Aku terduduk
sendiri dalam kamarku yang segaja kubiarkan gelap. Sepintas kulihat tirai di
jendela berkibar pelan, memberikan kesejukan di hatiku yang sedang rapuh.
Aku menatap, foto
itu. Fotoku dan arnold yang sedang berpose di air terjun kakek bodo yg kami
datangi saat liburan imlek tahun lalu.
Air mataku jatuh
beruraian, aku menangis tersedu-sedu mengingat stiap kenangan manis yang
tiba-tiba berputar di otakku.
" Semua ini
salahku, kalo saja bukan karna hal bodoh yang kulakukan pasti Arnold masih
disini, memelukku.."
Otakku berputar
pada kejadian malam itu, tiba-tiba Arnold datang ke toko tempatku bekerja.
Kontan aku kaget, karna setahuku saat itu harusnya Arnold sedang ada di luar
kota untuk mengurus kuliahnya.
Sepulang kerja aku
menemuinya, malam itu entah kenapa terasa lebih dingin dari malam-malam
sebelumnya. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya, sekilas terlihat wajah
Arnold tampak kusut dan lelah. Ada banyak beban yg menumpuk disana.
" Jawab jujur
pertanyaanku Rel, kenapa kamu masih berhubungan dengan vicky?". Arnold
membuka percakapan dengan nada dingin.
Aku hanya
tertunduk diam...
"Kamu gak
bisu kan Rel? Jawab pertanyaanku!!". Kali ini dia membentakku dengan
tatapannya yang nanar.
"Aku cuma
berteman, gak lebih...". Suaraku parau, jujur aku ketakutan saat itu.
"Bukannya
kita bertiga sudah pernah membicarakan hal ini, kamu dan dia udah sepakat buat
gak berhubungan lagi! Kenapa sekarang harus terjadi lagi Rel!!!!?".
Lagi-lagi aku
hanya menunduk diam, aku tau aku yang salah. Aku yang memulainya. Slama ini
Arnold sudah cukup bersabar menghadapi semua tingkahku. Tapi aku, masih saja
bermain-main dengan kepercayaan yang Arnold berikan. Sungguh aku menyesal. Aku
merasa bahwa semuanya percuma. Semua alasan yang akan aku berikan pada Arnold
tak akan dipercayainya. Aku memang bersalah!!
Aku mulai menagis
dihadapannya, dan itu membuat Arnold semakin marah, karna dia paling benci
melihatku menangis.
"Kalo kamu
gak mau jawab pertanyaanku, aku akan pergi!". Arnold beranjak dari tempat
duduknya, aku tak mau dia pergi. Aku menarik tangannya dengan kuat. Dan Arnold
pun mengalah, ia duduk lagi bersamaku.
"Aku tau aku
salah, ini semua aku yang mulai. Aku mohon maafkan aku..". Air mataku
mulai berjatuhan, perih rasanya jika aku harus memikirkan Arnold pergi dari hidupku.
Ya tuhan.. Aku mencintainya, sangat sangat mencintainya.
"Maafkan
katamu?". Arnold menoleh kearahku. "Ini untuk ketiga kalinya kamu
kayak gini Rel. Kamu pikir kesabaranku gak ada batasnya?. Ini udah
kelewatan!!!".
Aku menarik nafas
panjang, semuanya terasa beku. Jantungku seolah berhenti berdetak. Tuhan.. Apa
yg harus aku lakukan sekarang?
Arnold melanjutkan
bicaranya..
" Ya udahlah,
udah gak ada lagi yang bisa d pertahankan. Asal kamu tau aja, aku jauh-jauh
datang kemari hanya untuk bilang ke kamu kalo hubungan kita berakhir sampai
disini. Aku mohon jangan pernah ganggu aku. Jangan pernah sms atopun telpon
aku. Dan ini untuk terakhir kalinya kita bertemu!".
Aku tercekat,
kata-kata yang keluar dari bibir Arnold barusan seolah menjungkir balikkan
semuanya. Duniaku padam seketika. Dan aku seolah terlepas dari jiwaku. Aku tak
mampu mengucap satu katapun, yang ada hanyalah air mataku yang keluar deras
membasahi ke dua pipiku.
"Aku pergi
Rel!". Arnold mengambil sepedanya dan beranjak pergi. Tapi aku tak ingn
kehilangan dia. Aku mencengkram erat sepedanya, tapi apa daya, tenaganya lebih
kuat dariku. Dia menghempaskan tanganku begitu saja dan berlalu pergi.
Aku menangis dalam
kegelapan, hatikuku pun turut meraung kesakitan. Aku terduduk lemas memandangnya
pergi. Aku tau semuanya berakhir. Tak ada lagi Arnold slalu menemani hariku,
tak ada lagi matahariku. Semuanya berakhir dan semuanya telah padam...




0 komentar:
Posting Komentar