Kamis, 18 April 2013

Never Getting Back Together



Aku terduduk sendiri dalam kamarku yang segaja kubiarkan gelap. Sepintas kulihat tirai di jendela berkibar pelan, memberikan kesejukan di hatiku yang sedang rapuh.
Aku menatap, foto itu. Fotoku dan arnold yang sedang berpose di air terjun kakek bodo yg kami datangi saat liburan imlek tahun lalu.
Air mataku jatuh beruraian, aku menangis tersedu-sedu mengingat stiap kenangan manis yang tiba-tiba berputar di otakku.
" Semua ini salahku, kalo saja bukan karna hal bodoh yang kulakukan pasti Arnold masih disini, memelukku.."


Otakku berputar pada kejadian malam itu, tiba-tiba Arnold datang ke toko tempatku bekerja. Kontan aku kaget, karna setahuku saat itu harusnya Arnold sedang ada di luar kota untuk mengurus kuliahnya.
Sepulang kerja aku menemuinya, malam itu entah kenapa terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya, sekilas terlihat wajah Arnold tampak kusut dan lelah. Ada banyak beban yg menumpuk disana.
" Jawab jujur pertanyaanku Rel, kenapa kamu masih berhubungan dengan vicky?". Arnold membuka percakapan dengan nada dingin.
Aku hanya tertunduk diam...
"Kamu gak bisu kan Rel? Jawab pertanyaanku!!". Kali ini dia membentakku dengan tatapannya yang nanar.
"Aku cuma berteman, gak lebih...". Suaraku parau, jujur aku ketakutan saat itu.
"Bukannya kita bertiga sudah pernah membicarakan hal ini, kamu dan dia udah sepakat buat gak berhubungan lagi! Kenapa sekarang harus terjadi lagi Rel!!!!?".

Lagi-lagi aku hanya menunduk diam, aku tau aku yang salah. Aku yang memulainya. Slama ini Arnold sudah cukup bersabar menghadapi semua tingkahku. Tapi aku, masih saja bermain-main dengan kepercayaan yang Arnold berikan. Sungguh aku menyesal. Aku merasa bahwa semuanya percuma. Semua alasan yang akan aku berikan pada Arnold tak akan dipercayainya. Aku memang bersalah!!
Aku mulai menagis dihadapannya, dan itu membuat Arnold semakin marah, karna dia paling benci melihatku menangis.
"Kalo kamu gak mau jawab pertanyaanku, aku akan pergi!". Arnold beranjak dari tempat duduknya, aku tak mau dia pergi. Aku menarik tangannya dengan kuat. Dan Arnold pun mengalah, ia duduk lagi bersamaku.
"Aku tau aku salah, ini semua aku yang mulai. Aku mohon maafkan aku..". Air mataku mulai berjatuhan, perih rasanya jika aku harus memikirkan Arnold pergi dari hidupku. Ya tuhan.. Aku mencintainya, sangat sangat mencintainya.

"Maafkan katamu?". Arnold menoleh kearahku. "Ini untuk ketiga kalinya kamu kayak gini Rel. Kamu pikir kesabaranku gak ada batasnya?. Ini udah kelewatan!!!".

Aku menarik nafas panjang, semuanya terasa beku. Jantungku seolah berhenti berdetak. Tuhan.. Apa yg harus aku lakukan sekarang?

Arnold melanjutkan bicaranya..
" Ya udahlah, udah gak ada lagi yang bisa d pertahankan. Asal kamu tau aja, aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk bilang ke kamu kalo hubungan kita berakhir sampai disini. Aku mohon jangan pernah ganggu aku. Jangan pernah sms atopun telpon aku. Dan ini untuk terakhir kalinya kita bertemu!".

Aku tercekat, kata-kata yang keluar dari bibir Arnold barusan seolah menjungkir balikkan semuanya. Duniaku padam seketika. Dan aku seolah terlepas dari jiwaku. Aku tak mampu mengucap satu katapun, yang ada hanyalah air mataku yang keluar deras membasahi ke dua pipiku.

"Aku pergi Rel!". Arnold mengambil sepedanya dan beranjak pergi. Tapi aku tak ingn kehilangan dia. Aku mencengkram erat sepedanya, tapi apa daya, tenaganya lebih kuat dariku. Dia menghempaskan tanganku begitu saja dan berlalu pergi.

Aku menangis dalam kegelapan, hatikuku pun turut meraung kesakitan. Aku terduduk lemas memandangnya pergi. Aku tau semuanya berakhir. Tak ada lagi Arnold slalu menemani hariku, tak ada lagi matahariku. Semuanya berakhir dan semuanya telah padam...

0 komentar:

 

Miss Double N's Story Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting