***One....
Aku mengamati
statusnya yang muncul di beranda facebookku. Sepertinya dia sudah punya pacar
baru yang bisa membuat hatinya berbunga - bunga seperti ini. Hemm.....
Baguslah, setidaknya dia sudah bisa move on dariku. Dan aku gak harus merasa
bersalah terus menerus seperti ini. Aku bangkit dari kursi dan melangkah keluar
dari kelas yang sudah kosong sejak 10 menit yang lalu.
"Kak
Nisa.....", seorang gadis menghentikan langkahku sebelum aku melewati
pintu. Aku mengamati gadis yang ada dihadapanku ini, anaknya tinggi, kulitnya
agak kecoklatan, rambutnya pendek, tapi lumayan manis untuk dipandang..
"Kakak bener
yang namanya Nisa kan?". Tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ada
apa?", tanyaku singkat.
"Bisa kita
ngobrol sebentar?", gadis itu berjalan kearah kursi dan aku mengikutinya.
"Kakak gak
keberatan kan kalo aku menanyai kakak tentang Kak Bayu?". Aku menatap
gadis itu lurus - lurus, berbagai macam pertanyaan mendadak muncul di kepalaku.
"Kamu
siapa?", tanyaku dengan nada agak ketus. Sungguh moodku bisa langsung
berubah buruk saat mendengar nama Bayu disebut.
"O ya, aku
lupa. Namaku Aina Kak. Aku angkatan 2012....". Jawabnya dengan nada ceria.
"Lalu?, untuk
apa kamu bertanya tentang Bayu?". Raut wajah gadis itu mendadak berubah.
"Hemm....
Sebenernya aku sudah jadian sama Kak Bayu sejak seminggu yang lalu. Tapi aku
merasa kak Bayu gak bisa menerima aku sepenuhnya Kak.....". Aina menatap
wajahku dengan tatapan sedih, "Dan aku rasa ini semua karna Kak Bayu masih
belum bisa melupakan kakak...". Tuturnya dengan mata berkaca - kaca.
"Gak ada yang
penting kok yang harus aku ceritain, dan satu hal yang harus kamu tau!. antara
aku dan Bayu gak pernah ada hubungan apapun, kita berdua hanya berteman dekat,
tapi itu dulu, sekarang sudah gak lagi!". Kataku menegaskan.
"Tapi kak,
kak Bayu masih bersikap dingin sama aku. Dan kata temen - temen deketnya kak
Bayu, kak Bayu begitu karna masih suka sama kakak....". Tangis Aina pecah
dihadapanku, mendadak ada rasa iba yang muncul dihatiku. Aku menyodorkan tisu
ke arahnya, dia mengambil sehelai dan mengusap matanya yang basah.
"Aku juga gak
tau kenapa dia begitu sama kamu, dan aku juga gak mau ikut campur sama hubungan
kalian. Yang penting adalah, aku sudah gak ada hubungan apa - apa lagi sama
Bayu dan kamu bisa percaya itu!". Aku bangkit dari kursi dan melangkah
keluar kelas meninggalkan Aina yang masih terisak sendirian.
****
"Bisa kamu
jauhi Aina?", seorang cowok yang tiba - tiba duduk dihadapanku saat aku
sibuk meniup niup secangkir hot coklat yang barusan diantar olah pelayan cafe
ke mejaku. Aku mendongak, mengalihkan perhatianku pada sumber suara itu.
"Aku gak
pernah mendekatinya, jadi apa yang harus kujauhi?". Tanyaku balik pada
sosok bermata dingin dihadapanku ini.
"Beberapa
hari ini aku sering melihat Aina menemuimu, aku yakin dia pasti mengadu tentang
sikap dinginku padamu!". Sahutnya dengan nada angkuh.
"Lalu?, apa
masalahnya denganku?". Balasku.
"Aku gak
ingin ada orang lain yang ikut campur hubunganku dengan Aina...". Jawabnya
geram.
"Denger ya
Bayu, aku sama sekali gak tertarik dengan hubungan percintaan kalian!. Kalo
Aina datang menemuiku, itu karna keinginannya sendiri. Dan aku tak pernah
menggubrisnya!. Kalo kamu ingin Aina berhenti merongrongku dengan
keingintahuannya tentang masa lalu kita lebih baik kamu sendiri yang
melarangnya!, kamu kan PACARNYA!!!". Sengaja aku memberikan penekanan pada
kata yang terakhir itu, agar bayu sadar bahwa dia sudah mengambil keputusan
untuk bersama orang lain, dan aku benar - benar jengah jika harus menjadi
kambing hitam atas sikap dinginnya kepada Aina. Aku bangkit dan meninggalkan
café. Aku berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang dan memutuskan untuk duduk di
sebuah bangku taman. Aku gak habis fikir dengan semua tindakan Bayu, cowok itu!
Jalan pikirannya susah untuk ditebak. Dan aku sudah benar-benar tak ingin memikirkannya
lagi sejak dia tiba-tiba memutuskan untuk menjauh dariku.
*****
Hari ini jam
kuliah selesai lebih awal. "Kamu langsung pulang Nis?", tanya Ane,
sahabatku. Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. "Emang kamu mau pulang
Ne?", tanyaku balik.
"Hemm.....
Enggak! Aku mau ke kantin dulu! Laperr....". Jawabnya sambil memegang
perut datarnya. "Temenin dong Niss.....". lanjut Ane. Aku mengangguk
pelan, "kamu duluan ajah Ne, aku ke kamar mandi dulu nanti aku susulin
kamu".kataku sambil melangkah kearah kamar mandi meninggalkan Ane.
Didepan kamar
mandi aku melihat sepasang cowok cewek sedang bertengkar hebat, aku tak bisa
melihat dengan jelas wajahnya karna mereka membelakangiku. Si cewek berteriak
teriak gak jelas sambil nangis, sedangkan si cowok hanya diam mematung.
Sebenernya aku sudah kebelet banget pengen ke toilet, tapi aku juga gak enak
kalo harus memotong acara pertengkaran mereka. Sekitar lima menit aku menunggi
mereka sampai akhirnya nada sms dari handphoneku secara gak langsung
memberitahukan keberadaanku pada mereka, dengan kompak mereka menoleh dan
betapa terkejutnya aku saat aku menyadari mereka adalah Bayu dan Aina. Aina
langsung berhambur lari kearahku dan memelukku, menumpahkan seluruh amarahnya
di pelukanku. Otakku yang masih memproses kejadian yang barusan terjadi ini
membuatku hanya bisa terdiam sampai akhirnya Bayu meninggalkan Aina yang masih
menangis dipelukanku tanpa berkata-kata. Perlahan aku melepaskan pelukan Aina,
dan mengambil tissue dari tasku lalu menyodorkannya. Aku menariknya kedalam
toilet dan mengunci pintu toilet dari dalam agar tak ada orang lain yang masuk,
seluruh hasrat ingin pipisku mendadak musnah. Aku membiarkan Aina yang masih
sesenggukan. Setelah tangisnya benar-benar reda, aku baru membuka suara.
"Sudah
selesai nangisnya?", kataku sambil memandangi matanya yang sembab dan
memerah. Aina mengangguk pelan.
"Kak Bayu jahat kak, dia mutusin aku tadi.....". Aina
membuka percakapan dengan nada masih terisak. Aku hanya diam. "Dia bilang,
aku masih seperti anak TK yang sering menuntut perhatian lebih darinya. Dan dia
gak tahan dengan sikapku itu....". Lanjutnya, kali ini sebutir air mata
meluncur bebas ke pipinya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya,
sebenarnya aku tak tega melihat Aina managis seperti ini terutama karna Bayu,
hatinya masih sangat rapuh menghadapi perlakuan Bayu yang dingin. Tapi aku
sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mencampuri urusan mereka lagi.
"Kamu sudah
memilih untuk mencintainya kan?", tanyaku pada Aina. Dia mengangguk lemah,
aku bisa merasakan sorot ketulusan terpancar di wajahnya.
"Kamu harus
kuat dan bertahan jika kamu meyakini bahwa apa yang telah kamu pilih adalah hal
yang benar!". Kataku sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar mandi
meninggalkannya sendirian.
Dengan langkah
tergesa - gesa aku berjalan kearah kantin. Kulihat Ane sudah hampir
menghabiskan makanannya dipiring.
"Antre banget
ya Nis toiletnya?", tanyanya dengan mulut penuh makanan.
"Telen dulu
itu makanan, baru ngomong! Kebiasaan banget dech kamu itu!". Aku mencoba
mengalihkan topik pembicaraan, karna aku malas kalau harus membahas tentang
Aina dan Bayu di saat seperti ini.
******
Sepulang ngampus
aku gak langsung pulang, aku memutuskan untuk membelokkan laju motorku ke
sebuah jalan yang agak sepi. Disana ada kedai kopi favouriteku.
Saat pertama kali
masuk ke dalam kedai kopi ini, aku merasakan aroma kopi saling berebut untuk
kuhirup, aroma yang sangat aku sukai.
Aku sudah mengenal
baik pemilik kedai kopi ini, dia adalah Darren teman SDku dulu.
Seorang pelayan
datang menghampiriku, membuatku mengalihkan perhatianku dari kesibukan mengecek
akun twitterku.
"Mbak Nisa
mau pesen kopi apa?", tanya Nico sang pelayan yang sudah lama juga aku kenal.
"Kayak
biasanya ajah Nic....", jawabku sambil tersenyum memerkan deretan gigiku
putihku. "O ya, Darren kemana?". Tanyaku sambil menatap wajah Nico.
Nico membalas
senyumku, "Mas Darrennya masih dikampus mbak, bentar lagi juga balik
kok....". Jawabnya dengan sopan. Aku mengangguk kecil sebelum akhirnya
Nico berlalu.
Lima menit
kemudian seorang cowok menarik kursi yang ada dihadapanku.
"Sudah
lama?", tanyanya sambil menatapku. Aku balas menatapnya dan tersenyum.
"Enggak kok,
baru ajah.....". Jawabku singkat.
"Kamu kok
tumben jam segini sudah selesai kuliahnya?",
tanyanya. Belum sempat aku menjawab, Nico menghampiri meja kami sambil membawa
secangkir white coffe favouriteku dengan asap yg masih mengepul. Sambil
memindahkan cangkirku dari nampan ke meja dia mengalihkan perhatiaannya pada Darren.
"Mas Darren
mau kopi juga?", tanyanya sopan pada kakak kelasnya di SMA ini yang
sekarang menjadi bosnya. Darren menggeleng cepat, dan Nico pun berlalu
meninggalkan kami.
"Dosenku ada
urusan mendadak soalnya...". Aku menjawab pertanyaan Darren yang tadi.
"Kamu lagi
ada masalah ya Nis?", rupanya Darren mengamati raut wajahku yang tak
seceria biasanya.
Aku mengangkat
wajahku dari tab-ku dan menatap wajahnya, lalu menghembuskan nafas berat.
"Ya gitu deh....".
"Bayu
lagi?", tanyanya untuk memastikan sumber masalahku. Aku mengangguk lemah.
Sudah kebiasaan, aku menceritakan semua masalahku pada Darren, mulai dari
hal-hal kecil sampai masalah besar sekalipun! Dan Darren tak pernah bosan
mendengarnya.
"Yaudahlah
Nis, gak usah terlalu mikirin dia lagi. Kan kamu sendiri sudah janji gak
bakalan mau ikut campur sama urusannya lagi....". Darren mencoba
mengingatkanku pada janji yang pernah kuucapkan dihadapnnya.
"Aku sudah
gak minat Rren buat ikut campur, tapi selalu saja ada hal - hal yang seolah
olah menarikku untuk masuk kelingkaran antara Bayu dan Aina...". Aku
menghembuskan nafas berat.
"Hey come on
Nis! You must be strong girl right?. Selama kamu bisa kuat, kamu gak akan
mungkin terseret ke dalam lingkaran mereka!". Darren mencoba memberiku
motovasi, aku bisa melihat binar-binar semangat dimata coklatnya. Darren, cowok keturunan Belanda dengan segala
kesempurnaan yang melekat padanya. Rambut dan warna matanya yang coklat, garis
wajah yang indah dengan hidungnya yang mancung sikapnya yang sabar dalam
menghadapiku, dan yang terpenting adalah dia
bintang untukku, yang selalu bisa aku andalkan. Mau tak mau aku
tersenyum semanis mungkin sebagai ucapan terimakasihku untuknya.
"Kamu sudah
makan?", aku bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan. Darren
menggeleng cepat, "Belum".
"Yaudah, kita
ke rumah kamu yuk. Aku masakin sesuatu untukmu...". Aku bangkit sambil
memasukkan barang-barangku yang masih berceceran kedalam Tas dan berlalu
mengikuti Darren berjalan kerumahnya yang ada di belakang Kedai Kopi.
Rumah ini kecil,
hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Meski begitu,
rumah ini selalu nyaman untukku. Darren memutar kunci dan membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk duluan kedalam rumah.
"Berantakan
banget Rren.....", komentarku saat pertama kali memasuki ruang tamu. Ada
banyak bungkus snack di meja dan ber botol-botol sofdrink yang sudah kosong.
Aku menoleh kearah Darren mencoba mencari penjelasan, dan dia hanya meringis
menanggapiku. "Biasalah Nis, semalem anak-anak pada kumpul disini nobar
pertandingan bola....".
Aku melangkah
kearah dapur, membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa aku masak.
Darren mengamati gerak - gerikku dari ruang tamu untuk beberapa saat.
"Kamu perlu
bantuan?", tawarnya, saat melihatku mengambil wajan dari lemari.
"Gak usah,
biar aku sendiri ajah. Ntar yang ada kamu malah mengacaukan semuanya!".
Sahutku disambut tawa oleh Darren.
"Yaudah, kalo
gitu aku tinggal mandi dulu ya Nis!". Darren meninggalkanku sendirian di
dapur.
aku benar-benar
sibuk di dapur, mulai dari memasak nasi sampai omelette. Setelah selesai, aku
beralih membersihkan meja di ruang tamu agar aku bisa makan bersama dengan
Darren disana.
"Wah....
Baunya enak banget Nis...". Darren yang tiba-tiba keluar dari kamarnya
mengagetkanku.
"Ngagetin
ajah kamu Rren, bantuin aku bawa makanannya kesini ya....". Dalam sekejap
Darren menghilang di dapur dan kembali dengan makanan yang aku masak tadi.
Semenit kemudian kita sudah sibuk dengan makanan masing-masing.
"Enak banget
Nis, thanks ya....". Pujinya sambil menatap wajahku. Aku mengangguk pelan.
Setelah selesai
makan dan Darren memaksa untuk mencuci piring, aku mulai sibuk dengan catatan
dan pekerjaan kampusku. Darren menemaniku sambil menonton liputan olahraga di
TV.
Mendadak mataku
berat, mungkin karna efek kekenyangan dan udara dingin yang terpancar dari AC
membuat mataku tak bisa kutahan lagi untuk menutup.
Aku terbangun
dengan suasana gelap. "Ini dimana?", tanyaku dalam hati. "Perasaan kasurku gak begini deh!".
Mendadak perasaanku menjadi panik, aku ingat, aku mengantuk setelah makan
bersama Darren dan mengerjakan peerku. Itu artinya? Aku sedang berada di kasur
Darren!!! "OMG, maafin aku ya tuhan!!! Aku bener-bener gak
sengaja!!!!". Jeritku dalam hati.
Aku meraba - raba dinding di sekitar tempat tiidur untuk menyalakan
lampu, tapi sial kakiku tersandung meja. Kontan aku berteriak kesakitan.
"Awwww........".
Aku memegangi kakiku yang cenut-cenut sekarang. Pintu kamar terbuka dan aku
melihat sosok Darren yang tinggi besar masuk dan menyalakan lampu.
"Kamu kenapa
Nis?", tanyanya dengan wajah kebingungan. Aku menatap kearah jari kakiku
yang berdarah. Dengan sigap Darren membantuku berdiri dan mendudukkanku diatas
kasur sambil menaikkan kedua kakiku. Kemudian Darren pergi dan kembali sejurus
kemudian membawa kotak P3K. Dengan hati-hati
dia mengobati lukaku dan membalutnya dengan perban tanpa ada rasa jijik
sedikitpun. "Masih sakit?", tanyanya saat Darren selesai melekatkan
plaster agar perbanku tidak lepas. Aku hanya meringis, menandakan bahwa aku
masih kesakitan. "Aku mau pulang....", sambil mencoba menahan rasa
sakitku, aku menurunkan kakiku yang sepertinya membengkak. Sebelum kakiku
menyentuh lantai, darren menangkapnya dan menaikkannya lagi keatas kasur.
"Kaki kamu masih sakit Nis!". Katanya tegas. "Tapi aku mau
pulang Rren..., nanti mama marah kalo aku pulang kemalaman....". Aku
sedikit merengek kearahnya. Aku faham banget, Darren pasti akan luluh kalo aku
sudah merengek seperti ini didepannya. "Yasudah ayo, naik kepunggungku!.
Aku anter kamu pulang....". Derren berjongkok dihadapanku, dan tanpa
berkomentar aku menuruti keinginannya.
Darren mengantarku
dengan mobil civic sports hitam kesayangannya. "Motorku gimana
Rren???", tanyaku saat kita sedang berada di dalam perjalan pulang.
"Kamu tuh
kayak sama siapa ajah sih Nis, gampanglah...!!! Biar aku urus motor kamu
itu...". Jawabnya enteng yang kusambut dengan anggukan lemah.
*****
Keesokan harinya.
"Nis...
Nisa..... Bangun sayang, sudah jam berapa ini?". Mama mengguncang
guncangkan tubuhku dengan lembut. Aku mengerang perlahan dan kembali menarik
selimutku. "Ini hari sabtu ma, aku libur kuliah.....".
Setelah beberapa
menit mama tak berhasil membangunkanku, aku fikir mama sudah berlalu
meninggalkan kamarku. Tapi, seseorang tiba-tiba membuka selimutku dengan kasar.
Aku mengerang lagi, "aduh ma.... Sudah Nisa bilang kan, Nisa masih pengen
bobok lagi....".
"Ini aku Nis,
Darren!". Mataku langsung terbuka mendengar nama Darren. Ughhh----
sungguh, aku paling benci kalo harus ketemu orang lain disaat aku baru bangun
tidur, kecuali mama tentunya yang sudah terbiasa dengan keadaan acak-acakanku.
Aku menarik selimutku rapat-rapat.
"Kamu ngapain
sih Rren pagi-pagi kesini?". Tanyaku dari balik selimut.
"Aku cuman
mau ngecek keadaan kamu ajah!", jawabnya singkat. Aku terdiam. "Nis
buka dong selimutnya!", kurasakan Darren duduk disalah satu sisi tempat
tidurku dan menarik paksa selimutku. "Darren.... Bisa gak sih gak usah
tarik-tarik selimutku. Aku lagi berantakan banget ini, dan aku gak pengen ada
yang lihat!!!". Aku bersuara dengan setengah berteriak. Tawa Darren pun
lepas, "Fannisa... Fannisa....", Darren memanggilku dengan nama lengkapku. "Aku tuh sudah pernah lihat
semua kejelakanmu!, sudahlah gak usah ngeles lagi....".lanjutnya. Akhirnya dengan pasrah aku membuka selimutku.
"Ngapain sih?", tanyaku dengan nada sewot.
"Temenin aku
beli kemeja ya,....". Pintanya dengan nada penuh harap. Dari dulu sampe
sekarang, Darren paling gak suka jalan-jalan sendirian. Kayak orang gila
katanya!. "Kemeja buat apa'an???", aku mulai merapikan rambutku
dengan jari.
"Buat acara
gala Dinnernya anak FE di kampusku. Acara perpisahan sama kakak kelas yang
kemaren diwisuda Nis, sabtu minggu depan....". Jawab Darren masih dengan
tatapan berharapnya. Sejenak aku mulai berfikir, mengingat ingat agenda untuk
hari ini. Setelah kuyakinkan pada diri sendiri kalo aku sedang free hari ini,
aku pun beranjak dari tempat tidur dan menarik tangan Darren keluar dari
kamarku. "Tunggu dibawah ya, aku mau mandi dulu!". Kataku sambil
menutup pintu kamar.
Saat ini aku
sedang berada di sebuah gerai pakaian cowok di salah satu mall elit di kota
Surabaya ini. Darren sedang mencoba kemeja ke-3 yang kupilihkan. Terdengar
suara pintu terbuka dari kamar pas, aku menoleh kearahnya dan mendapatinya
mengenakan kemeja berwarna biru langit yang menonjolkan bahunya yang tegap
serta dadanya yang berbentuk. "OMG dia sangat sangat keren!!!!". Aku
menggigit bibir bawahku agar rasa kagumku ini tak terlontar melalui kata-kata.
"Gimana Nis?", tanyanya sambil berjalan mendekat kearahku. Aku
mengangguk mantap yang disambut senyum manis olehnya.
Setelah membayar
kemeja Darren ke kasir, kita keluar dari gerai dan Darren menarikku masuk ke
sebuah butik khusus gaun - gaun pesta.
"Kita ngapain
kesini?", tanyaku dengan perasaan waswas. Darren tersenyum kearahku,
"Tolong bantuin aku milih gaun buat cewek ya Nis, rencananya aku mau
ngajak seseorang ke acara gala dinner itu dan ukuran badannya kurang lebih
kayak kamu, makanya aku ngajakin kamu kesini....". Seperti ada jutaan
pisau yang menghujam jantungku bertubi-tubi, aku merasakan sakit yang luar
biasa. Aku CEMBURU!!!!, semua rasa GR yang sempat berkelebat di otakku mendadak
musnah. Aku menggigit bibir bawahku, menahan amarahku agar tak meledak.
"Aku gak boleh cemburu, aku bukan cewek pilihan Darren!, aku harus
terima!", kataku dalam hati,
meyakinkan diri sendiri. Meski dengan berat hati, akhirnya aku mencoba
beberapa gaun yang menurutku oke untuk dikenakan pasangan Darren di acara gala
Dinner itu. Pilihanpun jatuh pada gaun cream selutut dengan aksen renda - renda
dan bunga pada bagian dada, aku menatap diriku sendiri pada kaca. Sungguh aku
terlihat berbeda dengan gaun ini, dadaku kembali sesak. Aku menggigit bibir
bawahku kuat-kuat agar tak ada airmata yang keluar. Setelah menguatkan diriku
sendiri, aku melangkah keluar dari kamar pas. Aku bisa melihat senyum Darren
mengembang kearahku. Perasaanku mendadak campur aduk tak karuan, segera setelah
smuanya selesai aku meminta Darren mengantarku pulang.
"Kamu kenapa
sih Nis, kok dari tadi diem ajah?", tanyanya saat kita berada di dalam
mobil.
"Gak apa-apa
Rren, cuman mendadak pusing ajah!". Jawabku singkat.
"Kamu
sakit?", kali ini tangan kirinya meraba keningku. Aku menepisnya perlahan.
"Aku cuman
butuh istirahat ajah!". Kali ini nada tegas yang meluncur dari bibirku.
"Oke...oke aku antar kamu pulang sekarang...". Darrenpun pasrah
terhadap sikapku.
*****
***Two...
Aku menatap
handphone yang bergetar - getar sedari tadi itu. Diliputi rasa galau antara
keinginan untuk mengabaikan dan mengangkatnya. Sungguh jengkel sekali
rasanya!!!.
"Gak diangkat
Nis?", Adri mengalihkan perhatianku.
"Gak penting
kok....", sahutku singkat sambil mematikan handphone lalu memasukkannya
kedalam tas.
Aku terlibat
proyek yang sedang disusun oleh Adri, mantan TTMku. Sebenernya males banget
harus kerja bareng dia, apalagi dengan latar belakang dia dulu pernah dekat
denganku dan bahkan sempat menyatakan perasaannya. Tapi aku adalah aku, yang
sangat sulit jatuh cinta. Karna bagiku cinta adalah sesuatu yang sakral, yang
gak bisa dianggap main - main. Dan sejak pertama kali aku masuk sekolah dasar,
aku sudah menetapkan cintaku pada seseorang, Darren!!!. He is my first love and
maybe my forever love. aku mengehela nafas panjang.
"Nis, are you
okay?", lagi-lagi Adri mengagetkanku. Aku menggeleng rendah.
"Gak ada lagi
yang harus kita bahas kan Dri?, aku balik duluan ya....". Aku beranjak
dari meja kantin yang kududuki dan hendak melangkah ketika seorang cewek
menggebrak mejaku.
"Jadi
ternyata kamu gini dibelakangku?", cewek itu melotot dengan tatap penuh
emosi kearah Adri.
"Kamu ini
apa-apa sih De?, kamu salah paham....". Adri bersuara dengan nada tenang.
"Seminggu ini
kamu selalu menghindar dari aku, selalu banyak alasan buat gak ketemu aku!,
maksud kamu apa?". Adri merangkul
pundak cewek itu dan mendudukkannya di kursi, sadar bahwa kita bertiga kini
jadi sorotan seluruh penghuni kantin akhirnya aku juga ikut duduk dalam diam.
"Ade, kamu
jangan salah faham dulu. Dia ini Nisa, temen SMAku. Aku minta tolong dia buat
bantuin proyek software pendidikan buat anak SMP yang aku kerjain....".
Adri menoleh kearahku dan akupun berinisiatif untuk menyodorkan tanganku kearah
cewek yang ada disampingnya itu.
"Aku
Nisa....", sejenak wajah cewek itu terlihat ragu menatap kearahku sebelum
akhirnya dia menyambut uluran tanganku. "Ade", sahutnya singkat. Dari
raut wajahnya aku bisa menebak bawah cewek dihadapanku ini jelas - jelas tidak
menyukaiku. Aku beranjak dari tempat dudukku, "Sorry ya, aku balik duluan.
Ada urusan soalnya....". Buru - buru aku melangkahkan kakiku keluar menuju
area parkir.
Perasaanku menjadi
tak karuan lagi, kenapa aku harus jadi kambing hitam dari hubungan orang lain?,
padahal tak ada sekalipun niatku untuk merusak hubungan mereka. Apa karna aku
yang belom punya pacar ini?, tapi gimana mau punya pacar kalo ternyata orang
yang aku taksir sudah punya cewek pilihannya sendiri. Akhirnya aku pulang
dengan perasaan campur aduk.
"Nis....
Nisa, ada Darren dibawah.....". Mama mengguncang guncangkan tubuhku. Sudah
5hari ini aku menghindarinya, setelah sadar bahwa aku bukan cewek pilihannya
karna aku tak ingin terluka lebih dalam lagi.
"Mau ngapain
sih ma dia kesini?", tanyaku masih dengan wajah tertutup selimut.
"Nis, kamu
gak boleh begitu. Darren itu kan temen
kamu, ayolah temui dia....". Mama mencoba membujukku dengan wajah
memohonnya. "Males ma, sungguh dech! Nisa pengen tidur ajah
sekarang..". Aku menarik selimutku lebih erat lagi.
"Yaudah kalo
kamu gak mau turun nemuin Darren, biar Darren yang mama bawa keatas nemuin
kamu!". Ancam mama. Wah bisa gawat kalo mama sudah ngancem begini,
posisiku sudah terpojok. Aku Aku langsung membuka selimutku, "iya... Iya
deh aku turun!". Aku mendengus kesal.
"Ada
apa?", tanyaku mengagetkan Darren yang sedang mengamati ikan ikanku di
taman belakang. Sontak dia menoleh kearahku dengan senyum manisnya yang seperti
biasa.
"Kamu
sakit?",tanyanya sambil berjalan mendekat kearahku. Aku hanya diam
memandanginya, rupanya Darren tidak menangkap gelagat rasa sakit hatiku.
"Hey Nis,
what's up girl?", tanyanya lagi dan kali ini dia duduk disebelahku sambil
memandangiku lekat - lekat untuk mencari jawaban. Aku hanya menggeleng lemah,
"I'm ok!". Kataku singkat. "Kalo baik - baik ajah, kenapa kamu
gak pernah angkat telponku, bales smsku, dan gak mau ketemu aku?". Darren
mengeluarkan uneg - uneg yang slama ini dipendamnya dengan wajah pasrah.
"Memangnya
kenapa?", tanyaku balik.
"Ayolah Nis,
aku sudah kenal kamu lama sekali. Tapi aku gak pernah ngeliat kamu kayak
gini......". Nada suaranya menjadi turun satu oktaf.
"Intensitas
lamanya perkenalan itu bukan jaminan kamu mengenal seseorang itu dengan baik
Rren!!!, udahlah gak usah ribet ngurusin aku, aku bisa urus diri aku sendiri
kok!". Aku mengakhiri percakapan sore itu dan kembali masuk kamar
membiarkan Darren duduk termangu sendirian.
******
***Three...
Aku berada di
depan sebuah rumah bergaya minimalis sambil menunggu pintunya terbuka. Andai
saja Aina tak datang padaku dengan rasa frustasinya mungkin aku juga tak sudi
untuk datang kemari. 'Oke mari kita perjelas semuanya sekarang!', kataku dalam
hati.
"Ada
apa?", tiba - tiba sosok Bayu yang berwajah imut bak malaikat tapi berhati
dingin itu muncul dihadapanku.
"Boleh aku
masuk?", tanyaku dengan nada se sopan mungkin. Bayu mempersilahkanku masuk
dan membawaku ke ruang TV, dia sedang main PS rupanya. Kita sama - sama terdiam
untuk beberapa menit sampai akhirnya aku buka suara memecah keheningan.
"Boleh aku
tau kenapa kamu mutusin Aina?", Bayu sontak langsung menoleh kearahku
sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Memangnya
kenapa?", tanyanya balik. "Aku cuman bener - bener gak ngerti ajah
sama kamu, maksud kamu apa sih?, kamu jadian sama Aina lalu kamu mengabaikannya
dan sekarang kamu memutuskannya! Kamu pikir Aina itu boneka yang gak punya
perasaan??". Nada suaraku naik satu oktaf, tetapi aku masih terus menahan
luapan emosi yang mulai memenuhi rongga otakku. "Kenapa kamu ikut campur
hubunganku dengan Aina?, sudah aku tegaskan kalo aku tak ingin siapapun
mencampuri urusanku!". Bentak Bayu. Mendadak ada perasaan takut yang
muncul, tapi segera kuhapuskan rasa itu.
"Aku juga gak
sudi ikut campur urusan kalian!, tapi masalahnya Aina selalu mendatangiku dan mengadu
tentang kejelekanmu. Aku jengah Bay!!, aku gak bisa lari dari kenyataan bahwa
lagi - lagi aku terseret dalam masalahmu!!". Dadaku naik turun, semua
emosi diotakku meledak seketika. Bayu memelukku erat, dan membuatku terdiam
seketika. Bayu berbisik ditelingaku, "Maafin aku sudah bikin kamu terlibat
jauh dalam masalahku Nis!, jujur aku juga gak tau harus berbuat apa saat kamu
gak ngasih jawaban apapun tentang perasaanku. Satu-satunya jalan yang ada
diotakku untuk tahu perasaanmu adalah dengan membuatmu cemburu karna aku jadian
sama Aina. Tapi ternyata itu malah membuatmu membenciku....". Bayu
memelukku semakin erat, aku bisa merasakan setiap hembusan nafasnya. Aku
melepaskan pelukannya, mencoba mengamati wajahnya yang kini tersirat rasa
penyesalan. Bayu menyentuh pipiku lembut dan perlahan aku bisa merasakan
keinginannya untuk menciumku, sontak aku memalingkan wajah dan membuatnya
terkaget. "Kenapa?", kali ini suaranya melembut. Aku terdiam. Bayu
mencoba menyentuh pipiku lagi dengan lembut, tapi sesuatu terjadi. Mendadak
kepalaku dipenuhi oleh wajah Darren dengan tawa manisnya itu. Aku terhenyak dan
bangkit dari sofa. "Kamu mau kemana Nis?", tanya Bayu dengan wajah
bingung. Aku mengambil tasku dan melangkah keluar dari rumah Bayu. Aku berlari
menyusuri jalanan kompleks perumahan Bayu. Jujur aku tak tahu lagi kemana
kakiku akan membawaku. Pikiranku kalut. Aku terduduk di sebuah bangku taman
yang sepi, mencoba mencerna apa yang sedang aku rasakan. Hari sudah mulai gelap
dan mendung pun membuat langit terlihat lebih mencekam. Aku yakin, pasti Darren
dan gadis pilihannya itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke gala dinner. Dan
tentang Bayu, dia sangat mengharapkan cintaku sedangkan aku?, aku malah
mengharapkan cinta dari seseorang yang memilih orang lain. Perasaanku perih,
air mata mulai membasahi pipiku. Aku pernah membaca sebuah kutipan,
"Aku suka hujan, saat
tetesannya berbaur dengan airmataku takkan ada yang tahu saat itu aku menangis".
Dan sepertinya
kali ini aku berpihak pada kutipan itu. Perlahan hujan mulai membasahiku dan
tak kalah derasnya dengan air mataku. Entah untuk berapa lama aku membiarkan
diriku terkena guyuran hujan, sampai seseorang menghampiriku dengan payungnya.
Aku mendongak untuk melihat siapa yang datang. "Kamu??, ,”. Tanyaku
dengan suara serak dan tenaga yang mulai melemah. Dia menggeleng lemah dan
menatapku sedih. Dia membantuku berdiri, dan ketika aku hendak melangkah
semuanya menjadi gelap.
****
Aku terbangun
dengan tubuh terbalut selimut di kamarku. Semua baju yang aku pakai kemarin
sore sudah berubah menjadi piyama coklat favouriteku. 'Siapa yang anter aku
pulang ya?'. Otakku berputar - putar mencari jawaban tapi hasilnya Nihil. Bi
Erna, pembantuku tiba-tiba melongokkan kepalanya kedalam kamar.
"Mbak Nisa
sudah bangun?". Tanyanya sambil masuk ke dalam kamarku dan menuju jendela
untuk membukanya.
"Siapa yang
anter aku pulang bi?". Tanyaku sambil sibuk mencari - cari hanphone di
dalam tas.
"Mas Darren
mbak, kemarin sore jam 7 malam mas Darren datang kerumah tapi mbak Nisanya
belum pulang, mas Darren nungguin mbak sampe jam 10 malam tapi mbak Nisa belom
juga pulang. Sampe akhirnya mas Darren pergi dan balik lagi sambil gendong mbak
Nisa yang sudah pingsan....". Aku hanya melongo mendengar penjelasan bi
Erna. Saat aku mengecek handphone ada banyak 10 sms dan 16 panggilan tak terjawab. Semuanya dari Darren yang
menanyakan keberadaanku, dan terselip satu sms dari mama yang mengabarkan kalo mama
pergi keluar kota bersama budhe Nana, kakak mama. 'Pantesan ajah mama gak
kelihatan dari tadi'. Batinku. Aku celingukan mencari sosok malaikat penolongku
semalam.
"Mbak Nisa
nyariin mas Darren ya?", tanya bi Erna yang menangkap gelagat
kebingunganku. Aku mengangguk cepat, "Mas Darrennya sudah pergi pagi-pagi
mbak, katanya ada acara kampus....". Seketika otakku berfikir keras,
mencoba mengingat kegiatan Darren untuk hari ini. Aku menemukannya, ya gak
salah! Darren kan jadi panitia ospek jurusan di kampusnya. Itu artinya dia
bakalan ada di luar kota selama tiga hari. Astaga.... Astaga.... Kepalaku
mendadak pusing!, itu artinya aku gak akan ketemu dia selama 3 hari kedepan!,
batinku sedih. Aku mengalihkan perhatianku ke meja belajar ketika aku melihat
sebuah kotak berukuran sedang berwarna gold ada disana.
"Itu kotak
milik siapa bi?", tanyaku pada Bi Erna dengan setengah berteriak karna bi
Erna sedang membereskan baju-baju basahku dikamar mandi.
"Itu mbak...
sepertinya milik mas Darren, semalam dia datang kesini sambil bawa kotak itu.
Tapi mas Darren pulang eh kotaknya nggak dibawa. Jadi saya letakkan di meja
mbak deh.....". Jawab Bi Erna sambil berlalu pergi dan menutup pintu.
Aku termangu duduk
sendirian di atas kasur, entah apa yang kupikirkan, yang pasti mendadak memori
otakku blank.
******
***Four...
Hari ini hari minggu, jadi aku menghabiskan
sebagian besar waktuku untuk menonton tayangan televisi. Entah sudah berapa
ratus kali aku mengganti chanel tapi tak ada satupun acara yang mampu
mengalihkan pikiranku dari Darren. Berkali - kali dia mencoba menelpon dan
mengirim sms untukku, tak ada satupun yang aku gubris. Aku masih kalut dengan
pikiranku sendiri. Dan untuk kesekian kalinya handphone ku bergetar, aku
melirik kearah layar dan mendapati nama Adriansyah disana. Segera aku mengangkat handphoneku dan
terdengar suara dari seberang sana.
"Iya Dri.....
Aku gak sibuk kok. Iya.. Iya, aku ke rumah kamu sekarang!". Aku bergegas
masuk kamar untuk ganti baju dan langsung berangkat ke rumah Adri.
"Ini apanya
yang kurang Dri?", tanyaku sesaat setelah aku sampai dan Adri menggiringku
ke ruang tivinya. Aku melihat susunan program - program yang sedang
dikerjakannya. "Itu kurang materinya ajah Nis....", Adri duduk
disampingku. Hampir satu jam lamanya aku berkutat ketikan - ketikan materi yang
aku masukkan ke programnya, sampai akhirnya aku menyadari Adri tertidur dan
kepalanya kini berada di bahuku. Aku menghela
nafas panjang. Pasti dia kelelahan karna harus menyelesaikan program yang harus
di kumpulkannya besok. Aku mengenal Adri dengan baik, dia seorang yang pekerja
keras. Dan aku gak akan kaget saat melihatnya tertidur kelelahan seperti ini,
'pasti semalaman dia gak tidur....'. Batinku dalam hati. Aku mengamati wajahnya
jawanya yang khas itu, dia terlihat sangat damai dalam tidurnya. Aku kembali
menekuni ketikanku ketika dengan tiba-tiba secara refleks Adri memeluk
pinggangku. Aku yang kaget dengan hati-hati berniat untuk mengangkat tangannya.
Tapi terlambat, muncullah seorang Ade yang entah gimana caranya dia bisa masuk
ke dalam rumah dan sekarang di berdiri mematung dihadapanku dengan deraian air
mata. "Aku... Aku gak nyangka kalian ada main dibelakangku!".
Ekspresiku yang tak kalah kagetnya memerintahkan pada otakku agar aku bereaksi
dengan cepat. Aku berdiri seketika dan membuat Adri terbangun. Aku mencoba
mengejar Ade, tapi dia sudah keburu jauh. Akhirnya aku kembali kerumah
Adri dan melihatnya sedang duduk di sofa
dengan tatapan bingung kepadaku.
"Itu tadi Ade
yang kesini?, ato aku yang lagi mimpi?", tanyanya.
Aku mengangguk
lemah, "Iya Dri, dan sepertinya dia salah faham....".
"Salah faham
kenapa?", tanya Adri lagi masih dengan tatapan yang sama. Aku menceritakan
semua yang terjadi dari awal sampai detik terakhir Ade pergi. Adri menatap
mataku lurus, "maafin aku ya Nis, udah bikin kamu jadi korban kayak
begini...". Aku hanya terdiam dan mengangguk lemah. "Kamu harus
jelasin ke Ade yang sebenarnya Dri, aku tau kamu dan Ade saling cinta. Dan aku
gak mau kalian berdua bermasalah karena kehadiranku.....". Aku berdiri
sambil menjinjing tasku, "Aku balik dulu Dri, materinya sudah selesai
semua aku tambahkan. Sampein permintaan maafku ke Ade ya....". Akupun
melangkah keluar dari rumah Adri, dan pulang.
*******
***Five...
Aku sedang
berjalan - jalan di mall sendirian saat seseorang menepuk bahuku keras dan
dengan terpaksa membuatku menoleh ke arahnya.
"Mbak
Farah?", dan sosok yang kusebut namanya barusan langsung memelukku erat.
"Apa kabar
Nis?, lama ya kita nggak ketemu....". Sapanya hangat. Masih dalam
pelukannya, aku menjawab pertanyaan mbak Farah dengan sukacita. "Baik
mbak, mbak sendiri gimana?". Aku melepaskan pelukanku dan mengamati sosok
wanita cantik dengan rambut coklat dan warna mata yang senada ini. Mbak Farah
adalah kakak kandung Darren yang tinggal di Belanda bersama omanya untuk
meneruskan kuliah S2. "Aku baik juga Nis, is like you see.....".
Jawabnya sambil tersenyum lebar. Tanpa aku sadari sepasang mata yang sedari
tadi berdiri di Belakang mbak Farah mengusikku, seolah mengerti akan isyaratku
mbak Farah langsung menoleh kearahnya dan memperkenalkannya padaku. "O ya
Nis, Kenalin ini Clare adik tingkatku di Belanda. Dia keturunan Belanda
Makassar...., Clare ini Nisa, temen Darren dari jama SD dulu....".
Tuturnya sambil tertawa. Aku menjabat tangan Clare dengan hangat.
"Hallo.... Aku Nisa...Nice to meet you...", sapaku ramah. "Aku
Clare... Nice to meet you too....", balasnya dengan senyum yang anggun.
Dia sangat cantik, dengan tubuh langsing dan rambut keriting hitamnya. Mbak
Farah berbisik kearahku, "Dia suka banget sama Darren sejak ketemu setahun
yang lalu saat Darren menghabiskan liburan semesternya di Belanda....".
Mbak Farah cekikikan, dan aku hanya bisa tersenyum garing menyambutnya.
Mendadak ada yang sakit di dadaku, rasanya sesak dan mataku mulai memanas. Buru
- buru aku berpamitan pada kak Farah dan segera berlalu dari hadapannya.
*****
Sekilas aku
melihat sosok Aina yang mondar - mandir di depan kelasku, sesekali ia melirik
kearahku yang sedang fokus mendengarkan penjelassan materi dari dosen.
Handphoneku bergetar dan 2 sms masuk secara berurutan.
Sms pertama dari
Darren,
Pulang kuliah bisa mampir ke Cafe?
Aku menutup sms
itu, dan beralih ke sms yang kedua, dari Aina.
Kak Nisa masih lama kuliahnya?, ada hal penting yang
harus aku sampaikan ke kakak. Darurat!!!
Aku menutup sms
itu juga, dan kembali fokus pada penjelasan dosenku. Saat kuliah selesai dan
aku beranjak keluar kelas, Aina menarikku ke pojokan.
"Ada apa
sih?", tanyaku sedikit ketus.
"Bayu
kak..... Kak Bayu kecelakaan semalem.....". Air mata Aina mulai bercucuran.
"Kecelakaan?", aku mengulang pemberitahuan Aina itu dengan nada
serak, tenggorokanku mendadak kering. Aku tau, aku sudah tak mau berurusan
dengannya. Tapi aku masih punya hati yang jelas-jelas mengkhawatirkannya saat
Bayu kecelakaan seperti sekarang.
"Iya Kak, kak
Nisa pasti ngerti kan sama kebiasaan kak Bayu yang suka kebut - kebutan dijalan
raya saat dia frustasi....?", yah aku sangat mengerti kebiasaan Bayu yang
satu itu, tapi seingatku dia sudah berhenti melakukan hal gila itu setahun yang
lalu saat kita masih dekat, tapi kenapa dia kembali pada kebiasaan lamanya?.
"Dia
tertabrak mobil saat ngebut kak, keadaannya parah..... Tadi mamanya telpon aku,
dan cerita kalo kak Bayu sudah sadar tapi menolak oprasi untuk gegar otaknya
sebelum dia ketemu kak Nisa....". Tangis Aina semakin keras, dan lagi -
lagi aku hanya bisa menyodorkan Tissue kearahnya. "Aku mohon kak, temui
kak Bayu sekarang juga.... Aku rela melakukan apapun asal kak Bayu
selamat.....". Aina memohon dihadapanku, dan aku? Perasaanku mendadak
kacau. Dan aku hanya bisa menurut saat Aina menarik tanganku untuk mengikutinya
menuju Rumah sakit.
Aku bertemu mama
papa Bayu di depan kamar perawatannya. Aku sudah mengenal mereka sejak aku
dekat dengan Bayu dulu.
"Nisa......",
mama Bayu menghambur kearahku dengan matanya yang berkaca - kaca. Wajahnya
terlihat 10 tahun lebih tua, pasti karna semaleman ngejagain Bayu disini.
"Maaf tante,
Nisa baru tau kabar ini jadi baru sekarang bisa kesini.....". Kataku
sambil melepaskan pelukan mamanya Bayu, tante Ira.
"Iya gak apa
- apa Nis, kamu cepet masuk kedalam ya Bayu sudah Nungguin kamu..".
Pintanya lembut, aku mengangguk kecil. "Permisi dulu tante, om....".
Kataku berpamitan. Mereka mengangguk berbarengan.
Aku masuk ke kamar
perawatan Bayu bersama Aina. Dia sedang tertidur rupanya. Aku dan Aina hanya
duduk di samping ranjang Bayu dalam keheningan sampai akhirnya Bayu terbangun,
membuka matanya. Dia menatap kearahku dan tersenyum. Aku hanya diam
memandanginya, tengannya menyentuhku dan kini menggenggamku. Aku bisa merasakan
usaha keras Aina untuk menahan air matanya. Perasaanku tak karuan, jelas aku
sedih harus melihat Aina berkorban seperti ini, dan aku? Mendadak kepalaku
dipenuhi wajah Darren dan perasaanku terhadapnya, yang sudah aku pendam selama
bertahun tahun.
"Kamu sudah
Baikan?", tanyaku pada Bayu sekaligus untuk memecah keheningan. Bayu
mengangguk kearahku dan tersenyum.
"Tante Ira
bilang kamu harus segera di oprasi Bay, kenapa kamu gak mau?". Aku menatap
mata Bayu yang kini berubah sayu karna menahan sakitnya, genggamannya mengeras.
"Buat apa aku sembuh?, kalo keadaannya tetap sama. Aku gak bisa milikin
kamu....aku mau kamu terima aku Nis, jadi pacar kamu.....". Jawabnya
dengan suara serak dan terbata. Perasaan galau menyerangku seketika, aku menoleh
ke arah Aina. Tatapan mata Aina seolah olah memohon padaku untuk menerima
permintaan Bayu. Tenggorokanku mengering lagi, aku tercekat memikirkan cintaku
pada Darren dan juga keadaan Bayu yang membahayakan nyawanya. Kali ini
perasaanku kalah, aku akhirnya mengangguk kearah Bayu. "Iya aku bakalan
jadi pacar kamu, asal kamu janji harus mau dioprasi dan sembuh.....".
Kataku pada akhirnya.
Sejam kemudian
Bayu sudah masuk ruang operasi dan aku, Aina, tante Ira dan om Tio papa Bayu
terdiam dengan gelisah menunggu proses operasi itu selesai sambil terus berdoa.
*****
***Six...
Sebulan sudah Bayu
keluar dari rumah sakit, dan seperti janjiku aku resmi menjadi pacarnya
sekarang. Jujur dadaku mendadak sesak saat tiba-tiba wajah Darren terlintas di
benakku saat aku sedang bersama Bayu. Aku menghindari Darren sebulan ini, karna
jujur aku masih gak mau dia tau hubunganku dengan Bayu.
"Sayang....
Kamu kenapa?", Bayu menyentuh pipiku lembut yang langsung menyadarkanku.
Secepat kilat aku menggeleng, "aku....aku gak apa-apa kok Bay....".
"Kita mau kemana?", aku memecah keheningan.
"Kita mampir
ke kedai kopi tempat temenku kerja dulu ya sayang, aku ada urusan sama
dia.....". Bayu membelokkan mobilnya ke jalan kecil yang tak asing lagi
bagiku. Yah.... Ini jalan menuju kedai kopinya Darren, aku berdoa dalam hati
agar tempat yang dimaksud Bayu bukan Kedai Kopinya Darren. Tapi sia -sia,
mestinya aku sadar hanya ada satu Kedai Kopi
disini dan itu milik Darren. Mobil
berhenti dan Bayu membuka pintu kemudi, "ayo sayang turun....".
Ajaknya. Mendadak perutku mulas, seperti ada jutaan lebah didalamnya. Bagaimana
ini ya tuhan?, selama ini aku menghindari Darren tanpa alasan yang jelas. Lalu
sekarang jika aku muncul dihadapannya bersama Bayu, apa yang akan dipikirkannya
ya tuhan???.
Aku berjalan di
belakang Bayu untuk menjaga jarak, tapi sial! Bayu malah melambat dan sekarang
dia memeluk pinggangku erat.
"Hai Nic apa
kabar....!!!", sapanya pada Nico yang langsung menyambut kami begitu kamu
memasuki Kedai.
"Hallo Bay...
Baik bro!!, kamu sendiri gimana kabar?". Tanyanya sambil memeluk Bayu lalu
sedetik kemudia melepaskannya. "Sama baiknya bro!!, o ya kenalin, ini Nisa
pacarku....". Nico hanya mengerjap ngerjapkan pandangannya padaku, yang
kusambut dengan senyum garing.
"Pantesan ya
sekarang mbak Nisa gak pernah kesini lagi, pasti Bayu bikin mbak Nisa sibuk
ya?", tawa Nico meledak dan membuat Bayu penasaran.
"Kalian sudah
saling kenal?", Bayu menatapku dan Nico bergantian dengan tatapan meminta
penjelasan. "Iya lah Bay, mbak Nisa ini sahabatnya mas Darren, Bos
sekaligus pemilik tempat ini.....!!! Gimana aku gak kenal coba?". Tawa
bayu masih menggema, dan aku mulai mengedarkan pandanganku ke segala penjuru
kedai mencari keberadaan Darren, tapi syukurlah. Mungkin Darren masih di
kampus.
Nico mengajak Bayu
dan aku ngobrol disalah satu meja yang ada disudut. Awalnya aku bertanya -
tanya, gimana bisa Bayu sekelas sama Nico saat SD. Padahal Bayu sekarang satu
angkatan denganku. Dan aku baru inget kalo Bayu adalah siswa akselerasi yang
menempuh SMP dan SMAnya dalam waktu 4tahun. Yah... Bukan hal aneh lagi lah bagi
seseorang seperti bayu yang memiliki IQ jenius. Dan kenyataannya diusianya yang
lebih muda 2tahun dariku, dia bisa meraih IPK tertinggi se jurusanku. Bayu dan
Nico masih sibuk ngobrol ini itu tentang urusan mereka yang aku gak mau tau itu
apa. Tapi mendadak perasaanku gelisah, aku mencium parfum Hugo Boss dengan
aroma yang sangat familiar untukku. Semakin dekat, semakin dekat dan
akhirnya....
"Nisa???",
dia menepuk pundakku lembut dari belakang. Aku menoleh kearahnya dengan
perasaan gugup, "Darren....., baru pulang kuliah?", tanyaku ber basa
- basi untuk memecah keheningan. Raut wajah Darren tak kalah gugupnya saat aku
melihat sosok yang berdiri dibelakangnya. Aku tersenyum kearahnya, "Hai
Clare apa kabar?", Clare langsung menghampiriku dan memelukku, mungkin dia
terbiasa dengan adat orang belanda. Aku menyambutnya dengan hangat. "I'm
fine Nis, nice to meet you again....". Senyuman Clare tak kalah lebarnya.
"Kalian sudah saling kenal?", Darren menatap kami berdua. "Iya,
minggu lalu ketemu di mall sama mbak Farah juga....". Jawabku kikuk.
Rupanya Darren mulai menatap ke arah Bayu dengan tatapan bertanya, "Aku
balik dulu Rren,....". Aku segera beranjak dan berjalan keluar dengan cepat
tanpa melihat reaksi Darren, menuju mobil outlander sport hitamnya Bayu.
"Kenapa buru
- buru sih sayang?", Bayu memecah keheningan saat mobil mulai membelah
jalanan kota Surabaya. "Gak apa-apa Bay, aku cuman mendadak pusing
ajah....". Jawabku ngasal. Aku cuman gak mau Darren tau tentang Bayu dari
mulutku sendiri, biar dia tau dari Nico ajah. "Yaudah, aku anter kamu
pulang....", sahutnya dan aku hanya mengangguk kecil.
*****
Hari ini Mbak
Farah mengundangku kerumahnya, ada acara kumpul-kumpul katanya. Sebenernya
males banget aku kesana, apalagi sampai saat ini aku masih menghindar dari
Darren.
"Haii
Niss.......", mbak Farah menyambutku dengan pelukan hangat saat aku
memasuki rumah keluarga Darren. Tak kalah hebohnya, mama Darren pun memelukku
"Hallo sayang, kok sudah jarang main kesini sih?". Tanyanya.
"Iya.... Anu.... Nisa lagi sibuk sama tugas kuliah tante", jawabku
dengan nada gugup. "Hai Nis, how are you?", DEG!! Jantungku serasa
berhenti mendengar suara itu, suara yang mulai gak asing lagi di telingaku. Aku
berbalik dan benar dugaanku, Clare sudah berdiri dihadapanku sambil
merentangkan tangannya, "Hai Clare I'm fine....", jawabku sambil
balas memeluknya.
"Ini acara
dalam rangka apa sih mbak?", tanyaku saat aku dan mbak Farah sedang
mengambil kue di meja kecil yang ada di sudut taman belakang.
"Bukan acara
penting kok Nis, cuman kumpul-kumpul bareng temen-temen mbak yang sama-sama
kuliah di Belanda sekaligus farewell party buat Clare karna besok dia sudah
balik ke Belanda duluan, kuliahnya dimulai 1minggu lebih awal katanya.....".
Aku hanya manggut - manggut kecil menanggapi penjelasan mbak Farah. Aku
mengedarkan pandangan ke seluruh taman, "Nyariin Darren ya?". Tanya
mbak Farah seolah mengerti apa yang aku cari. Aku mengangguk kecil sambil
menundukkan kepala, malu. "Dia masih di jalan, tadi ada kuliah dadakan
katanya! Palingan bentar lagi juga nyampe Nis....". Aku mengangguk kecil
sebelum ngeloyor pergi dari hadapan mbak Farah.
Gak seberapa lama
terdengar suara gaduh dari ruang tengah sambil menyebut nyebut nama Darren, aku
langsung bangkit menuju sumber suara itu tapi langkahku terhenti, aku melihat
Clare memeluk Darren hangat, diselingi godaan godaan dari mbak Farah,
"Cie.... Yang habis ini long distance..... Lengket amat
pelukannya!!!". 'Long distnace?', aku mengulang kata-kata itu dalam hati.
Ya Tuhan?, jadi mereka sudah pacaran. Dadaku terasa dihantam batu besar,
rasanya sakit sekali. Air mata meluncur bebas begitu saja di pipiku, mendadak
aku panik. Ya tuhan, gimana kalo ada yang lihat aku nangis disini?, buru - buru
aku mengambil tasku dan ngacir meninggalkan ruman bergaya kolonial itu tanpa
pamit.
*****
Mbak Farah dan
Darren gak henti - hentinya menelpon dan meng sms-ku sejak kejadian kabur itu
dari rumahnya, tapi jujur perasaanku yang sudah terlanjur berantakan memerintahkan
otakku untuk gak merespon semuanya, termasuk Bayu. Aku lebih memilih diam di
rumah dan meminta bi Erna serta mama untuk bilang aku lagi gak di rumah kalo
ada yang nekat mencariku kesini.
"Nisa!!!",
bersamaan dengan itu pintu kamarku terbuka dengan keras. Aku yang sedang
tiduran sambil baca majalah mengalihkan pndanganku kearah sumber suara itu,
"iya ma..... Ada apa?". Sekilas aku mengamati mamaku yang dandanannya
sudah rapi. "Ada Darren di taman Belakang, mama gak enak kalo harus bohong
lagi sama Dia Nis...". "Emang mama mau kemana?", tanya
mengalihkan pembicaraan. "Mama mau meeting sama rekan bisnis mama, mungkin
pulangnya agak malam karna ini proyek besar". Aku menatap mamaku kagum,
sejak papa meninggal mama menjadi single parents yang tangguh. Banting tulang
demi aku dan masa depanku. "Nis, kok malah bengong sih sayang.....!! Cepet
turun ya, kasihan Darren tuh! Mama berangkat ya...". Mama mencium keningku
sebelum akhirnya pergi, dengan langkah super duper males aku turun ke bawah dan
menemui Darren yang kali ini hanya duduk termangu di bangku taman. Aku duduk
disebelahnya tanpa bersuara.
"Nis.....",
Darren memecah kesunyian.
"Hemm.....".
"Kenapa kamu
gak cerita kalo sudah jadian sama Bayu?". DEG!!! Jantungku mendadak
berdegup kencang. Ya, cepat atau lambat pasti Darren tahu tentang ini. Aku
hanya diam. "Nis..... Jawab donk!, kamu sudah gak nganggap aku sahabat
kamu ya sampe kamu nyembunyiin ini smua dari aku?". Darren memutar bahuku
agar aku menghadap kearahnya. 'Gimana aku bisa cerita Rren?, aku malah gak
pengin kamu tahu semua ini....', batinku dalam hati.
"Niss??, kamu
ngomong sesuatu donk Nis.....". Ditatapnya mataku lekat-lekat.
"A...ak..aku.... Gak mau kamu tau semua
ini Rren, ini smua terjadi karna aku gak punya pilihan. Kamu jelas tau kalo aku
gak pernah cinta Bayu.....". Tangisku pecah, dan Darren memelukku.
"It's okay, it's okay Nis..... Aku bisa ngerti kok...". Sahutnya
sambil mengelus rambutku.
"Tapi, kamu
sendiri kenapa gak bilang kalo sudah jadian sama Clare?", Suaraku mendadak
serak saat mengucapkan nama itu, Darren melepaskan pelukanku dan wajahnya kini
menatapku lekat. "Ini semua gak seperti yang kamu kira Nis, aku gak pernah
nerima pernyataan cintanya Clare....". Suaranya lirih. Tangisku kembali
pecah dan Darren memelukku lagi, untuk beberapa saat dia membiarkanku menangis
sampai sesenggukan. Aku melepaskan pelukanku, dia mengamati wajahku lekat
sambil mengusap sisa - sia air mataku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku,
Darren menciumku lembut aku bisa merasakan kehangatannya dari bibirku, mataku
terpejam mencoba merekam semua ini tanpa ada sedetikpun yang terlewat. Untuk
beberapa detik aku ingin waktu berhenti. Aku harus kembali ke dunia nyata saat
Darren mencium keningku. "Kamu gak boleh sedih lagi ya dan harus janji
jangan menghindar lagi dariku....". Aku mengangguk kecil.
"Masalah
Bayu, aku bisa ngerti kok..... Kamu jangan khawatir....". Sahutnya lagi
sambil tersenyum.
"Makasih
Rren....". Kataku lirih.
*****
Hari ini benar - benar
melelahkan, mulai dari kuliah, presentasi sampai praktikum semuanya ditumpahkan
dihari ini sampai nyut -nyutan rasanya kepalaku.
"Kenapa
Nis?", Ane memperhatikan tingkahku yang sedang memijit mijit pelipisku.
"Pusing nih
kepalaku Ne!!!, gila ajah praktikumnya susah banget tadi.....". Aku
mengeluh dengan wajah mengkerut, Ane hanya tertawa melihatku.
"Di tungguin
pangeran kamu tuh di depan taman". Keningku
mengkerut lebih dalam, "pangeran???", tanyaku pada Ane.
"Busyet deh
nih anak!!!, iya pangeran kamu si Bayu.....".
Jitakan Ane di ubun -ubunku membuatku tersadar akan statusku yang masih pacar
Bayu. Bibirku membentuk huruf O menanggapinya.
"Yaudah aku
duluan ya Ne, laporan sementaranya ada di kamu kan?", aku memastikan
disambut dengan anggukan kecil dari Ane.
Aku melangkahkan
kaki menuju taman, dan mendapati Bayu duduk di kap mobilnya dan sedang
menatapku. Aku berjalan cepat menghampirinya,
"Hai
sayang..., sudah selesai praktikumnya?", tanya Bayu sambil memeluk
pinggangku erat dan mendudukkannya di kap mobil sebelahnya. Aku mengangguk
pelan, "Kelas kamu juga sudah selesai?", aku balik bertanya. Bayu dan
aku Kuliah di jurusan yang sama hanya saja kita berbeda kelas. "Sudah,
tadi siang waktu kamu presentasi aku praktikum.....".
"Pulang
yuk,.......", ajakku sambil beranjak dari kap mobil. "Kok pulang?,
kita kerumah dulu ya.....". Tatapan mata Bayu
merajuk kearahku, dan meski berat hati aku hanya bisa mengangguk menyetujuinya
karna Bayu bukan tipe orang yang senang akan perlawanan.
Sesampainya di
rumah Bayu, aku mendapati rumahnya sepi. "Tante sama om kemana?",
tanyaku pada Bayu yang sedang melepas kaus kakinya.
"Mama lagi
nemenin papa meeting ke singapura....", jawabnya Santai, "Kamu mau
minum apa Nis?", Bayu Membuka kulkas dan meneguk jus Jeruk.
"Aku air
putih ajah dech....", jawabku ngasal sambil membuka - buka majalah Fashion
milik tante Ira. Bayu melangkah kearahku dengan segelas air putih,
memberikannya padaku lalu merebahkan
kepalanya di pangkuanku. Aku hanya diam.
"Nis....",
panggilnya.
"Hemm.........
". Sahutku sambil pura - pura membaca majalah. "Bisa gak sih
majalahnya di taruh dulu....". Aku terkesiap dengan nada suara Bayu yang
naik satu oktaf. Segera aku menutup majalah, menatap kearahnya.
"Ada apa?", tanyaku mencoba lembut.
"Kenapa handphone kamu jarang banget aktif akhir - akhir ini?",
tanyanya dengan nada serius. Jujur aku gugup, aku bisa melihat tatapan lurus
Bayu kearahku. "Hemm.... Gak ada apa - apa kok, aku sering lupa nge charge
ajah....". "Kamu pacarku kan
Nis?", tanyanya lagi, kali ini aku menangkap ada keraguan yang tersirat
didalamnya. "Ka...kamu kenapa tanya begitu Bay?", Bayu mengarahkan
tanganku ke keningnya, segera aku menarik tanganku. "Kamu kenapa sih
Nis?". Bayu bangkit dari posisi tidurnya dan duduk dihadapanku.
"Aku.... Aku... Gak apa-apa kok Bay, aku cuman gak suka ajah kalo
berlebihan....". Jawabku gugup. "Berlebihan katamu???, cuman pegang
keningnya pacar kamu ajah kamu bilang berlebihan?", Bayu memegang kedua
pipiku dan menatap mataku tajam, lalu dengan cepat Bayu mencium bibirku paksa.
Aku terus meronta ronta melepaskan diri, tapi Bayu semakin menggila. Ya Tuhan
aku gak mau hal bodoh terjadi sekarang, sekuat tenaga aku meronta, sampai
akhirnya aku berhasil mendorong Bayu hingga dia terjatuh dan aku langsung
berlari keluar dari rumahnya. Aku menyetop taxi yang kebetulan lewat, dan menumpahkan
air mata yang sedari tadi kutahan. "Ke jalan Nias pak, Kedai
Kopi....". Kataku, sambil menangis sesenggukan. Sopir taxi yang sedari
tadi memperhatikanku dari kaca yang ada di bangku depan, akhirnya kembali fokus
pada jalan di depannya setelah aku menyebutkan tempat tujuanku.
Begitu sampai di
depan Kedai, aku langsung berlari ke rumah Darren ada di belakang. Nico yang
yang mencoba menyapaku hanya menatapku kebingungan. Aku mengetuk ngetuk pintu
rumah Darren dengan masih berderai air mata. Tapi tak ada jawaban. Akhirnya aku
terduduk di depan pintu pasrah sambil terus menangis.
"Nisa......",
seseorang memanggilku, aku menoleh dan mendapati Darren menatapku sedih. Dia
langsung memelukku erat tanpa kata-kata.
"Kita masuk
dulu ya....". Dia melepaskan pelukanku dan memapahku untuk masuk kedalam
rumah.
Aku menangis
sejadi jadinya, aku tau aku bukan cewek munafik yang menolak apa yang diminta
Bayu. Tapi masalahnya, aku benci dipaksa!. Aku akan melakukannya dengan orang
yang aku cinta, yang aku inginkan. Bukan dengan cara paksa seperti tadi.
"Kamu
kenapa?", Darren merenggangkan pelukannya.
"Aku... Aku..
Takut Rren....". Tangisku mereda, hanya menyisakan isakan - isakan pilu.
"Kamu tenang
ajah Nis, aku disini. Kamu aman sekarang.....".
Lama setelah
tangisku reda, aku menceritakan kejadian yang terjadi dirumah Bayu tadi dan
dengan lembut Darren menenangkanku.
Belaian tangan
Darren dirambutku membuatku merasa aman dan nyaman, dia membiarkan kaos polo
hijaunya basah karna air mataku.
Entah untuk berapa
lama aku tertidur, aku terbangun karna mendengar suara ribut diluar. Dengan
segera aku bangkit dan mengintip dari balik jendela. Darren sedang adu mulut
dengan Bayu, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi seumur hidup untuk
kali pertama aku melihat Darren marah dengan ekspresi paling menakutkan.
'Oh tidak, mereka
mulai adu fisik!'. Batinku panik, tapi kakiku masih tertancap dibalik jendela.
Bayu mulai meninju Darren membabi buta, tapi Darren bisa mengeles dengan mudah
karna ilmu bela dirinya sudah tak diragukan. Dan kini Darren bersiap siap untuk
membalas pukulan Bayu, tangannya sudah terayun keatas. Aku berlari sekuat
tenaga keluar dan mencoba menghentikan tindakannya sebelum Darren membuat
cedera otak yang pernah dialami Bayu menjadi lebih parah.
"Darren...
Jangan!!!!!!". Aku memekik histeris!, tapi terlambat. Pukulan Darren pas
mengenai pelipis kanan Bayu dan membuatnya langsung tersungkur ditanah.
"Bayuu......".
Aku menghampirinya dan dia sudah tak bergerak lagi. Darah segar mengalir dari
telinganya. Aku panik, jantungku serasa berdegup 100kali lebih cepat.
"Darren, kita
harus bawa Bayu kerumah sakit sekarang!". Teriakku pilu.
Dan kini, aku
mondar mandir di depan ruang gawat darurat. Nomer telpon mama papa Bayu gak
bisa dihubungi dan aku gak kenal dengan satupun saudaranya.
"Nis, duduk
sini!, sudah sejam kamu mondar mandir begitu....". Aku mengalihkan
pandanganku kearah Darren yang menggeser tempat duduknya untukku.
"Aku gak bisa
Rren!, aku takut..... Gimana kalo sesuatu yang buruk terjadi sama Bayu!. Aku gak
mau dia sakit lagi.....". Tangisku mulai meledak.
'Sssstttt......".
Darren menempelkan telunjuknya di bibirku. "Kamu berdoa ajah!, Dokter
pasti bakalan lakuin yang terbaik buat nyelametin dia....".
Dokter keluar dari
ruang UGD dan menghampiriku.
"Bisa saya
bicara dengan Orang tua dari Bayu?", aku sudah mengenal dokter ini, dokter
yang menangani Bayu saat dia gegar otak beberapa bulan yang lalu.
"Maaf dok,
orang tuanya sedang ada di luar Negeri dan sampai saat ini saya masih berusaha
menghubunginya.....". Jawabku dengan suara serak.
"Kalo begitu,
silahkan anda ikut saya keruangan saya. Ada yang perlu saya bicarakan..".
Aku melangkah hendak mengikuti dokter itu, tapi Darren menarik tanganku.
"Kamu tunggu sini ajah Rren, biar aku yang kesana....". Tanpa suara,
Darren kembali duduk diruang tunggu dan aku mengikuti Dokter keruangannya.
"Jadi gimana
keadaan Bayu dok?", tanyaku setelah sampai di ruang serba putih dengan
aneka pajangan taksonomi manusia yang tersusun rapi.
"Bayu sedang
mengalami masa kritis, terjadi pendarahan di otaknya. Kami selaku tim dokter
sudah mengupayakan yang terbaik untuk menghentikannya. Jika Bayu berhasil
melewati malam ini dengan baik, saya yakin besok Bayu bisa sadar dalam keadaan
normal. Jika tidak, maka akan dilakukan
tindakan medis segera untuk menyelamatkannya......".
Aku keluar dari
ruangan Dokter dengan langkah gontai. Jujur aku gak ngerti akan perasaanku buat
Bayu. Tapi melihat keadaannya sekarang, aku merasa terpukul. Dan kalo sampe
terjadi hal hal buruk dengannya, aku adalah orang pertama yang akan merasa
bersalah seumur hidup.
"Gimana kata
dokter Nis?", tanya Darren. Aku menggeleng lemah, "kita baru tau
hasilnya besok....".
"Gimana
ceritanya sampai Bayu masuk rumah sakit lagi Nis?", Tante Ira merongrongku
dengan pertanyaan yang aku sendiri bingung menjawabnya. Aku takut, kalo sampe
tante Ira tahu ini smua karna akibat pertengkaran Bayu dengan Darren, maka
kasus ini akan dilaporka ke Polisi dan posisi Darren bisa terancam.
"Nisa....
Nisa gak tahu tante, Nisa tahunya Bayu sudah gak sadar saat Nisa
keluar....". Jawabku terbata karna menahan tangis.
"Gimana kalo
terjadi sesuatu yg buruk sama Bayu Nis?, tante gak rela anak semata wayang
tante jadi begini! Siapa yang melakukan ini Nis??? Jawab tante!!!".
Tangisku pecah, aku tak tahu lagi bagaimana menjawab pertanyaan tante Ira.
"Sudah...
Sudah ma, Nisa kan sudah bilang kalo dia tidak tahu tentang kejadiannya......
Papa janji akan mengusut kasus ini sampai tuntas!". Ucapan om Tio barusan
sanggup menenangkan kehisterisan istrinya.
Bayu sudah sadar
sejak tadi siang, dan malam ini aku berhasil meyakinkan om Tio dan tante Ira
agar beristirahat dirumah dan aku yang menjaganya. Ada yang harus kubicarakan
dengannya dan aku dengan gelisah menunggunya terbagun. Satu jam.... Dua jam...
Hingga tiga jam berlalu akhirnya Bayu membuka mata.
Aku menghampirinya
perlahan,
"Nis....".
Suaranya terdengar parau.
"Gimana
keadaan kamu?", aku duduk di kursi damping ranjang.
"Sakit....".
Keluhnya tapi Bayu mencoba untuk duduk. Aku membantunya dengan menekan tombol
untuk menegakkan ranjang.
"Maafin aku
yang udah buat kamu begini Bay.....". Bayu menggenggam tanganku dan
menarikku untuk duduk di ranjang bersamanya.
"Kamu gak
salah Nis, aku yang seharusnya minta maaf untuk kejadian kemaren....".
"Gak papa Bay,
aku sudah maafin kok.....". Bayu memelukku erat, "Makasih ya
Nis....".
"Hemm... Bay,
boleh aku minta sesuatu?". Bayu melepaskan pelukannya. "Apa?".
"Soal
kejadian ini, kamu sudah cerita sama tante Ira dan om Tio?".
"Belum, aku
belum cerita apa - apa sama mama papa.... Memangnya kenapa?". Bayu
menatapku curiga.
