Jumat, 26 April 2013

And The First Love Will Always Stay



***One....

Aku mengamati statusnya yang muncul di beranda facebookku. Sepertinya dia sudah punya pacar baru yang bisa membuat hatinya berbunga - bunga seperti ini. Hemm..... Baguslah, setidaknya dia sudah bisa move on dariku. Dan aku gak harus merasa bersalah terus menerus seperti ini. Aku bangkit dari kursi dan melangkah keluar dari kelas yang sudah kosong sejak 10 menit yang lalu.
"Kak Nisa.....", seorang gadis menghentikan langkahku sebelum aku melewati pintu. Aku mengamati gadis yang ada dihadapanku ini, anaknya tinggi, kulitnya agak kecoklatan, rambutnya pendek, tapi lumayan manis untuk dipandang..
"Kakak bener yang namanya Nisa kan?". Tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ada apa?", tanyaku singkat.
"Bisa kita ngobrol sebentar?", gadis itu berjalan kearah kursi dan aku mengikutinya.
"Kakak gak keberatan kan kalo aku menanyai kakak tentang Kak Bayu?". Aku menatap gadis itu lurus - lurus, berbagai macam pertanyaan mendadak muncul di kepalaku.
"Kamu siapa?", tanyaku dengan nada agak ketus. Sungguh moodku bisa langsung berubah buruk saat mendengar nama Bayu disebut.

"O ya, aku lupa. Namaku Aina Kak. Aku angkatan 2012....". Jawabnya dengan nada ceria.
"Lalu?, untuk apa kamu bertanya tentang Bayu?". Raut wajah gadis itu mendadak berubah.
"Hemm.... Sebenernya aku sudah jadian sama Kak Bayu sejak seminggu yang lalu. Tapi aku merasa kak Bayu gak bisa menerima aku sepenuhnya Kak.....". Aina menatap wajahku dengan tatapan sedih, "Dan aku rasa ini semua karna Kak Bayu masih belum bisa melupakan kakak...". Tuturnya dengan mata berkaca - kaca.
"Gak ada yang penting kok yang harus aku ceritain, dan satu hal yang harus kamu tau!. antara aku dan Bayu gak pernah ada hubungan apapun, kita berdua hanya berteman dekat, tapi itu dulu, sekarang sudah gak lagi!". Kataku menegaskan.
"Tapi kak, kak Bayu masih bersikap dingin sama aku. Dan kata temen - temen deketnya kak Bayu, kak Bayu begitu karna masih suka sama kakak....". Tangis Aina pecah dihadapanku, mendadak ada rasa iba yang muncul dihatiku. Aku menyodorkan tisu ke arahnya, dia mengambil sehelai dan mengusap matanya yang basah.
"Aku juga gak tau kenapa dia begitu sama kamu, dan aku juga gak mau ikut campur sama hubungan kalian. Yang penting adalah, aku sudah gak ada hubungan apa - apa lagi sama Bayu dan kamu bisa percaya itu!". Aku bangkit dari kursi dan melangkah keluar kelas meninggalkan Aina yang masih terisak sendirian.

****
"Bisa kamu jauhi Aina?", seorang cowok yang tiba - tiba duduk dihadapanku saat aku sibuk meniup niup secangkir hot coklat yang barusan diantar olah pelayan cafe ke mejaku. Aku mendongak, mengalihkan perhatianku pada sumber suara itu.
"Aku gak pernah mendekatinya, jadi apa yang harus kujauhi?". Tanyaku balik pada sosok bermata dingin dihadapanku ini.
"Beberapa hari ini aku sering melihat Aina menemuimu, aku yakin dia pasti mengadu tentang sikap dinginku padamu!". Sahutnya dengan nada angkuh.
"Lalu?, apa masalahnya denganku?". Balasku.
"Aku gak ingin ada orang lain yang ikut campur hubunganku dengan Aina...". Jawabnya geram.
"Denger ya Bayu, aku sama sekali gak tertarik dengan hubungan percintaan kalian!. Kalo Aina datang menemuiku, itu karna keinginannya sendiri. Dan aku tak pernah menggubrisnya!. Kalo kamu ingin Aina berhenti merongrongku dengan keingintahuannya tentang masa lalu kita lebih baik kamu sendiri yang melarangnya!, kamu kan PACARNYA!!!". Sengaja aku memberikan penekanan pada kata yang terakhir itu, agar bayu sadar bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk bersama orang lain, dan aku benar - benar jengah jika harus menjadi kambing hitam atas sikap dinginnya kepada Aina. Aku bangkit dan meninggalkan café. Aku berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang dan memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman. Aku gak habis fikir dengan semua tindakan Bayu, cowok itu! Jalan pikirannya susah untuk ditebak. Dan aku sudah benar-benar tak ingin memikirkannya lagi sejak dia tiba-tiba memutuskan untuk menjauh dariku.

