Kamis, 18 April 2013

Aku Bukan Bagian Altamirano



Pagi ini semuanya terlihat berbeda, aku melangkah gontai melewati kelas yang dulu menyimpaan sejuta kenangan indah diotakku. Pikiranku mulai melayang tak karuan menjebakku dalam berbagai memori yang tak pernah akan bisa terhapus.
“ Woi..... pagi – pagi udah bengong disini!”. Teriakan Phia berhasil membawaku kembali ke alam nyata. “ Ayo ke kelas Ra, PR ku belum selesai nih....”. Aku hanya bisa pasrah saat phia menarikku untuk pergi ke kelasku sendiri. Hampir semua anak sibuk dengan tugas mereka sendiri, termasuk Phia sahabatku. Aku lebih memilih untuk menyendiri dan menatap jendela yang ada di seberang kelas. Tak terasa butiran air mata menetes dan membentuk sungai kecil di pipiku. “ Ra, kamu gak papa kan? Kamu ke inget lagi ya?, udah dong Ra kamu harus semangat, life must go on. Okay!”. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Phia, tapi semuanya tak semudah yang phia katakan. Aku masih belum sanggup.

            Tet....tet...tet...... suara bel pulang membuat suasana kelas yang mulanya sepi meledak menjadi teriak kemenangan anak – anak setelah seharian di jejali berbagai macam materi ipa yang sangat menguras tenaga agar bisa terserap otak. Kelas tersa begitu sesak dipenuhi anak – anak yang udah pada gak sabar buat pulang kerumah masing – masing.

“ Ra, kamu gak pulang?”. “ kamu pulang duluan aja phi, aku masih pengen disini!”
“ tapi janji ya, sebelum jam 5 sore kamu udah harus nyampe rumah. Aku gak mau orang rumahmu panik karna kamu ngilang lagi. Okay!”. Aku mengangguk kecil untuk membuat phia yakin dan meninggalkanku sendiri. Aku tau aku sedang berbohong, tapi ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Sesuatu yang mungkin sanggup mengobati rasa yang aku sendiri tak sanggup tuk gambarkan. Ku langkah kan kakiku menuju tempat luas yang diisi oleh gundukan – gundukan pasir yang bernama. Di salah satu gundukan itu aku kini berada. Hatiku benar – benar hancur saat aku teringat bahwa dia takkan pernah kembali lagi. Pangeran yang sanggup membuat duniaku berharga di dalam keterpurukanku, pangeran yang memberikanku cinta tulus yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Aku menyesal saat dia harus pergi tanpa pernah mendengar dari bibirku bahwa aku sangat mencintainya. Aku menagis meluapkan rasa sedih yang tak sanggup ku tahan lagi. entah berapa lama aku menemani jasad Arka disini. Aku tak ingin membiarkannya sendiri dalam kegelapan.

Yang ku tahu, aku sudah terbangun dalam kamarku. Ku lihat ayah, ibu, dan Phia menatap khawatir ke arahku. “Ra, kamu gak apa – apa kan?”. Aku hanya bisa membalas dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian aku mulai terisak.
“ aku gak mau Arka pergi bu, aku gak mau arka ninggalin aku sendiri disini. Aku cinta Arka bu,.....”. tangisku pecah untuk kesekian kalinya dalam pelukan ibu.
“ Ibu mengerti Ra, tapi kamu harus bisa mengikhlaskan Arka. Biarkan dia tenang di alam sana. Kamu harus percaya bahwa tuhan akan slalu menjaga Arka buat kamu nak...”.
“ harusnya bukan Arka yang pergi, harusnya aku yang pergi...”
“ Ra, kamu gak boleh ngomong gitu. Ini semua udah jadi kehendak tuhan. Arka lebih milih nyelametin kamu daripada nyawanya sendiri karna Arka tau kamu cewek yang kuat dan kamu bisa mewujudkan imipian yang udah kalian berdua impikan”. Sambil mengusap air mataku phia melanjukan wejangannya. “ kamu gak sendiri Ra, masih ada aku, ayah dan ibu kamu yang slalu bakalan ada buat kamu”. Aku udah gak bisa berkata – kata lagi, terlalu rumit perasaan yang aku rasakan sampai aku tak sanggup menggambarkannya dalam kata – kata. 