"Soal Darren,
aku mohon jangan cerita sama orang tua kamu. Mereka bilang kalo akan mengusut
kasus ini sampai tuntas dan aku gak ingin Darren terlibat. Dia hanya ingin
membelaku.....".
"Seharusnya bagus
kan Nis!, biar dia dapet ganjaran atas perbuatannya.....".
Mataku mulai
berkaca - kaca, aku menggigit bibir bawahku kuat kuat untuk menahan agar air
mata tak jatuh. "Tapi Bay, dia sahabatku dari kecil. Aku gak tega harus
korbanin dia karna masalah kita. Aku mohon Bay.... Aku akan lakuin apapun kalo
kamu janji gak bakal libatin Darren dalam masalah ini....". Aku menatap
bayu dengan tatapan memelas yang pernah aku lakukan seumur hidupku.
"Apapun?",
katanya mengulangi perkataanku untuk meyakinkan. Aku mengangguk lemah. Hening
sejenak....
"Aku mau kamu
jauhin dia Nis, jangan temui dia lagi. Dan aku janji akan bilang sama mama papa
kalau ini semua murni karna kecerobohanku. Gimana kamu mau kan?". DEG!!!!
Aku menelan ludah. Menghindari Darren saja rasanya sudah sangat menyiksa,
apalagi harus menjauhinya?. 'Ya tuhan... Gimana ini?, seberat inikah
penderitaanku?'.
"Nis......
", bayu menggenggam tanganku. Aku menarik nafas panjang dan akhirnya
mengangguk.
Senyumnya
mengembang dan langsung memelukku.
"Makasih ya
Nis.....".
'Darren... Maafin
aku, aku lakuin semuanya demi kamu. Aku gak mau kamu jadi korban. Cukup aku
yang berkorban buat kamu Rren....'. Rintihku dalam hati.
*****
***Seven...
Seminggu setelah
Bayu keluar dari rumah sakit, aku menemui Darren. Dengan seizin Bayu
tentunya....
Taman ini masih gak
berubah, taman belakang kedai Darren, dengan ayunan yang salalu aku duduki jika aku kesini.
Perasaanku campur aduk sekarang.
"Nisa.......",
tersirat keterkejutan dalam nada suaranya. Aku mendongak, menatap Darren yang
perhatiannya terfokus padaku.
"Ada apa?,
kamu kenapa?". Nadanya berubah panik.
"Aku.... Aku
cuman pengen ketemu kamu Rren....", suaraku tertahan karna air mata.
"Ada
apa?", Darren duduk dihadapanku. Air mata mulai mengalir dan aku terisak
perih. Rasanya sakit harus mengucapkan perpisahan yang gak pernah aku inginkan
ini.
"Aku akan
belajar mencintai Bayu Rren, dan untuk itu aku gak mau kita ketemu
lagi.....". Mendadak wajahnya menegang, hening, dan hanya terdengar suara
isakan tangisku.
" Kenapa
Nis?,memangnya aku salah apa?". Darren
mencoba menyentuhku, tapi aku menghindar
"Kamu gak
salah apa-apa Rren, justru karna kamu nggak salah itu aku gak bisa ketemu kamu
lagi......".
"Aku bisa
ngerti Nis kalo kamu akan mencintai Bayu. Tapi gak harus dengan cara seperti
ini kan?".
"Aku gak bisa
Rren, aku takut....".
"Takut kenapa
Nis?", Darren mengguncangkan bahuku.
"Kamu
mencintaiku?", DEG!!! Kata - kata Darren berhasil menusuk tepat ditengah
jantungku. Rasanya ingin mati saja!, dia sadar akan perasaanku setelah semuanya
menjadi runyam begini. Aku hanya Diam.
"Niss....
Jawab aku...". Suara Darren melembut, dia mengusap rambutku dan aku tak
menghindar. Biarkan aku menikmatinya untuk yang terakhir kalinya Tuhan.....
****
Serasa ada yang
hilang, serasa hati ini berlubang. Sekuat tenaga aku memaksa Darren keluar dari
hidupku. Aku memang sudah ikhlas menjalani takdir bahwa aku harus tetap bersama
Bayu agar Darren aman. Tapi tetap saja, hati tak bisa dibohongi.
"Nis.....,
kok ngelamun sih?". Panggilan Bayu menarikku kembali kedunia nyata.
"Hemm.... Ada
apa?".
"Jalan yuk,
aku lagi pengen beli sepatu Nis....".
"Kemana?",
sahutku datar.
"Ke Mall
biasanya lah.....". Bayu mulai merajuk di sampingku.
"Yaudah aku
temenin, kita berangkat sekarang ajah ya....".
Sesampainya di
mall, aku dan Bayu bergegas ke toko sepatu yang biasa Bayu datangi. Aku hanya
memperhatikannya yang sedang sibuk memilih sepatu dan sesekali aku akan
memberikan pendapat jika ditanya.
"Nisa.......".
Seseorang menepuk bahuku dari belakang, sontak aku menoleh.
"Mbak
Farah?", aku memandangi sosok dihadapanku ini, dan langsung memeluknya.
"Kamu apa
kabar Nis?, kok menghilang dari peredaran begitu. Sudah gak pernah main lagi
kerumah...". Cerocos mbak farah panjang lebar. Aku melepaskan pelukannya,
"Iya mbak maaf, aku sibuk urusan kampus. Mbak farah kok disini?".
Tanyaku Heran.
"Gini nih,
kalo udah lama gak ketemu. Jadi gak update berita!". Canda mbak Farah.
"Aku sudah lulus Nis, sekarang aku kerja di kantor papa....".
"Selamat ya
mbak atas kelulusannya..". Aku memeluk mbak Farah sekali lagi.
"Iya makasih
Nis, Bay the way Darren sudah ngabari kamu?, anak itu akhir - akhir ini susah
banget dihubungi.....". Wajah mbak Farah mendadak lesu.
"Susah kenapa
mbak?, kan mbak tinggal dateng ke kedai kopinya.....". Aku masih gak
ngerti dengan pembicaraan mbak Farah.
"Lho?, Darren
gak ngasih tau kamu Nis?". Raut wajah Mbak Farah berubah menjadi
keheranan. Aku menggeleng lemas.
"Darren
mutasi dari kampusnya dan meneruskannya di Belanda Nis. Kamu beneran gak tau
Nis?", tanya mbak farah sekali lagi untuk meyakinkan.
"Kalian gak
lagi bertengkar kan?", lanjut mbak Farah. Aku menggeleng cepat,
"Mungkin Darren gak mau aku sedih mbak, makanya dia perginya diem - diem
gitu. Lagi pula akhir - akhir ini aku sibuk ngurusin urusan kampus. Jadi hampir
gak pernah ketemu lagi.....". Aku mencoba ber alibi. Mbak farah hanya
manggut-manggut mendengarnya.
"Yasudah kalo
gitu, nanti kalo kamu dapet kabar dari Darren kasih tau mbak ya Nis....".
Mbak Farahpun berlalu pergi.
"Ehem....".
Suara berdehem itu mengagetkanku, aku menoleh kebelakang.
"Itu tadi
siapa ?", Bayu menatpku curiga.
"Mbak Farah,
mbaknya Darren...". Tatapan Bayu semakin dalam. "Kenapa?, perjanjian
kita kan hanya melibatkan Darren. Aku gak harus menjauhi mbaknya juga
kan!". Sahutku singkat, senyum Bayu mengembang, "iya iya sayang, maaf
ya.....". Ucapnya sambil mengecup keningku. Dan lagi-lagi perasaanku
hampa....
*****
Setelah berita
kepergian Darren ke Belanda rasanya jiwaku melayang entah kemana. Serasa aku
ini hanya tinggal jasad yang berjalan. Tak ada semangat, tak ada cinta,
semuanya bias. Bayu masih tetap denganku tapi kini aku fokus terhadap kuliahku.
Aku ingin lulus di semester 7 dan impianku itu sudah terwujud. Aku lulus dengan
IPK yang cukup memuaskan sehingga bisa membuat mama bangga. Dan kini aku sedang mencari namaku di daftar
peserta program pengabdian Guru yang akan dikirim ke daerah terpencil,
terdepan, dan terluar Indonesia. 'Yes.....'. Pekikku pelan! Aku menemukan
namaku berada di urutan ke 37 dengan daerah tujuan Aceh. Akhirnya aku akan
meninggalkan semua kepura puraanku selama ini, dan aku bertekad untuk membuka
lembaran baru disana.
Ekspresi mama
benar-benar mengejutkan, awalnya mama bersuka cita dengan berita kelolosanku,
tapi setelah tau aku akan ditempatkan di daerah terpencil mama mulai menangis
histeris karena mengkhawatirkan keadaanku. Tapi bukan aku namanya jika aku tak
bisa meyakin mama, apapun caranya yang penting aku harus bisa keluar dari
hidupku yang sekarang ini.
*****
Hari ini aku
menemui Bayu setelah hampir seminggu aku lost contac dengannya. 10 menit aku
menunggu di cafe bernuansa classic dengan ditemani secangkir creme brulle.
"Maaf telat
Nis....". Bayu menarik kursi yang ada di hadapanku. 'Nis?, untuk pertama
kalinya selama setahun pacaran Bayu memanggil namaku'. Batinku heran.
"Aku sudah
dengar soal penerimaanmu ke Aceh itu....". Suara Bayu menggantung.
"Lalu?".
"Kamu pasti
berangkat kan?", tanyanya dengan nada rendah. Aku mengangguk pelan,
"Semuanya sudah fix Bay, dan mau tak mau
aku harus berangkat. Maaf aku terlambat memberitahukan ini padamu...". Aku
meneguk creme brulleku.
"Kamu sengaja
kan Nis?", pernyataan Bayu barusan membuatku tercekat.
"Sengaja?",
ulangku untuk mempertegas.
"Iya kamu
sengaja mengikuti program ini biar bisa lepas dariku kan Nis?, Jujur selama
hampir setahun kita bersama aku merasa kamu jadi orang yang berbeda. Aku sudah
tak mengenalimu, kamu jadi pendiam, sering murung, dan aku hampir gak pernah melihatmu
tertawa lepas lagi seperti saat ada Darren....".
"Ini semua
tak ada hubungannya dengan Darren Bay!!!". Selaku dengan setengah
membentak.
"Bohong!!!
Sudah lah Nis, aku bisa mengerti perubahanmu itu karna kamu melakukan semua ini
dengan terpaksa! Karna kamu mencintai Darren dan kamu rela berkorban apapun
untuknya bahkan mengorbankan perasaanmu......". Nada rendah suara Bayu
berhasil mengiris ngiris hatiku, tersirat kesedihan disana dan aku benar benar
spechless, air mata mengalir begitu saja....
"Aku... Aku
minta maaf Bay......". Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Sudahlah
Nis, gak ada yang perlu di maafkan. Mulai detik ini aku sudah melepaskanmu.
Kamu bebas Nis, aku harap kamu bisa mendapatkan hidupmu kembali seperti dulu.
Dan maafkan atas semua keegoisanku.....". Bayu bangkit dari tempat
duduknya, menghampiriku dan mencium keningku dengan penuh ketulusan. "Aku
mencintaimu Nis....", ucapnya sebelum akhirnya melangkah pergi dan
meninggalkanku sendirian di Cafe dengan perasaan campur aduk tak karuan.
*****
Aku benar-benar
menikmati kebebasanku saat ini. Saat saat dimana aku telah lepas dr kebohongan
atas kepalsuan hubunganku dengan Bayu, dan saat saat kesendirianku. Sebenarnya
aku sangat ingin bertemu Darren, tapi aku masih belum siap. Aku masih ingin
seperti ini....
"Mbak Nisa,
ada tamu di bawah....". Bi Erna menyadarkanku dari lamunan.
"Tamu?, siapa
Bi?". Tanyaku penasaran.
"Haduh....
Siapa ya mbak, Bibi juga lupa namanya. Yang pasti perempuan, tinggi, putih,
agak bule-bule gitu mbak.....". Otakku langsung meloading semua orang yang
kukenal dengan ciri-ciri itu.
"Mbak Farah
Bi?", aku memastikan.
"Bukan mbak,
kalo Mbak Farah kan Bibi kenal. Lebih baik Mbak Nisa turun ke bawah dulu
saja.....". Aku mengikuti Bi Erna turun kebawah.
Ternyata yang
dimaksut Bi Erna adalah Clare, 'tapi... Tunggu tunggu, Clare???'. Tanyaku dalam
hati. 'Buat apa dia ingin bertemu denganku?, dan tau darimana dia alamatku?'.
Pertanyaan pertanyaan itu muncul silih berganti memenuhi otakku.
"Nisa......",
Clare memelukku dengan nada sendu.
"Duduk dulu Clare....". Aku mempersilahkan Clare duduk dan
mengamati raut wajahnya yang terlihat sedih.
"Ada
apa?", tanyaku tanpa basa-basi. Clare memegang perutnya.
"Aku.... Aku
hamil Nis....". Nadanya terisak.
"Hamil?",
aku mengulangi pernyataannya lagi. "Lalu?". Tanyaku, aku masih gak
mengerti arah pembicaraan Clare.
"Darren Nis,
Darren ayah dari anak ini. Tapi Darren gak mau tanggung jawab..... ".
DEG!!! Bagaikan didorong dari lantai 10sebuah gedung tanpa persiapan, rasanya
hatiku remuk. Sekuat tenaga aku menahan air mata dengan menggigit bibir bawahku
kuat-kuat. 'Aku gak percaya! Ini semua pasti bohong!!!! Darren cowok baik-baik,
dia gak mungkin seperti itu!!!', jeritku dalam hati.
"Kamu bohong
kan Clare?, Darren gak mungkin kayak gitu....". Clare menggeleng,
tangisnya semakin kencang.
"Darren ayah
dari anak ini Nis, semuanya terjadi saat kita berdua sedang merayakan pesta
dirumahku saat tahun baru kemaren... Dan aku baru menyadari kehamilan ini
sebulan kemarin dan Darren menolak anak ini Nis....". Kepalaku berputar
putar, aku tak bisa mencerna kata-kata Clare. Rasanya otakku menolak semua
cerita itu.
"Kumohon Nis,
yakinkan Darren untuk mengakui anak ini. Aku gak ingin menggugurkan
kandunganku, aku sudah berdosa dan aku gak mau menanggung dosa lebih banyak
lagi.......". Clare bersimpuh dihadapanku, aku hanya diam. Semua
kata-kataku terhenti di tenggorokan.
"Aku mohon
Nis, Darren kembali kesini dan aku mohon kamu mau menemuinya untuk membujuknya
Nis, cuman kamu yang bisa membujuknya.....".
Aku bangkit dari
tempat dudukku, "Lebih baik kamu pulang sekarang Clare!". Aku
meninggalkan Clare, masuk kamar dan menangis sejadi jadinya.
Rasanya seperti
hampir mati ketika aku mendengar itu semua. Tubuhku menggigil menahan rasa
sakit hati yang begitu Dahsyat, aku rela jika Darren memilih orang lain, tapi
aku gak habiz fikir Darren bisa berkelakuan seperti itu. Aku mengenal Darren
sejak kelas 1 SD dan kita selalu bersama, aku yakin Darren tak seperti itu!!,
tapi perut clare? Itu bukti nyata!!. 'Arggghhhhh------ aku bisa gila kalo terus
begini!!!'. Jeritku.
Aku mengambil
jacket dan tasku lalu memacu motorku ke jalanan, membelah kota surabaya yang
lengang di malam hari karna ini sudah hampir jam 11 malam. Satu-satunya tempat
yang ada di pikiranku adalah rumah Darren. Yach aku harus menemuinya!.
Kedai sudah tutup
saat aku tiba disana, aku bergegas kebelakang ke rumah Darren. Dengan tidak
sabar, aku memencet Bel berkali - kali. Hingga lebih dari 10 kali akhirnya
pintu terbuka. Aku melihat wajahnya, kuyu dan tampak ada beban berat yang
menggantung di pelupuk matanya.
"Kamu jahat
Rren!!! Kamu jahat!!! Kenapa kamu bisa bertingkah sebodoh itu!!!", aku
memukul - mukul dada Darren yang bidang dengan tangis histeris.
Darren hanya diam
mematung menatapku sedih.
"kenapa harus
begini sih Rren??, aku mencintaimu! Sangat mencintaimu. Selama setahun ini aku
berjuang untuk bisa bersamamu, tapi kenapa akhirnya malah begini Rren??".
Pernyataan cinta itu mengalir begitu saja.
Aku terduduk lemas dihadapannya, rasanya sluruh tenagaku sudah habis terkuras karna kejadian ini. Darren memapahku bangun
dan mendudukkanku di sofa, memelukku untuk waktu yang lama tanpa bersuara.
"Maafkan aku
Nis, ini semua gak seperti yang kamu dengar. Semuanya akan baik - baik saja,
aku janji.....". Nada suara Darren getir, entah harus berpihak pada siapa
aku sekarang, aku tak peduli! Kalaupun aku harus kehilangannya demi orang lain,
biarkan aku memilikinya untuk saat ini.
"Aku capek
Rren, aku lelah...... Aku ingin semuanya kembali seperti dulu lagi....".
Darren mengecup
keningku lembut, "kamu istirahat sekarang ya, jangan fikirkan hal ini
lagi. Semuanya akan baik - baik saja, aku janji....". Kali ini aku
membiarkan diriku percaya padanya, perlahan aku melepas semua masalah ini dan
mulai terlelap dipelukannya.
Aku terbangun
karna mendengar suara ribut diluar. Oh ya tuhan... Satu hal yang aku sadari.
Aku sedang berada di kamar Darren, dan aku yakin suara yang kudengar barusan
adalah suaranya. Aku membuka knop pintu dengan perlahan agar aku bisa mendengar
apa yang sedang di bicarakan.
"Sudahlah
mbak, aku mohon mbak percaya sama aku! Bayi yang di kandung Clare bukan
anakku!". Aku yakin itu suara Darren, dan tak diragukan lagi lawan
bicaranya adalah mbak Farah.
"Tapi Clare
tetap ngotot kalo kalian sudah melakukannya di malam tahun baru dan dia
mengandung anakmu Rren!!!, sekarang orang tua Clare sudah tahu masalah ini.
Mereka meminta mbak untuk memaksamu menikahinya. Mbak berada di posisi yang
serba salah saat ini, mbak harap kamu mau mengalah dan menikah.....".
Suara Mbak Farah terdengar pilu.
"Gak!!!, aku
gak bisa mbak!!! Ini semua gila!!!, Clare yang menjebakku!!!. Aku memang
bersamanya dimalam itu, bahkan aku yang mengantar Clare ke kamarnya karna dia
sudah hangover dan hampir pingsan. Setelah itu aku balik ke bawah dan
ngelanjutin party lagi... Clare cuman mengarang cerita, percayalah
mbak!!!". Darren terdengar memaksa, tapi hanya isakan yang terdengar dari
Mbak Farah.
"Mbak gak
tahu harus ngapain sekarang Rren, jujur mbak bingung. Sebagai wanita mbak gak
tega ngelihat kandungan Clare yang semakin lama semakin membesar, tapi sebagai
kakak mbak juga gak rela harus membuatmu berada di posisi pesakitan seperti
ini. Maafin mbak Rren, mbak gak mau bela siapa - siapa sekarang.....".
Terdengar langkah kaki mbak Farah menjauh meninggalkan rumah, dan langkah kaki
Darren mendekat kearah pintu kamar. Aku segera kembali ke tempat tidur dan
berpura-pura tidur. Darren mengamatiku sesaat, lalu duduk tepi tempat tidur.
"Maafkan aku
Nis harus mengacaukan perasaanmu dan membuatmu terluka.....". Darren
mengecup keningku lembut sebelum akhirnya meninggalkanku.
Aku terbangun
sesaat kemudian dan rumah Darren sudah sepi. Segera aku pulang kerumah sebelum
mama balik dari urusan bisnisnya di Jogja.
Aku tak menyadari
ada seseorang yang menungguku di ruang tamu saat aku masuk kerumah, sampai
sebuah sapaan membuatku berbalik.
"Adri???".
Aku cukup terkejut melihat keberadaannya di rumahku.
"Hey.... Are
you okay?, kok kamu berantakan begitu....". Adri menarik tanganku lembut
agar duduk disebelahnya. Aku mengangkat kedua bahuku.
"Ada apa
Dri?, tanyaku menanyakan maksud kedatangannya.
"Aku sudah
dengar soal kepergianmu ke Aceh, kamu serius?".
Aku mengangguk
mantap kearahnya, "Aku sudah yakin kali ini Dri... Dan gak ada apapun yang
bisa menghalangiku, aku ingin meninggalkan kehidupanku disini....". Air
mataku meluncur bebas tanpa di komando. Adri mendekat kearahku untuk
menenangkanku, tapi aku mundur. "Jangan Dri, aku gak apa-apa. Aku gak
ingin ada salah faham lagi.....". Adri perlahan mundur dan duduk d tempat
semula.
"Gimana
hubunganmu dengan Ade?", tanyaku untuk memastikan.
"Semuanya
baik-baik ajah kok Nis....".
"Syukurlah
kalo gitu...", aku merasa lega setidaknya aku tidak pergi dengan image
sebagai pengahancur hubungan orang lain.
*****
Berhari - hari aku
menunggu kabar dari Darren, tapi sia-sia!!!. Tak ada telpon, sms, email atau
apapun darinya yang membuatku semakin frustasi. 'Pembohong!!!, kamu bilang
semuanya akan baik-baik saja. Tapi sekarang kamu mengacaukan semuanya!!! Aku benci
kamu Rren...'. Tangisku dalam hati, sejenak aku melirik kearah kalender. Sore
ini aku akan berangkat ke Aceh, aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
'Mungkin ini jalan terbaik yang telah tuhan rencanakan untukku. Baik Darren
ataupun Bayu, salah satu dari mereka bukan jodohku....". Hiburku pada diri
sendiri.
Lama aku terdiam
di dalam kamar sampai tatapanku tertuju pada sebuah kotak emas diatas lemari.
Aku ingat, kotak emas itu kata Bi Erna milik Darren yang tertinggal saat
membawaku pulang dalam keadaan pingsan. Aku mengambil kotak itu dan mengusap
debu yang mulai menebal sehingga membuatku bersin bersin. Perlahan aku membuka
ikatan pitanya dan ternyata kotak itu berisi gaun cream yang pernah aku coba
dan Darren berencana memberikan gaun itu kepada cewek yang akan diajaknya ke
gala Dinner saat itu.
"Ma, kita
kerumah Darren dulu ya.....". Mama mengangguk menyetujui permintaanku dan
kembali fokus mengemudi. 2jam lagi aku akan meninggalkan kota ini dengan segala
ceritanya, dan untuk terakhir kalinya aku ingin bertemu Darren dan melepasnya
dari hatiku.
Aku memencet bel
rumah bergaya kolonial ini untuk ketiga kali sebelum akhirnya pintu rumah
terbuka.
"Nisa.....".
Mbak Farah memelukku, mbak Farah sudah tahu kalo aku akan datang untuk menemui
Darren. "Kamu jadi berangkat ke Aceh?", lanjutnya.
Aku mengangguk
pelan. "Hemm..... Kenapa mendadak sekali sih Nis?, aku pasti kangen sama
kamu.....". Rengek mbak Farah.
"Iya maaf
baru ngasih taunya kemarin mbak, aku juga pasti kangen sama mbak
Farah....". aku mengamati penjuru rumah, "O ya, kamu kesini kan mau
ketemu Darren. Dia diatas Nis di kamarnya, semenjak mama memutuskan agar Darren
bertunangan dulu dengan Clare dia jadi sering mengurung diri di kamar
Nis....". Ada kesedihan pada nada suara mbak Farah. Aku segera beranjak ke
lantai 2 dan mengetuk kamar Darren. Lama tak ada jawaban akhirnya aku langsung
masuk ke kamarnya. Darren bangkit dari kursi kerjanya saat aku masuk.
"Nisa.....".
Aku mendekat
kearahnya, dan Darren diam tak bergerak.
"Aku ingin
mengembalikan ini Rren,.... Semoga kamu bisa menemukan cewek yang pantas
menggunakan gaun ini. Aku ingin mengubur semua kenanganku Rren.....". Air
mataku mulai bercucuran tak terkendali.
"Kenapa kamu
pergi Nis?, kenapa kamu ninggalin aku disaat aku begini?". Nada suara
Darren serak.
"Aku sudah
cukup terluka Rren, dan aku bukan seorang masokist!!!". Jaritku histeris.
Seketika Darren langsung memelukku.
"Maafkan aku
Nis, aku memang bodoh!. Aku terlambat menyadari perasaanmu dan membuat
segalanya berantakan. Aku mencintaimu Nis, sangat men.....". Aku memotong
pembicaraannya.
"Cukup
Rren!!! Cukup!!!!, jangan dilanjutkan!!! Semuanya sudah percuma. Semuanya sudah
berakhir.....". Aku melepaskan pelukan Darren dan berlalu pergi dari
hadapannya. Aku tak ingin mendengar pengakuan apapun darinya, bagiku semuanya
sudah berakhir dan apa yang diucapkan Darren takkan mengubah apapun. Dia akan
tetap bertunangan dengan Clare. Dan aku?, aku tetap akan pergi ke Aceh. Jadi
semuanya sia-sia!, percuma!!!.
Mama hanya diam
menatapku yang terisak isak kecil saat kembali ke mobil dan mulai melaju menuju
bandara.
Perpisahan antara
aku dan mama benar-benar memilukan, mama tak henti - hentinya menangis dan tak
mau melepaskan pelukannya sampai tiba waktunya aku masuk ke pesawat bersama
teman-teman seperjuanganku yang lain.
******
***Eight...
Hari ini tepat
setahun aku berada di kota serambi Makkah. Sudah tak bisa kugambarkan lagi
kerinduan yang aku rasakan pada kota kelahiranku, pada mama utamanya. Aku
bersiap siap di ruang tunggu Bandara. Rasa capek karna perjalanan selama 8 jam
ke kota, dan pesta perpisahan yang diadakan oleh dinas yang terkait tak
menyurutkan semangatku untuk segera pulang.
"Sudah gak
sabar untuk pulang ya?", goda Tantri teman seperjuanganku selama disini.
Aku mengangguk dengan semangat.
"Ciyee.....
Pasti pengen cepet-cepet ketemu sama si Doi ya?". DEG!!!, seperti ada yang
mencongkel paksa peti memori yang sudah lama terkuci di otakku. Mendadak semua
hal yang selama ini aku coba sembunyikan kembali terkuak.
"Helloo....
Are u okay?", tanyanya lagi sambil melambaikan tangannya di depanku dan
membuatku kembali kelam nyata.
"Eh... Sorry,
sorry. I'm ok!". Jawabku singkat.
"Yaudah, ayok
masuk ke pesawat. Sudah d tunggu temen-temen yang lain tuh....". Ajak
Tantri sambil menarik tanganku seenak jidat.
*****
Sesampainya di
bandara Juanda aku sengaja pulang sendiri kerumah dengan mobil carteran. Aku
ingin memberikan surprise untuk mama.
Dan Voila!!!!, bi
Erna langsung berlari lari masuk kedalam untuk memanggil mama di kamar. Dan tak
kalah hebohnya mamapun berlari - lari menyongsongku. Pelukan hangat mama yang
sangat aku rindukan akhirnya terbayar sudah. Aku dan mama sama-sama menangis
menumpahkan kerinduan yang tertahan selama setahun kita terpisah.
"Mama seneng
kamu pulang Nis, kamu jangan pergi lagi ya......". Pinta mama dengan nada
terisak.
"Iya ma, Nisa
juga seneng bisa kumpul lagi sama mama di rumah....". Kataku meyakinkan.
Jadilah seharian
aku menjadi seorang putri, mama memasakkan makanan kesukaanku. Mulai dari Soto,
rendang, sambal goreng kentang, dan banyak lagi. Benar - benar hari yang
menyenangkan.
*****
Pagi ini menjadi
pagi yang sangat cerah, aku bangun tidur di kamarku sendiri dan sudah ada
segelas susu vanilla buatan bi Erna kesukaanku. Aku mengamati kesekeliling
kamar, memikirkan apa yang aku lakukan hari ini. Sampai beberapa saat kemudian, aku memutuskan
untuk ke butik mama. Aku kangen dengan suasana butik dan karyawan-karyawan mama
yang rame.
"Mbak Nisa
mau kemana mbak?", tanya bi Erna saat menyiapkan sarapan pagiku di meja
makan.
"Aku mau
nyusulin mama ke butik Bi, kangen suasana di sana....". Jawabku riang
sambil mengunyah nasi goreng favoriteku. Bi Erna hanya manggut-manggut lalu
meninggalkanku sendirian.
Karyawan -
karyawan mama menyambutku dengan meriah bak artis pemenang piala oscar. Dan aku
hanya bisa tersenyum lebar menanggapinya.
"Mama dimana
mbak?", tanyaku pada mbak Ina yang bertugas sebagai kasir.
"Mama mbak
Nisa ada di kantornya mbak...".
Baru saja aku
hendak naik tangga keatas, mama sudah menuruni tangga dengan terburu-buru.
"Nisa??, kok
kamu disini sayang?. Harusnya kamu istirahat ajah dirumah, kan masih
capek....".
"Gak papa kok
ma, Nisa kangen suasana disini...". Jawabku santai. "Mama mau
kemana?", lanjutku bertanya.
"Mama ada
janji sama supplier setengah jam lagi, mama hampir lupa makanya buru-buru. Yaudah
kebetulan kalo gitu, kamu gantiin mama ya ngawasin butik....". Mama
mengecup keningku sebelum pergi. "Hati-hati ma.....". Teriakku.
Aku memutuskan
untuk berkeliling butik sambil melihat koleksi baju-baju terbaru mama.
"Mbak
Nisa....?". Aku menoleh ke sumber suara.
"Iya mbak
Ina, ada apa?".
"Bisa tolong
gantiin saya sebentar jaga kasir?, saya mau ngecek barang yang datang mbak.
Biasanya kan mamanya mbak yang ngecek.....".
"Iya mbak,
tinggal ajah. Biar aku yang jaga....". Sahutku sambil beranjak kebelakang
meja kasir. Aku sibuk membolak balik majalah fashion saat seorang pembeli
menghampiriku.
"Mbak ini
belanjaan saya, saya pakek creditcard ajah.....".
Aku mendongakkan
wajah dan ternyata....
"Tante
Karenina?", aku menyebut nama itu dengan nada kaget.
"Nisa???,
kamu sudah pulang Nak?", aku keluar dari balik meja kasir dan memeluk
tante Karenina mama Darren.
"Iya tante,
baru kemarin Tan......".
"Tante kangen
banget sama kamu Nis.....". Suara tante Karenina mendadak sendu.
"Iya tan,
Nisa juga......". Jawabku sambil melepas pelukan.
"Kamu gak
kangen sama Darren juga Nis?", pertanyaan tante Karenina barusan langsung
membuat dadaku sakit seketika. Aku tahu aku gak bisa menghindar dari bagian
yang sebenarnya ingin aku pendam.
"Nis....?",
tante karenina membuyarkan lamunanku.
"Iya tante
Nisa juga kangen, tapi masih belum ada waktu tan........". Jawabku lirih.
"Tapi janji
ya kamu harus main kerumah....". Pinta tante Karenina.
"Iya tan,
akan Nisa usahakan....".
tante Karenina pun
mengangguk,
dan beberapa saat
kemudian berlalu setelah membayar semua belajaannya.
*****
"Kamu cuman
ke butik ajah hari ini Nis?", tanya mama memecah keheningan makan malam.
"Iya ma,
niatnya mau main ke Ane tapi dia lagi sibuk ngurusi kepindahannya ke luar
kota.....".
"Lho?, kamu gak
kerumah Darren???". Kunyahan ayam gorengku mendadak berhenti di
tenggorokan dan membuatku tersedak. Aku meneguk air putih dengan cepat sebelum
kehabisan nafas.
"Kamu kenapa
sih sayang?, kok jadi gugup begitu waktu mama sebut nama Darren?". Tanya
mama sambil menatapku curiga.
"Gak apa-apa
kok ma, cuman Nisa kaget ajah....". Aku mencoba mengeles.
"Ato mungkin
kamu cemburu ya karna Darren sudah bertunangan?", goda mama sambil tertawa
cekikikan.
"Bertunangan?".
Ulangku.
"Iya.... Sama
siapa sih namanya.....". Mama mencoba mengingat-ingat.
"Cla...Clare. Iya namanya Clare Nis....".
'Jadi mereka sudah
bertunangan rupanya!, jangan-jangan sekarang mereka sudah menikah...'. Aku
mencoba mengabaikan pikiran-pikiran buruk itu, tapi gagal! Mataku mulai
memanas. Aku beranjak bangkit dari kursiku.
"Mau kemana
Nis?, kan belum selesai makannya....".
"Nisa sudah
kenyang ma, Nisa mau keatas dulu...".
Aku masuk ke kamar
dan menguncinya. Tangisku pecah seketika karna tak sanggup menahan sakit hati
yang begitu menyakitkan.
Rupanya mama baru
menyadari perasaanku, itu sebabnya kenapa mama tak menggedor - gedor pintu
kamarku seperti biasanya ketika sikapku mendadak aneh.
******
Keesokan harinya,
"Nis,kamu
rencana mau kemana hari ini?". Tanya mama sambil membuka gorden kamarku
yang membuatku langsung terbangun karna cahaya silaunya.
"Hemm.......
Gak tau ma, Nisa pengen dirumah ajah....". Sahutku bermalas malasan sambil
masih memeluk guling.
"Yaudah kalo
gitu temenin mama belanja bulanan ya Nis, mama gak mau sendirian....".
Pinta mama lalu pergi meninggalkanku sendirian tanpa menunggu jawabanku.
Sudah hampir sejam
aku dan mama berputar putar di carrefour dengan troli yang hampir penuh.
"Masih lama
ya ma?", tanyaku gak sabaran.
"Bentar lagi
Nis, mama masih mau nyari pembersih lantai ini. Tapi mama lupa
raknya....".
"Aduh ma,
Nisa capek nih! Nisa tunggu sini ajah ya sekalian cari sampo...". Sahutku
dengan wajah cemberut.
"Yaudah
yaudah, mama cuman bentar kok...". Sahut mama dengan nada bijak khas keibu
- ibuannya yang kusuka.
"Kak Nisa?",
seseorang memanggilku dari kejauhan dan perlahan menghampiriku.
"Aina??",
tanyaku untuk memastikan. Dan benar saja Aina langsung memelukku erat.
"Apa kabar
kak??", tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
"Baik kok,
kamu sendiri gimana?", tanyaku balik.
"Aku juga
baik kak....". Jawabnya ceria. "Sebelumnya aku mau ngucapin makasih
banyak buat semua pengorbanan yang kak Nisa udah lakukan untuk Kak Bayu, dan
sekarang Kak Bayu sudah benar-benar mencintaiku dengan tulus kak.....".
Senyumku ikut
mengembang mendengar penuturan Aina barusan. "aku ikut seneng Aina kalo
akhirnya kamu bisa bahagia sama Bayu....". Sahutku tulus.
"Iya kak,
bulan besok aku akan bertunangan sama Bayu. Kakak harus datang ya.....".
"Oh ya?,
selamat ya Aina. Aku ikut seneng... Kalo gak ada halangan apa-apa aku usahain
dateng kok....".
"Beneran ya
kak?", Tanya Aina untuk memastikan dan kujawab dengan anggukan mantap.
"Makasih
kak.....", Aina memelukku sekali lagi sebelum akhirnya pergi
meninggalkanku.
*****
***Nine...
Mendadak aku
kembali menjadi down dan terpuruk. Rupanya orang-orang disekitarku sudah
menemukan kebahagiannya masing-masing. Sedangkan aku?, aku masih bertahan
dengan kesendirian dan luka - luka di masa laluku yang belum berhasil aku
sembuhkan.
Aku memutuskan
untuk berlibur beberapa hari kerumah Ane yang ada di kota tahu Kediri. Dia baru
saja pindah mengikuti suaminya dan mengundangku untuk datang dan menginap di
rumah barunya.
"Kamu mau
sampai kapan terpuruk begitu?",
Ane melihatku
sedih, aku meletakkan cangkir teh yang sedari tadi hanya kupegang tanpa
kuminum.
"I'm fine
kok, buktinya sampai sekarang aku masih bisa survive...". Belaku untuk
diri sendiri.
"Iya kamu
memang bisa survive untuk hidup, tapi tanpa jiwa!. Kamu gak ubahnya kayak mayat
hidup Nis.....". Sahut Ane ketus.
"Sudahlah Ne,
aku gak ingin bahas itu sekarang.....". Dan deringan dari handphoneku
menyelamatkanku dari obrolan yang memang sengaja aku hindari setahun belakangan
ini.
"Nisa, kamu
kok gak ngasih kabar sih sama mama sayang?", suara dari seberang sana
langsung nyerocos panjang lebar.
"Iya ma maaf,
Nisa lagi sibuk bantuin Ane ma. Emangnya ada apa?, mama baik - baik ajah
kan?". Tanyaku dengan nada panik, karna bukan kebiasaan mama tiba-tiba
menelpon kalo bukan ada yang penting, palingan biasanya hanya sms ajah.
"Iya mama
baik-baik ajah kok Nis, o ya kamu rencana pulang kapan??". Aku mengerutkan
kening, "masih belum tau ma, Nisa masih pengen disini beberapa hari lagi.
Palingan hari minggu pagi Nisa pulang....". Jawabku untuk memastikan.
"Yasudah kalo
begitu, sampai jumpa hari minggu besok ya sayang.....". Mama menutup
telponnya dengan ceria. 'Tumben banget mama begitu? Aneh...'. Batinku dalam
hati.
*****
Sesuai janjiku,
hari minggu pagi aku meninggalkan rumah Ane dan kembali ke Surabaya. Hampir
semua bus penuh dan dengan dukungan udara Surabaya yang panas sukses membuatku
kelelahan dan langsung naik ke kamar untuk tidur.
Aku baru terbangun
saat bi Erna menggedor pintuku dengan keras.
"Ada apa sih
Bi?, Nisa masih capek banget nih....". Sahutku kesal sambil membuka pintu.
"Saya cuma
disuruh nganter ini Mbak, kata Ibu mbak Nisa harus segera mandi dan pakek baju
ini dan harus sudah turun ke bawah dalam waktu 15menit soalnya tamunya sudah
pada datang mbak....".
Aku mencoba
mencerna kata-kata bi Erna yang diucapkannya dengan cepat.
"Tunggu
tunggu dech Bi, memangnya ada acara apa di bawah?", tanyaku penasaran.
"Ada acara
keluarga mbak, semuanya pada nyariin mbak Nisa...". Jawab bi Erna sambil
menutup kembali pintuku.
Dengan semangat 45
aku masuk kamar mandi dan mengenakan dress yang bi Erna berikan tadi, sejenak
aku memperhatikan Dress itu, dress cream dengan aksen renda-renda yang
sepertinya aku kenal. Aku merasa sudah tak asing lagi dengan dress ini, tapi
yasudahlah. Otakku terlalu ber euforia untuk diganggu dengan pikiran soal siapa
yang membelikan dress ini untukku. tanpa make up dan sandal akupun turun
kebawah dengan riang.
*****
Langkahku
tiba-tiba berhenti saat tatapan mataku beradu dengan seorang pria yang
menggunakan setelan tuksedo hitam dengan gagahnya. Pria itu tersenyum kearaku
dengan manisnya, jantungku seolah jumpalitan mendadak. Perasaan itu, perasaan
yang sudah lama kupendam dalam kini bisa kurasakan lagi.
"Nisa duduk
sini sayang....". Mama menyadarkanku dari kebekuan.
Dengan langkah
gontai aku melangkah ke ruang tengah yang kini dipenuhi dengan banyak
keluargaku.
Pria itu berdiri
menyambutku dan mendudukanku di sampingnya.
Suasana menjadi
hening seketika,sebelum pria itu berdehem untuk mencairkan suasana.
"Nis, malam
ini aku dan keluargaku kesini ingin menyampaikan sesuatu.......". Pria itu
bersimpuh dihadapanku sambil memasangkan cincin dengan hiasan batu safir cantik
di jari manisku.
"Aku
menginginkanmu untuk menjadi istriku, ibu dari anak-anakku yang menemaniku
hingga maut yang memisahkan kita....". Air mataku tak terbendung lagi, aku
memeluk pria yang menjadi cinta abadiku dengan erat.
"Terimakasih
Rren, terimakasih sudah memilihku....".
Malam ini
benar-benar malam terindah dalam hidupku. Dalam sekejap statusku sudah berubah,
keputusanku untuk tetap meyakini akan cinta pertamaku memang tak salah. Aku
bahagia... Sangat sangat bahagia.....
"Nis......",
Sapaan itu mengagetkanku, aku menoleh kearah sumber suara.
"Apa?".
"Kamu kok
disini sih?, sudah malam nanti kamu sakit....". Darren melepas tuksedonya
dan memakaikannya padaku. Aku tersenyum manis
kearahnya.
"Aku masih
pengen disini....". Darrenpun mengajakku duduk di bangku yang ada di taman
belakang.
"Rren.....",
aku memecah keheningan.
"Iya...".
"Makasih ya
buat semuanya.....". Ucapku lirih. Darren merangkul pundakku lembut.
"Justru aku
yang mau bilang makasih Nis, terima kasih sudah mau menungguku. Dan terimakasih
sudah mau bertahan untukku......". Sebuah kecupan hangat mendarat di
keningku.
"Kamu
terlihat cantik dengan gaun ini Nis,....". Lanjutnya. Sontak aku langsung
mengamati gaun yang aku pakai. "Gaun ini........, ini kan gaun yang kamu
bilang untuk seseorang yang bakalan nemenin kamu ke acara gala dinner waktu itu kan....???". Tiba-tiba aku
bisa mengingat semuanya.
"Gaun ini
memang untukmu Nis, aku sengaja gak bilang saat itu karna aku ingin
memberikanmu kejutan. Tapi aku malah menemukanmu pingsan di tengah hujan malam
itu...... Gak ada yang pantas memakai gaun ini selain kamu Nis.....".
Tutur Darren.
"Hemm.....
Lalu soal Clare?", pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa bisa kutahan
lagi.
"Ah iya, aku
hampir lupa menceritakannya!. Seperti yang ku bilang sejak awal, aku bukan ayah
dari anak yang di kandungnya. 3 bulan setelah kepergianmu ke Aceh, aku bisa
menemukan cowok yang menghamili Clare dan membuatnya bertanggung jawab. Setelah
semuanya selesai, aku kembali fokus untuk melanjutkan kuliah S2ku yang sempat
tertunda dan membangun kembali bisnis Kedai Kopiku demi masa depan kita
Nis.....". Aku memeluk Darren erat.
"Makasih
Rren,......".
The End




0 komentar:
Posting Komentar