*****

Hari ini jam kuliah selesai lebih awal. "Kamu langsung pulang Nis?", tanya Ane, sahabatku. Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. "Emang kamu mau pulang Ne?", tanyaku balik.
"Hemm..... Enggak! Aku mau ke kantin dulu! Laperr....". Jawabnya sambil memegang perut datarnya. "Temenin dong Niss.....". lanjut Ane. Aku mengangguk pelan, "kamu duluan ajah Ne, aku ke kamar mandi dulu nanti aku susulin kamu".kataku sambil melangkah kearah kamar mandi meninggalkan Ane.

Didepan kamar mandi aku melihat sepasang cowok cewek sedang bertengkar hebat, aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya karna mereka membelakangiku. Si cewek berteriak teriak gak jelas sambil nangis, sedangkan si cowok hanya diam mematung. Sebenernya aku sudah kebelet banget pengen ke toilet, tapi aku juga gak enak kalo harus memotong acara pertengkaran mereka. Sekitar lima menit aku menunggi mereka sampai akhirnya nada sms dari handphoneku secara gak langsung memberitahukan keberadaanku pada mereka, dengan kompak mereka menoleh dan betapa terkejutnya aku saat aku menyadari mereka adalah Bayu dan Aina. Aina langsung berhambur lari kearahku dan memelukku, menumpahkan seluruh amarahnya di pelukanku. Otakku yang masih memproses kejadian yang barusan terjadi ini membuatku hanya bisa terdiam sampai akhirnya Bayu meninggalkan Aina yang masih menangis dipelukanku tanpa berkata-kata. Perlahan aku melepaskan pelukan Aina, dan mengambil tissue dari tasku lalu menyodorkannya. Aku menariknya kedalam toilet dan mengunci pintu toilet dari dalam agar tak ada orang lain yang masuk, seluruh hasrat ingin pipisku mendadak musnah. Aku membiarkan Aina yang masih sesenggukan. Setelah tangisnya benar-benar reda, aku baru membuka suara.
"Sudah selesai nangisnya?", kataku sambil memandangi matanya yang sembab dan memerah. Aina mengangguk pelan.
"Kak Bayu jahat kak, dia mutusin aku tadi.....". Aina membuka percakapan dengan nada masih terisak. Aku hanya diam. "Dia bilang, aku masih seperti anak TK yang sering menuntut perhatian lebih darinya. Dan dia gak tahan dengan sikapku itu....". Lanjutnya, kali ini sebutir air mata meluncur bebas ke pipinya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya, sebenarnya aku tak tega melihat Aina managis seperti ini terutama karna Bayu, hatinya masih sangat rapuh menghadapi perlakuan Bayu yang dingin. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mencampuri urusan mereka lagi.
"Kamu sudah memilih untuk mencintainya kan?", tanyaku pada Aina. Dia mengangguk lemah, aku bisa merasakan sorot ketulusan terpancar di wajahnya.
"Kamu harus kuat dan bertahan jika kamu meyakini bahwa apa yang telah kamu pilih adalah hal yang benar!". Kataku sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar mandi meninggalkannya sendirian.

Dengan langkah tergesa - gesa aku berjalan kearah kantin. Kulihat Ane sudah hampir menghabiskan makanannya dipiring.
"Antre banget ya Nis toiletnya?", tanyanya dengan mulut penuh makanan.
"Telen dulu itu makanan, baru ngomong! Kebiasaan banget dech kamu itu!". Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan, karna aku malas kalau harus membahas tentang Aina dan Bayu di saat seperti ini.

******

Sepulang ngampus aku gak langsung pulang, aku memutuskan untuk membelokkan laju motorku ke sebuah jalan yang agak sepi. Disana ada kedai kopi favouriteku.
Saat pertama kali masuk ke dalam kedai kopi ini, aku merasakan aroma kopi saling berebut untuk kuhirup, aroma yang sangat aku sukai.
Aku sudah mengenal baik pemilik kedai kopi ini, dia adalah Darren teman SDku dulu.
Seorang pelayan datang menghampiriku, membuatku mengalihkan perhatianku dari kesibukan mengecek akun twitterku.
"Mbak Nisa mau pesen kopi apa?", tanya Nico sang pelayan yang  sudah lama juga aku kenal.
"Kayak biasanya ajah Nic....", jawabku sambil tersenyum memerkan deretan gigiku putihku. "O ya, Darren kemana?". Tanyaku sambil menatap wajah Nico.
Nico membalas senyumku, "Mas Darrennya masih dikampus mbak, bentar lagi juga balik kok....". Jawabnya dengan sopan. Aku mengangguk kecil sebelum akhirnya Nico berlalu.
Lima menit kemudian seorang cowok menarik kursi yang ada dihadapanku.
"Sudah lama?", tanyanya sambil menatapku. Aku balas menatapnya dan tersenyum.
"Enggak kok, baru ajah.....". Jawabku singkat.
"Kamu kok tumben jam segini sudah selesai kuliahnya?", tanyanya. Belum sempat aku menjawab, Nico menghampiri meja kami sambil membawa secangkir white coffe favouriteku dengan asap yg masih mengepul. Sambil memindahkan cangkirku dari nampan ke meja dia mengalihkan perhatiaannya pada Darren.
"Mas Darren mau kopi juga?", tanyanya sopan pada kakak kelasnya di SMA ini yang sekarang menjadi bosnya. Darren menggeleng cepat, dan Nico pun berlalu meninggalkan kami.
"Dosenku ada urusan mendadak soalnya...". Aku menjawab pertanyaan Darren yang tadi.
"Kamu lagi ada masalah ya Nis?", rupanya Darren mengamati raut wajahku yang tak seceria biasanya.
Aku mengangkat wajahku dari tab-ku dan menatap wajahnya, lalu menghembuskan nafas berat. "Ya gitu deh....".
"Bayu lagi?", tanyanya untuk memastikan sumber masalahku. Aku mengangguk lemah. Sudah kebiasaan, aku menceritakan semua masalahku pada Darren, mulai dari hal-hal kecil sampai masalah besar sekalipun! Dan Darren tak pernah bosan mendengarnya.
"Yaudahlah Nis, gak usah terlalu mikirin dia lagi. Kan kamu sendiri sudah janji gak bakalan mau ikut campur sama urusannya lagi....". Darren mencoba mengingatkanku pada janji yang pernah kuucapkan dihadapnnya.
"Aku sudah gak minat Rren buat ikut campur, tapi selalu saja ada hal - hal yang seolah olah menarikku untuk masuk kelingkaran antara Bayu dan Aina...". Aku menghembuskan nafas berat.
"Hey come on Nis! You must be strong girl right?. Selama kamu bisa kuat, kamu gak akan mungkin terseret ke dalam lingkaran mereka!". Darren mencoba memberiku motovasi, aku bisa melihat binar-binar semangat dimata coklatnya.  Darren, cowok keturunan Belanda dengan segala kesempurnaan yang melekat padanya. Rambut dan warna matanya yang coklat, garis wajah yang indah dengan hidungnya yang mancung sikapnya yang sabar dalam menghadapiku, dan yang terpenting adalah dia  bintang untukku, yang selalu bisa aku andalkan. Mau tak mau aku tersenyum semanis mungkin sebagai ucapan terimakasihku untuknya.
"Kamu sudah makan?", aku bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan. Darren menggeleng cepat, "Belum".
"Yaudah, kita ke rumah kamu yuk. Aku masakin sesuatu untukmu...". Aku bangkit sambil memasukkan barang-barangku yang masih berceceran kedalam Tas dan berlalu mengikuti Darren berjalan kerumahnya yang ada di belakang Kedai Kopi.
Rumah ini kecil, hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Meski begitu, rumah ini selalu nyaman untukku. Darren memutar kunci dan membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk duluan kedalam rumah.
"Berantakan banget Rren.....", komentarku saat pertama kali memasuki ruang tamu. Ada banyak bungkus snack di meja dan ber botol-botol sofdrink yang sudah kosong. Aku menoleh kearah Darren mencoba mencari penjelasan, dan dia hanya meringis menanggapiku. "Biasalah Nis, semalem anak-anak pada kumpul disini nobar pertandingan bola....".
Aku melangkah kearah dapur, membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa aku masak. Darren mengamati gerak - gerikku dari ruang tamu untuk beberapa saat.
"Kamu perlu bantuan?", tawarnya, saat melihatku mengambil wajan dari lemari.
"Gak usah, biar aku sendiri ajah. Ntar yang ada kamu malah mengacaukan semuanya!". Sahutku disambut tawa oleh Darren.
"Yaudah, kalo gitu aku tinggal mandi dulu ya Nis!". Darren meninggalkanku sendirian di dapur.
aku benar-benar sibuk di dapur, mulai dari memasak nasi sampai omelette. Setelah selesai, aku beralih membersihkan meja di ruang tamu agar aku bisa makan bersama dengan Darren disana.
"Wah.... Baunya enak banget Nis...". Darren yang tiba-tiba keluar dari kamarnya mengagetkanku.
"Ngagetin ajah kamu Rren, bantuin aku bawa makanannya kesini ya....". Dalam sekejap Darren menghilang di dapur dan kembali dengan makanan yang aku masak tadi. Semenit kemudian kita sudah sibuk dengan makanan masing-masing.
"Enak banget Nis, thanks ya....". Pujinya sambil menatap wajahku. Aku mengangguk pelan.
Setelah selesai makan dan Darren memaksa untuk mencuci piring, aku mulai sibuk dengan catatan dan pekerjaan kampusku. Darren menemaniku sambil menonton liputan olahraga di TV.
Mendadak mataku berat, mungkin karna efek kekenyangan dan udara dingin yang terpancar dari AC membuat mataku tak bisa kutahan lagi untuk menutup.

Aku terbangun dengan suasana gelap. "Ini dimana?", tanyaku dalam hati.  "Perasaan kasurku gak begini deh!". Mendadak perasaanku menjadi panik, aku ingat, aku mengantuk setelah makan bersama Darren dan mengerjakan peerku. Itu artinya? Aku sedang berada di kasur Darren!!! "OMG, maafin aku ya tuhan!!! Aku bener-bener gak sengaja!!!!". Jeritku dalam hati.  Aku meraba - raba dinding di sekitar tempat tiidur untuk menyalakan lampu, tapi sial kakiku tersandung meja. Kontan aku berteriak kesakitan.
"Awwww........". Aku memegangi kakiku yang cenut-cenut sekarang. Pintu kamar terbuka dan aku melihat sosok Darren yang tinggi besar masuk dan menyalakan lampu.
"Kamu kenapa Nis?", tanyanya dengan wajah kebingungan. Aku menatap kearah jari kakiku yang berdarah. Dengan sigap Darren membantuku berdiri dan mendudukkanku diatas kasur sambil menaikkan kedua kakiku. Kemudian Darren pergi dan kembali sejurus kemudian membawa kotak P3K. Dengan hati-hati dia mengobati lukaku dan membalutnya dengan perban tanpa ada rasa jijik sedikitpun. "Masih sakit?", tanyanya saat Darren selesai melekatkan plaster agar perbanku tidak lepas. Aku hanya meringis, menandakan bahwa aku masih kesakitan. "Aku mau pulang....", sambil mencoba menahan rasa sakitku, aku menurunkan kakiku yang sepertinya membengkak. Sebelum kakiku menyentuh lantai, darren menangkapnya dan menaikkannya lagi keatas kasur. "Kaki kamu masih sakit Nis!". Katanya tegas. "Tapi aku mau pulang Rren..., nanti mama marah kalo aku pulang kemalaman....". Aku sedikit merengek kearahnya. Aku faham banget, Darren pasti akan luluh kalo aku sudah merengek seperti ini didepannya. "Yasudah ayo, naik kepunggungku!. Aku anter kamu pulang....". Derren berjongkok dihadapanku, dan tanpa berkomentar aku menuruti keinginannya.
Darren mengantarku dengan mobil civic sports hitam kesayangannya. "Motorku gimana Rren???", tanyaku saat kita sedang berada di dalam perjalan pulang.
"Kamu tuh kayak sama siapa ajah sih Nis, gampanglah...!!! Biar aku urus motor kamu itu...". Jawabnya enteng yang kusambut dengan anggukan lemah.

*****
Keesokan harinya.
"Nis... Nisa..... Bangun sayang, sudah jam berapa ini?". Mama mengguncang guncangkan tubuhku dengan lembut. Aku mengerang perlahan dan kembali menarik selimutku. "Ini hari sabtu ma, aku libur kuliah.....".
Setelah beberapa menit mama tak berhasil membangunkanku, aku fikir mama sudah berlalu meninggalkan kamarku. Tapi, seseorang tiba-tiba membuka selimutku dengan kasar. Aku mengerang lagi, "aduh ma.... Sudah Nisa bilang kan, Nisa masih pengen bobok lagi....".
"Ini aku Nis, Darren!". Mataku langsung terbuka mendengar nama Darren. Ughhh---- sungguh, aku paling benci kalo harus ketemu orang lain disaat aku baru bangun tidur, kecuali mama tentunya yang sudah terbiasa dengan keadaan acak-acakanku. Aku menarik selimutku rapat-rapat.
"Kamu ngapain sih Rren pagi-pagi kesini?". Tanyaku dari balik selimut.
"Aku cuman mau ngecek keadaan kamu ajah!", jawabnya singkat. Aku terdiam. "Nis buka dong selimutnya!", kurasakan Darren duduk disalah satu sisi tempat tidurku dan menarik paksa selimutku. "Darren.... Bisa gak sih gak usah tarik-tarik selimutku. Aku lagi berantakan banget ini, dan aku gak pengen ada yang lihat!!!". Aku bersuara dengan setengah berteriak. Tawa Darren pun lepas, "Fannisa... Fannisa....", Darren memanggilku dengan nama  lengkapku. "Aku tuh sudah pernah lihat semua kejelakanmu!, sudahlah gak usah ngeles lagi....".lanjutnya.  Akhirnya dengan pasrah aku membuka selimutku. "Ngapain sih?", tanyaku dengan nada sewot.
"Temenin aku beli kemeja ya,....". Pintanya dengan nada penuh harap. Dari dulu sampe sekarang, Darren paling gak suka jalan-jalan sendirian. Kayak orang gila katanya!. "Kemeja buat apa'an???", aku mulai merapikan rambutku dengan jari.
"Buat acara gala Dinnernya anak FE di kampusku. Acara perpisahan sama kakak kelas yang kemaren diwisuda Nis, sabtu minggu depan....". Jawab Darren masih dengan tatapan berharapnya. Sejenak aku mulai berfikir, mengingat ingat agenda untuk hari ini. Setelah kuyakinkan pada diri sendiri kalo aku sedang free hari ini, aku pun beranjak dari tempat tidur dan menarik tangan Darren keluar dari kamarku. "Tunggu dibawah ya, aku mau mandi dulu!". Kataku sambil menutup pintu kamar.

