Ghaisan dengan kasar.
“ ah... resek banget sih! Ini kan masih pagi buta gini!”. Ghaisan sewot dan menarik selimutnya lagi untuk melanjutkan tidurnya.
“nih anak susah banget sih dibanguninnya. Ghaisan ayo bangun. Ada Hamdan dibawah nyariin kamu tuh!”.  Ghaisan langsung bangun seketika mendengar bahwa kak Hamdan mencarinya. Dengan tergesa – gesa akhirnya Gahisan turun dan menemui kak Hamdan.
“ ada apa kak? Kok pagi – pagi udah kesini?”.
“ kamu ikut aku sekarang!”. Kak Hamdan menjawab dengan wajah dingin
“ kemana kak?”. Ghaisan masih terheran – heran.
kak hamdan bangkit dan berjalan menuju motornya,  Ghaisan yang nyawanya masih belom lengkap karna baru bangun tidur terpaksa mengikuti langkah kak Hamdan.  Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka berdua.  Saat mereka tiba didepan rumah Alanza, Ghaisa
n masih terbengong – bengong. ‘kok ini rumah jadi rame gini? Perasaan Alanza gak bilang kalo dia mau punya hajatan!’. Kak Hamdan menyeret Ghaisan masuk keruang tengah. Disana terdengar suara berisik. Tapi,’ tunggu.... tunggu.... kok suara berisik itu suara orang nangis?’. Hati Ghaisan mulai tak karuan. Dugaan Ghaisan benar, ada yang tidak beres. Dia melihat sesosok tubuh yang terbalut kain putih disebrang sana, kak Hamdan langsung jatuh lemas dihadapan sosok tak bernyawa itu. dan perlahan saat kain yang mentupi wajah sosok itu dibuka. Terlihat seorang gadis dengan senyum yang sangat cantik. Alanza....
“ gak.... gak mungkin. K
alian semua bercanda kan!. Za.... za.... bangun Za, kamu udah janji buat gak ninggalin aku kan Za?”. Ghaisan mengguncang – guncangkan tubuh Alanza. Berharap masih ada kesempatan untuk dirinya melihat Alanza membuka mata.
“ salahku yang udah izinin dia buat keluar tadi malem,  Alanza bilang jam 11 malem dia mau ngasih kejutan buat kamu. Dia udah bikin kue kesukaanmu. Perasaanku gak enak saat menunggunya pulang, kamu tau apa yang terjadi?, dia tertabrak mobil saat dia pulang dari dari rumahmu. Dan di handphone yang dia genggam saat kejadian itu masih ada sms yang belum ia selesai ketik dan belum terkirim untukmu”. W
ajah kak Hamdan Kuyu melihat adik tersayangnya kini hanya tinggal jasad, dia menyerahkan handpone milik Alanza. Tertulis sebuah pesan yang belum selesai kalimatnya.

To : Ican Sayang
Maavn za ya can, td za udah coba kerumahmu tapi kamu gak mau angkat telponnya za dan gakmau ketemu Za. Ican harus tau kalo za cayank banget ma Ican. Happy annive......

Seketika tubuh Ghaisan lunglai, hawa dingin merasuki seluruh jiwanya yang masih belum merelakan kepergian Alanza. Pertemuan semalam adalah pertemuan terakhirnya dengan kekasih hatinya. Kini, tak ada lagi cinta dan tak akan ada lagi kesempatan. Karna semua akan berubah menjadi penyesalan.

THE END

0 komentar:

 

Miss Double N's Story Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting