Siang ini saat bel istirahat kedua berbunyi, seluruh penghuni SMA Negeri 19 berhambur keluar ke segala penjuru sekolah. Aku salah satu makhluk yang berjubel di dalam kantin hanya untuk segelas es kopyor mbak Sum yang terkenal segar itu. Dan dengan terburu – buru tanpa sengaja aku menabrak seorang kakak kelas dan akhirnya es kopyorku yang menggoda selera tumpah di seragam putihnya.
“Aduh...maaf kak, maaf saya gak sengaja!”. Aku sibuk mengambil gelas yang terjatuh di lantai.
“ makanya neng kalau jalan itu matanya di pakai! ”. Aku langsung spechless di omelin kakak kelas di depan makhluk –makhluk yang ada di kantin. Tapi kok?
“aku kan numpahin kopyornya di kakak yang ini, kok jadi kakak sih yang marah?”. Aku tahu betul siapa yang barusan aku omelin, kak Zain ketua ekskul Perisai Diri. Waduh...siap – siap babak belur deh!.
“udah lah Zain, gak apa – apa kok, kan masih bisa di bersihkan!”.
“ tapi nih adik kelas nanti jadinya makin ngelunjak kalau gak di kasih pelajaran !”. Pelototan mata kak Zain benar – benar bikin aku gak berhenti menelan ludah. Tapi untungnya kakak yang jadi korbanku itu langsung menarik tangan kak Zain dan segera keluar dari kantin. Rasanya badanku lemas seketika. Jadilah aku kembali ke kelas dengan wajah kusut.
“ kamu kenapa Ra?”. Rica malah tersenyum melihat wajah kusutku.
“ kamu sih gak mau nemenin aku ke kantin! Gila, aku tadi di damprat sama kak Zain karna numpahin es kopyor di baju temannya. Haduh.... mampus deh kalau gini ceritanya!”. Tawa Rica meledak seketika. “ hahahahaha masak sih Ra, udah gak apa – apa aku kenal kak Zain kok, dia kan dulu satu SMP sama aku. Jadi kamu aman!”. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Hmm... syukur deh kalau begitu, paling gak reputasiku gak bakalan hancur karena harus berhadapan dengan preman sekolah macam kak Zain.
Semenjak tragedi es kpoyor itu, entah kenapa aku semakin sering memperhatikan kakak kelas yang aku tabrak itu. ada perasaan aneh saat terkadang tatapan kita saling beradu. Daripada otakku makin melayang tak karuan kuputuskan untuk keluar kelas, tapi mau kemana ya? Mumpung jiwa malaikatku sedang baik – baiknya kulangkahkan kaki menuju masjid. Setelah aku melakukan ibadah wajib untuk tuhan tercintaku, aku langsung beranjak keluar dari masjid. Lima menit lagi pelajaran Biologi, gak lucu aja kalau aku gak dibolehin masuk kelas karna terlambat. Aku berjalan cepat untuk mengejar waktu, tapi sepertinya tuhan ingin berikanku hadiah. Coba tebak? Aku berpapasan dengan kakak kelas yang akhir – akhir ini sudah menyita perhatianku. Gak mau sia – sia, aku langsung membaca name tag di dadanya. ‘Arka Raditya’, hmmm.... benar – benar nama yang keren, persis seperti orangnya.
Setelah sekian lama berfikir akhirnya aku menemukan cara untuk mengungkapkan perasaanku kepada kak Arka. dan aku slalu menunggu bel pulang berdering pada hari Rabu. Bukan karna aku gak betah di sekolah, tapi aku menunggu balasan puisi dari kak Arka. Sudah hampir sebulan ini aku dan kak Arka saling berkirim puisi, aku sangat bahagia. Mungkin sebagian orang menganggapku kuno atau apalah. Tapi aku tak peduli, bagiku kata – kata yang dituliskan kak Arka dalam puisinya lebih bermakna dari pada sapaan ‘udah makan belum’, ‘lagi ngapain?’ dan bla bla bla lainnya lewat sms yang biasanya dilakukan para cowok untuk menarik hati para cewek. Saat sekolah sudah benar - benar sepi , aku masuk ke kelas kak Arka, biasanya kami selalu menggunakan kolong meja kak Arka sebagai kotak pos. Dan betapa bahagianya aku saat aku menemukan selembar puisi dari kak Arka. Buru – buru aku memasukkan kertas putih itu kedalam tas dan pulang kerumah dengan perasaan yang tak lagi bisa aku gambarkan.
Sesampainya dirumah, rasanya sudah gak sabar lagi untuk membaca puisi yang Kak Arka tulis untukku. Ku keluarkan kertas putih itu. terlihat deretan kata – kata yang kak Arka tulis untukku. Ku telusuri kata – kata itu, satu persatu. Indah bahkan sangat indah. Ku baca bait terakhirnya. ‘maka persahabatan yang kau ujar kan jadi kentara’. ‘PERSAHABATAN’. Yah.... aku tak berani mengharapkan lebih dari 12 huruf itu. untuk menampakkan diriku saja aku masih belum mempunyai keberanian apalagi untuk mengungkapkan perasaan yang lebih. Aku menghela nafas panjang, Kak Arka.... andai kakak tau apa yang aku rasakan kini. Tapi ya sudahlah, harusnya aku bersyukur bisa sedekat ini dengan orang yang aku cinta. Meski hanya lewat puisi.
Namun tak pernah terfikir bahwa puisi itu menjadi puisi terkhir dari kak Arka, karna hari – hari selanjutnya aku tak lagi bertemu dengannya. Aku sudah berusaha mencari keberadaan kak Arka, tapi hasilnya nihil. Ini hari keenam kak Arka menghilang tanpa kabar. Dan malamnya saat aku terlelap tidur karena lelah memikirkan keberadaan kak Arka. aku melihat sosok putih disana, semakin aku mendekat semakin jelas sosok itu. Kak Arka, dia tersenyum padaku. Aku menghampirinya, dia menggenggam tanganku erat dan aku hanya bisa mengikuti langkah kakinya yang membawaku berjalan entah kemana. Aku berjalan dalam diam, sampai akhirnya kita berdua sampai pada sebuah bukit dan aku bisa melihat jutaan cahaya di bawah sana yang berkelap – kelip indah, sungguh... pemandangan yang sangat menakjubkan dan ini belum pernah aku lihat sebelumnya. Sejurus kemudian kak Arka menatapku, aku kini hanya berjarak 5 cm dari kak Arka. Tatapannya membuat seluruh sistem saraf dalam tubuhku berhenti berfungsi. Sekujur tubuhku lemas. Ku beranikan diri untuk memecah suasana yang hening ini.
“ Kak Arka kemana saja? Kok sudah 6 hari ini gak masuk sekolah?”. Ku tatap lagi wajah kak Arka, tapi dia hanya tersenyum.
“ Kamu suka tempat ini?”. Aku mengangguk kecil.
“ sebenarnya aku pengen jujur sama kakak, tapi aku mohon kakak jangan marah ya!”. Kali ini kak Arka memeluku erat, “ bilang saja!”. “jujur, semenjak peristiwa es kopyor dikantin itu aku mersakan perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada getaran aneh saat aku menatap wajah kakak, selama ini aku berbohong. Dalam puisiku aku bilang kalau aku mengharapkan kakak untuk jadi sahabatku, tapi sebenarnya aku mengharapkan lebih dari itu kak, aku cinta kakak”. Aku mengeratkan pelukanku, aku tak ingin kak Arka melepaskan pelukannya. Beberapa detik kemudian kuberanikan diri untuk menatap wajah kak Arka. Dia tersenyum sambil mengusap rambutku.
“ biar semua yang kamu rasakan ini ku simpan dalam hati Cira, biar semua yang terjadi menjadi abadi dalam kenagan kita berdua. Kamu harus wujudkan semua yang tlah aku tulis dalam puisiku untukmu. Karna aku pasti akan bahagia saat kamu bisa menjadi dirimu sendiri dan gak lagi takut menghadapi dunia”.
“ Cira janji kak, Cira akan jadi diri Cira sendiri.....”. perlahan kurasakan pelukan kak Arka semakin melemah dan menghilang perlahan bersama senyumnya, ingin aku mengejarnya, tapi langkah ini tertahan. “Kak Arka jangan pergi........”. kring.....kring...... alarm jam wekerku berbunyi, membangunkanku dari mimpi indah yang sebenarnya tak ingin ku tinggalkan.
Aku datang telat ke sekolah pagi ini, dengan mengarahkan seluruh energi hasil sarapanku pagi ini, aku berlari ke dalam kelas gar tak terlambat saat pelajaran biologi. Sempat aku menoleh ke kelas kak Arka, tapi bangku itu kosong. Ku putuskan untuk masuk kedalam kelasku yang sudah ramai. Tapi baru saja aku duduk, terdengar suara pengumuman dari mikrofon sekolah yang langsung membuat seluruh isi sekolah terdiam.
“ Innalillahi wainna ilaihi raji’un, telah meninggal dunia pada hari ini pukul 02.00 pagi, siswa kita Arka Raditya dari kelas XI Bahasa di karenakan demam berdarah. mohon untuk seluruh guru dan siswa berhenti sejenak melakukan aktifitas agar kita bisa berdoa bersama untuk siswa kita Arka semoga amal ibadahnya diterima oleh yang maha kuasa. Alfatihah.....”. seketika itu Air mataku tak terbendung lagi,hawa dingin merasuki sekujur tubuhku. Arka Raditya pangeran yang membuatku merasakan apa itu cinta harus pergi ninggalin dunia ini untuk selamanya. Aku tak menyangka kisah cintaku harus berakhir dengan pertemuan singkat malam itu. Arka, kupersembahkan cinta ini untukmu. Ku ingin kamu bahagia di alam sana, kamu akan melihatku berubah Arka. Demi kamu, dan demi cinta kita......