Saat ini aku sedang berada di sebuah gerai pakaian cowok di salah satu mall elit di kota Surabaya ini. Darren sedang mencoba kemeja ke-3 yang kupilihkan. Terdengar suara pintu terbuka dari kamar pas, aku menoleh kearahnya dan mendapatinya mengenakan kemeja berwarna biru langit yang menonjolkan bahunya yang tegap serta dadanya yang berbentuk. "OMG dia sangat sangat keren!!!!". Aku menggigit bibir bawahku agar rasa kagumku ini tak terlontar melalui kata-kata. "Gimana Nis?", tanyanya sambil berjalan mendekat kearahku. Aku mengangguk mantap yang disambut senyum manis olehnya.
Setelah membayar kemeja Darren ke kasir, kita keluar dari gerai dan Darren menarikku masuk ke sebuah butik khusus gaun - gaun pesta.
"Kita ngapain kesini?", tanyaku dengan perasaan waswas. Darren tersenyum kearahku, "Tolong bantuin aku milih gaun buat cewek ya Nis, rencananya aku mau ngajak seseorang ke acara gala dinner itu dan ukuran badannya kurang lebih kayak kamu, makanya aku ngajakin kamu kesini....". Seperti ada jutaan pisau yang menghujam jantungku bertubi-tubi, aku merasakan sakit yang luar biasa. Aku CEMBURU!!!!, semua rasa GR yang sempat berkelebat di otakku mendadak musnah. Aku menggigit bibir bawahku, menahan amarahku agar tak meledak. "Aku gak boleh cemburu, aku bukan cewek pilihan Darren!, aku harus terima!", kataku dalam hati,  meyakinkan diri sendiri. Meski dengan berat hati, akhirnya aku mencoba beberapa gaun yang menurutku oke untuk dikenakan pasangan Darren di acara gala Dinner itu. Pilihanpun jatuh pada gaun cream selutut dengan aksen renda - renda dan bunga pada bagian dada, aku menatap diriku sendiri pada kaca. Sungguh aku terlihat berbeda dengan gaun ini, dadaku kembali sesak. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar tak ada airmata yang keluar. Setelah menguatkan diriku sendiri, aku melangkah keluar dari kamar pas. Aku bisa melihat senyum Darren mengembang kearahku. Perasaanku mendadak campur aduk tak karuan, segera setelah smuanya selesai aku meminta Darren mengantarku pulang.
"Kamu kenapa sih Nis, kok dari tadi diem ajah?", tanyanya saat kita berada di dalam mobil.
"Gak apa-apa Rren, cuman mendadak pusing ajah!". Jawabku singkat.
"Kamu sakit?", kali ini tangan kirinya meraba keningku. Aku menepisnya perlahan.
"Aku cuman butuh istirahat ajah!". Kali ini nada tegas yang meluncur dari bibirku. "Oke...oke aku antar kamu pulang sekarang...". Darrenpun pasrah terhadap sikapku.