            Setahun berlalu, perlahan – lahan aku sudah bisa mengikhlaskan kepergian Arka. Aku menjalani hari – hariku seperti biasa. Siang ini, sepulang sekolah aku menunggu Phia yang sedang latihan fotografi di kantin sekolah. Aku gak sendiri karna Sisca and the gank juga ikutan duduk sebangku bersamaku. Sambil menikmati es kopyor yang tinggal setengah, aku mendengar Sisca sedang meggosipkan seseorang.
“ guys, kalian udah pada ketemu si Aruna belom? Itu tuh si cowok baru pindahan dari Luar negeri itu!”.  Kedua teman Sisca mengangguk berbarengan. “ ya aku udah liat tadi, hmmm..... sumpah ya cakep banget!”. Nita menimpali pertanyaan Sisca sambil mengerjap – ngerjapkan matanya genit. Pandangan Sisca beralih ke arahku yang sedari tadi hanya diam sambil mengaduk – aduk gelas. “kamu udah ketemu cowok itu Ra?”. Aku hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan acara mengaduk gelasku. “Kasian banget sih kamu Ra, cantik tapi aneh!”. Nita menatap ilfeel kepadaku.
“ kalian tau gak sih, Aruna si cowok cakep anak baru itu kabarnya masih jomblo loh!”. Sisca bicara dengan suara cemprengnya yang khas sambil mengibaskan rambutnya. Tak mau ketinggalan Lena yang sedari tadi sibuk kipas – kipas karna kepanasan ikut meyahut. “ hah...? masak sih Sis? Cowok se ganteng Aruna gitu loh, belom punya pacar?”. Nita ikut menimpali, “ wah... kira – kira siapa ya yang beruntung jadi ceweknya si Aruna?, pasti aku! Secara.... aku kan yang paling cantik!”. Ucapan  Nita barusa berhasil memicu keributan antara Sisca, Lena dan Nita untuk memperebutkan siapa yang tercantik di antara mereka dan berhak mendapatkan si anak baru itu. Jujur aku paling gak suka melihat sekumpulan cewek kurang kerjaan sperti mereka yang memperbutkan hal gak jelas kayak gitu. Jadi, ku putuskan untuk angkat kaki dan pindah ke gazebo sekolah yang lebih adem dan terbebas dari keharusan mendengarkan celotean sisca and the gank. tanpa aku sadari tiba – tiba soerang cowok duduk di depanku.
“ ngapain kamu di sini sendirian?”. Cowok itu menanyaiku denga gayanya yang cool sambil mengusap keringatnya yang bercucuran. Aku hanya diam, malas menanggapi omongan orang yang gak aku kenal. “Hey, kamu kok diam saja? Siapa namamu?”. Lagi – lagi aku hanya diam. “ C.I.R.A. oooo..... jadi nama kamu Cira?, kenalin namaku Aruna!”. Dengan pedenya cowok itu menyodorkan tangannya kepadaku. Aku hanya melihat tangan itu dan tak bereaksi apapun. Tak lama setelahnya Phia datang. “ sorry Ra, kelamaan ya nunggunya? Tadi aku masih ada urusan gitu sama pembina!” aku hanya tersenyum membals permintaan maaf Phia. Tiba – tiba si Aruna ikutan angkat bicara.
“ loh kamu Cira ini teman kamu Phi?”.
“ ya, kenapa?” Phia berbalik menatap Aruna dengan tatapan khas tokoh faovoritnya, detektif conan.
“gak papa sih, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya!”. Setelah Aruna pergi, Aku dan Phia juga ikutan pergi dan kembali ke rumah.
 Semenjak pertemuan itu Aruna lebih sering mendekatiku, entah sudah ke berapa kalinya dia memberikan coklat yang pada akhirnya bermuara di perut Phia, dan entah sudah kesekian kalinya aku menolak ajakannya untuk keluar bareng. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari Aruna, tapi entahlah aku tak mau repot – repot memikirkannya. 

            Aku berdiri di depan jendela kamar, menatap langit kosong yang kelam malam ini. Aku menarik nafas panjang, aku tak ingin larut dalam kesedihanku karna kehilangan Arka.
Ting... tong...ting.... tong......
Terdengar suara bel dari luar rumah, aku beranjak turun dari kamar. Tak ada sorangpun di ruang keluarga ataupun ruang tamu. Saat aku membuka pintu, seorang pria tengah baya berdasi dan menggunakan tuksedo membungkuk dengan hormat. Siapa pria ini? Pikirku dalam hati. Pakaiannya terlalu resmi untuk seorang kurir pengantar surat yang ada di genggamannya.
“ Anda siapa?”.
“ Nona Cira?”, aku terkaget orang ini memanggilku dengan sebutan nona. Entah dari mana tiba – tiba ayah sudah berada di sampingku dan menyuruhku untuk masuk kamar. Tapi aku merasa ada yang aneh dari orang ini. Jadi kuputuskan utuk menguping pembicaraan ayah dari ruang makan. Terdengar suara pria tadi memulai pembicaraan dengan ayah.
“ Benar yang saya lihat tadi Nona Cira pak?”. Kemudian terdengar suara ayah yang satu oktaf lebih tinggi. “ya, tapi sudah jangan bicarakan tentang Cira disini saya gak mau Cira tahu tentang semuanya!”. Ucapan ayah barusan berhasil membuatku terhenyak, apa yang sebenarnya disembunyikan ayah dariku. Kulihat orang itu menyerahkan amplop coklat yang langsung ayah masukkan kedalam saku celannya. Ada sesuatu yang mengusik batinku. Aku harus mencari tau tentang rahasia yang disembunyikan ayah tentang aku. Aku harus tau!.

            Aku menunggu berhari – hari untuk menunggu waktu yang pas menyelinap masuk ke dalam kamar ayah. Saat aku sudah berhasil masuk, aku mulai mencari amplop coklat yang di berikan pria itu ke ayah. Aku meng obrak – abrik isi kamar ayah tapi amplop itu tak kutemukan. Sampai akhirnya aku terduduk di lantai karna kelelahan, aku melihat sebuah kotak di bawah tempat tidur. Aku mengambil kotak itu dan membawanya ke kamar. Aku menemukan tabungan dengan saldo fantastis yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Kemudian aku lihat sebuah foto yang wajahnya tak asing bagiku, Aruna. dan sebuah kalung yang pernah Arka pakai semasa hidupnya dengan huruf A sebagai liontinnya. Aku bingung dengan semua ini, muncul sejuta pertanyaan dalam benakku. Siapa Aruna sebenarnya dan apa hubungan Arka dan Aruna dan juga Aku. Aku yang tak sabar segera turun dari kamar saat ayah dan ibu pulang.
“ayah harus jujur sekarang, ayah gak boleh bohong lagi. Aku harus tahu apa maksud dari semua ini!”. Aku menunjukkan kalung Arka dan foto Aruna dengan air mata bercucuran pada ayah dan ibu yang berdiri mematung karna kaget.
“ Cira, sabar dulu ya nak. Nanti akan ayah jelaskan padamu tentang semua ini!”
“enggak, aku mau sekarang juga ayah jelskan semua ini!”. Karna aku terus menerus memaksa, akhirnya ayah mengajakku pergi ke sebuah rumah besar dan mewah yang belum aku pernah datangi sebelumnya. Saat aku memasuki rumah tersebut  aku melihat orang yang mengantarkan amplop kerumah ayah dan Aruna yang sudah duduk dengan pandangan sayu terhadapku. Tatapanku nanar, aku marah karna aku merasa dibohongi slama ini. Suasana menjadi sunyi sampai Aruna memecah keheningan. “ aku akan menjelaskan semuanya Ra, dari awal sampai akhir tapi aku mohon kamu bisa terima semuanya”. Aku mengarahkan tatapan dinginku ke Aruna dan membuatnya mulai bercerita.
“ sebenarnya kita terlahir sebagai saudara Ra.  Aku, Arka dan kamu. Papa adalah seorang keturunan  Spanyol dan mama berasal dari Bandung. Setelah dua tahun mereka menikah mama melahirkan anak kembar, aku dan Arka. Tapi, karna papa bersal dari keluarga kerajaan Altamirano maka mama harus merelakan Arka untuk di titipkan ke nenek yang ada di Bandung dan aku tatap dalam asuhan mama di spanyol karna peraturan kerajaan hanya memperbolehkan keturunan raja mempunyai satu anak. Setahun kemudian ternyata mama hamil dan mama gak mau menggugurkan kandungannya, akhirnya mama kabur kerumah ibu Alya yang slama ini jadi ibu kamu. Beliau adalah sahabat mama dari kecil. Setelah melahirkanmu mama harus kembali ke spanyol karna keluarga kerajaan mulai curiga dengan kepergian mama. Kerajaan mulai runtuh saat spanyol mengalami krisis hebat. Papa meninggal karena depresi dan setahun yang lalu mama pada akhirnya meniggal dalam kecelakaan mobil saat akan pulang kerumah nenek di Bandung. Aku sedih Ra kehilangan kedua orang tua dan bertambah sedih saat aku tau bahwa sudara kembarku juga sudah meninggal. Tapi nenek memberi tahuku kalau aku masih punya seorang adik perempuan. Semenjak itu aku terus mencari tahu keberadaaanmu dari rekening bank yang slalu mama kirim untukmu. Aku tak mau kehilangan satu – satunya keluargaku Ra. Aku mohon kamu mengerti!”. Aruna menagis bersimpuh dan meminta maaf dihadapanku. “ gak, aku gak bisa terima semua ini, kamu jahat Aruna! Kamu bisa merasakan kasih sayang mama dan papa sedangkan aku tidak. Dan Aku mencintai Arka yang ternyata kakaku. Aku gak ngerti dengan semua ini!!!”. Amarah, tangis dan dendam bercampur menjadi satu dalam hatiku. Aku berlari dan terus berlari meninggalkan orang – orang yang sedari tadi mengejarku. Hingga sesuatu yang keras menghantamku dan membuatku seperti melayang di udara. Bebas tanpa beban dan aku melihat Arka, mama dan papa disana. Aku bahagia bisa berkumpul dengan semuanya meski harus meninggalkan Aruna di dunia yang berbeda. Maafkan aku Aruna, aku juga ingin merasakan keabahagiaan yang sama seperti yang kamu rasakan.

THE END

0 komentar:

 

Miss Double N's Story Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting