Aku tak pernah faham
darimana perasaan ini berasal, yang aku tahu kamu selalu ada disaat dulu aku
patah hati. Saat aku menangis di
gelapnya malam, kamu datang dan ajakku duduk diluar melihat taburan bintang
sambil temaniku dalam diam. Kita tak pernah bicara banyak, karena aku tahu kamu
pendiam dan kamu tak suka bicara. Tapi aku nyaman,
karna aku memang tak pernah butuh orang yang bisa seenaknya mengomentariku dan
sok menasehatiku. Sejak saat itu
duniaku berubah, keberadaanmu membuatku benar-benar merasa memiliki sesorang
yang bisa jadi tempat untukku bersandar. Dan sejak saat itu, aku mulai
menyayangimu seperti seorang kakak bagiku.
Begitupun kamu, kamu
jadi sosok yang menyenangkan, kamu mulai mau banyak bicara denganku. Bercerita
tentang kehidupan dan gadis yang kamu suka sejak kelas 9 itu. Dengan senang
hati aku mendengarkan setiap ceritamu, Menghabiskan waktu
berjam-jam di telpon ataupun mencuri-curi waktu di sela-sela bimbel di hari
sabtu lewat notes yang dikirim via bluetooth. Aku menjadi orang yang
pertamakali bahagia saat kamu bilang kamu sudah jadian dengannya, dan aku juga
menjadi orang pertama yang terluka saat kamu bilang bahwa akhirnya kalian
berdua harus berpisah.
Aku ingat saat itu
hari sabtu, seperti biasa kelas 12 punya jadwal renang rutin bulanan. Saat itu
aku sudah ada di tribun kolam renang dan aku melihatmu datang dengannya. Aku
bahagia, akhirnya kamu bisa bahagia dengan gadis yang sudah 3 tahun kamu suka. Tapi
malamnya kamu menelponku, kamu bilang kalo dia akhirnya mutusin kamu dengan
alasan karena kamu terlalu pendiam dan dia gak dibolehin pacaran sama mamanya.
Hah! Alasan macam apa itu?, aku marah! Ya aku marah! Memangnya apa yang salah
dengan sifat pendiammu itu?, jika dia benar cinta, dia pasti akan bisa menyukai
kediaman itu. Berjam jam aku mencoba menghiburmu, dan akhirnya kita berdua
memutuskan untuk have fun keesokan harinya.
Besoknya kita
memutuskan untuk nonton eclipse. Dan aku rasa itu pilihan yang buruk, karena
eclipse adalah film tersuram yang pernah kulihat. Jalan ceritanya berisi
tentang rasa putus asa yang tak berkesudahan. Dan aku bisa memahami perasaanmu
saat tiba-tiba kamu menyandarkan kepala dibahuku. Sejak saat itu aku memutuskan
untuk selalu menjaga perasaanmu, karena aku ingin kamu bahagia, karena aku
ingin kamu kembali tertawa. Dan sejak saat itu aku mulai menyukaimu dalam diam.
Aku tahu rasa ini
salah, gak seharusnya perasaan ini ada. Gak seharusnya rasa sayangmu aku salah
artikan. Karena aku tahu diri, karena aku gak akan mungkin menggantikan posisi
gadis itu dihatimu. Aku tahu hati kita masih sama-sama terluka, aku karenanya,
dan kamu karena gadis itu.
Pernah suatu hari
kamu bilang sama aku, aku boleh anggep kamu sperti pacarku sendiri. Kamu tahu
saat itu apa yang aku rasakan? Kaget! Gak percaya! Karena bagiku kamu itu sosok
yang hanya bisa untuk kukagumi, karena bagiku kamu adalah bintang, itu sebabanya
aku memanggilmu Oci yang dalam bahasa jepang berarti bintang. Aku terus menerus
menepiskan semua perasaanku yang mulai berekspansi, meyakikan pada diriku
sendiri bahwa aku tak cukup pantas untukmu, bahwa aku gak boleh menyukaimu. Dan
di saat itu, semua kebaikanmu terus mengalir dalam hidupku. Bayangkan bagaimana
rasanya jadi aku?, bayangkan betapa susahnya menahan perasaanku!.
Dan aku masih
mengingat jelas setiap momen manis yang pernah kita lewati berdua. Saat itu
kita pernah ikut tryout bareng di GO dan pulangnya kamu sengaja buntutin aku
dari belakang, kamu bilang kamu gak pengen ada apa-apa sama aku. Kamu juga
bilang sama aku, "Kalo naik motor jalannya disebelah kiri, jangan di
sebelah kanan. Jalur kanan hanya untuk yang mau ngebut...".
Dan pernah juga
temenin aku nyari makam kakak kelas yang jadi cinta pertamaku, saat itu hujan
deras dan kamu paksa aku pake jas hujan dengan alasan karna kamu gak mau asmaku
kambuh dan biarin diri kamu kehujanan.
Kamu juga pernah
nyusulin aku sampe ke kota lain, kamu bilang kamu lagi sumpek. Dan saat kita
ketemu disana, kamu cuma minta aku untuk menemanimu makan bakso. Aku gak bisa
lupa semua itu.
Puncaknya adalah
ketika suatu hari sikapmu berubah, aku sedih? Jelas! Karena aku merasa ada yang
hilang. Aku mencoba mencari cara, mencari waktu dan mencari kesempatan hingga
akhirnya takdir berpihak padaku. Aku mendapatkan kesempatan itu, kesempatan dimana
aku bisa bertanya ke kamu kenapa sikapmu berubah. Dan saat itu kamu menjawab,
kamu punya perasaan yang beda ke aku dari yang pernah kamu rasain sama
cewek-cewek kamu yang dulu. Rasa itu
bukan rasa untuk jadiin aku sebagai pacarmu, tapi rasa ini untuk masa depan...
Aku limbung, aku
kacau, aku gak tau harus bereaksi seperti apa. Senang?, sedih? Aku gak tau
harus apa! Aku kaget! Seorang sepertimu??? Menyukaiku??? Tuhan... Katakan
padaku bahwa aku tidak sedang bermimpi!, katakan padaku bahwa ini realita. Dan
sejak saat itu, kamu mulai menjauh....




0 komentar:
Posting Komentar