*****

***Two...

Aku menatap handphone yang bergetar - getar sedari tadi itu. Diliputi rasa galau antara keinginan untuk mengabaikan dan mengangkatnya. Sungguh jengkel sekali rasanya!!!.
"Gak diangkat Nis?", Adri mengalihkan perhatianku.
"Gak penting kok....", sahutku singkat sambil mematikan handphone lalu memasukkannya kedalam tas.
Aku terlibat proyek yang sedang disusun oleh Adri, mantan TTMku. Sebenernya males banget harus kerja bareng dia, apalagi dengan latar belakang dia dulu pernah dekat denganku dan bahkan sempat menyatakan perasaannya. Tapi aku adalah aku, yang sangat sulit jatuh cinta. Karna bagiku cinta adalah sesuatu yang sakral, yang gak bisa dianggap main - main. Dan sejak pertama kali aku masuk sekolah dasar, aku sudah menetapkan cintaku pada seseorang, Darren!!!. He is my first love and maybe my forever love. aku mengehela nafas panjang.
"Nis, are you okay?", lagi-lagi Adri mengagetkanku. Aku menggeleng rendah.
"Gak ada lagi yang harus kita bahas kan Dri?, aku balik duluan ya....". Aku beranjak dari meja kantin yang kududuki dan hendak melangkah ketika seorang cewek menggebrak mejaku.
"Jadi ternyata kamu gini dibelakangku?", cewek itu melotot dengan tatap penuh emosi kearah Adri.
"Kamu ini apa-apa sih De?, kamu salah paham....". Adri bersuara dengan nada tenang.
"Seminggu ini kamu selalu menghindar dari aku, selalu banyak alasan buat gak ketemu aku!, maksud kamu apa?".  Adri merangkul pundak cewek itu dan mendudukkannya di kursi, sadar bahwa kita bertiga kini jadi sorotan seluruh penghuni kantin akhirnya aku juga ikut duduk dalam diam.
"Ade, kamu jangan salah faham dulu. Dia ini Nisa, temen SMAku. Aku minta tolong dia buat bantuin proyek software pendidikan buat anak SMP yang aku kerjain....". Adri menoleh kearahku dan akupun berinisiatif untuk menyodorkan tanganku kearah cewek yang ada disampingnya itu.
"Aku Nisa....", sejenak wajah cewek itu terlihat ragu menatap kearahku sebelum akhirnya dia menyambut uluran tanganku. "Ade", sahutnya singkat. Dari raut wajahnya aku bisa menebak bawah cewek dihadapanku ini jelas - jelas tidak menyukaiku. Aku beranjak dari tempat dudukku, "Sorry ya, aku balik duluan. Ada urusan soalnya....". Buru - buru aku melangkahkan kakiku keluar menuju area parkir.
Perasaanku menjadi tak karuan lagi, kenapa aku harus jadi kambing hitam dari hubungan orang lain?, padahal tak ada sekalipun niatku untuk merusak hubungan mereka. Apa karna aku yang belom punya pacar ini?, tapi gimana mau punya pacar kalo ternyata orang yang aku taksir sudah punya cewek pilihannya sendiri. Akhirnya aku pulang dengan perasaan campur aduk.

"Nis.... Nisa, ada Darren dibawah.....". Mama mengguncang guncangkan tubuhku. Sudah 5hari ini aku menghindarinya, setelah sadar bahwa aku bukan cewek pilihannya karna aku tak ingin terluka lebih dalam lagi.
"Mau ngapain sih ma dia kesini?", tanyaku masih dengan wajah tertutup selimut.
"Nis, kamu gak boleh begitu.  Darren itu kan temen kamu, ayolah temui dia....". Mama mencoba membujukku dengan wajah memohonnya. "Males ma, sungguh dech! Nisa pengen tidur ajah sekarang..". Aku menarik selimutku lebih erat lagi.
"Yaudah kalo kamu gak mau turun nemuin Darren, biar Darren yang mama bawa keatas nemuin kamu!". Ancam mama. Wah bisa gawat kalo mama sudah ngancem begini, posisiku sudah terpojok. Aku Aku langsung membuka selimutku, "iya... Iya deh aku turun!". Aku mendengus kesal.


"Ada apa?", tanyaku mengagetkan Darren yang sedang mengamati ikan ikanku di taman belakang. Sontak dia menoleh kearahku dengan senyum manisnya yang seperti biasa.
"Kamu sakit?",tanyanya sambil berjalan mendekat kearahku. Aku hanya diam memandanginya, rupanya Darren tidak menangkap gelagat rasa sakit hatiku.
"Hey Nis, what's up girl?", tanyanya lagi dan kali ini dia duduk disebelahku sambil memandangiku lekat - lekat untuk mencari jawaban. Aku hanya menggeleng lemah, "I'm ok!". Kataku singkat. "Kalo baik - baik ajah, kenapa kamu gak pernah angkat telponku, bales smsku, dan gak mau ketemu aku?". Darren mengeluarkan uneg - uneg yang slama ini dipendamnya dengan wajah pasrah.
"Memangnya kenapa?", tanyaku balik.
"Ayolah Nis, aku sudah kenal kamu lama sekali. Tapi aku gak pernah ngeliat kamu kayak gini......". Nada suaranya menjadi turun satu oktaf.
"Intensitas lamanya perkenalan itu bukan jaminan kamu mengenal seseorang itu dengan baik Rren!!!, udahlah gak usah ribet ngurusin aku, aku bisa urus diri aku sendiri kok!". Aku mengakhiri percakapan sore itu dan kembali masuk kamar membiarkan Darren duduk termangu sendirian.

******

***Three...

Aku berada di depan sebuah rumah bergaya minimalis sambil menunggu pintunya terbuka. Andai saja Aina tak datang padaku dengan rasa frustasinya mungkin aku juga tak sudi untuk datang kemari. 'Oke mari kita perjelas semuanya sekarang!', kataku dalam hati.
"Ada apa?", tiba - tiba sosok Bayu yang berwajah imut bak malaikat tapi berhati dingin itu muncul dihadapanku.
"Boleh aku masuk?", tanyaku dengan nada se sopan mungkin. Bayu mempersilahkanku masuk dan membawaku ke ruang TV, dia sedang main PS rupanya. Kita sama - sama terdiam untuk beberapa menit sampai akhirnya aku buka suara memecah keheningan.
"Boleh aku tau kenapa kamu mutusin Aina?", Bayu sontak langsung menoleh kearahku sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Memangnya kenapa?", tanyanya balik. "Aku cuman bener - bener gak ngerti ajah sama kamu, maksud kamu apa sih?, kamu jadian sama Aina lalu kamu mengabaikannya dan sekarang kamu memutuskannya! Kamu pikir Aina itu boneka yang gak punya perasaan??". Nada suaraku naik satu oktaf, tetapi aku masih terus menahan luapan emosi yang mulai memenuhi rongga otakku. "Kenapa kamu ikut campur hubunganku dengan Aina?, sudah aku tegaskan kalo aku tak ingin siapapun mencampuri urusanku!". Bentak Bayu. Mendadak ada perasaan takut yang muncul, tapi segera kuhapuskan rasa itu.
"Aku juga gak sudi ikut campur urusan kalian!, tapi masalahnya Aina selalu mendatangiku dan mengadu tentang kejelekanmu. Aku jengah Bay!!, aku gak bisa lari dari kenyataan bahwa lagi - lagi aku terseret dalam masalahmu!!". Dadaku naik turun, semua emosi diotakku meledak seketika. Bayu memelukku erat, dan membuatku terdiam seketika. Bayu berbisik ditelingaku, "Maafin aku sudah bikin kamu terlibat jauh dalam masalahku Nis!, jujur aku juga gak tau harus berbuat apa saat kamu gak ngasih jawaban apapun tentang perasaanku. Satu-satunya jalan yang ada diotakku untuk tahu perasaanmu adalah dengan membuatmu cemburu karna aku jadian sama Aina. Tapi ternyata itu malah membuatmu membenciku....". Bayu memelukku semakin erat, aku bisa merasakan setiap hembusan nafasnya. Aku melepaskan pelukannya, mencoba mengamati wajahnya yang kini tersirat rasa penyesalan. Bayu menyentuh pipiku lembut dan perlahan aku bisa merasakan keinginannya untuk menciumku, sontak aku memalingkan wajah dan membuatnya terkaget. "Kenapa?", kali ini suaranya melembut. Aku terdiam. Bayu mencoba menyentuh pipiku lagi dengan lembut, tapi sesuatu terjadi. Mendadak kepalaku dipenuhi oleh wajah Darren dengan tawa manisnya itu. Aku terhenyak dan bangkit dari sofa. "Kamu mau kemana Nis?", tanya Bayu dengan wajah bingung. Aku mengambil tasku dan melangkah keluar dari rumah Bayu. Aku berlari menyusuri jalanan kompleks perumahan Bayu. Jujur aku tak tahu lagi kemana kakiku akan membawaku. Pikiranku kalut. Aku terduduk di sebuah bangku taman yang sepi, mencoba mencerna apa yang sedang aku rasakan. Hari sudah mulai gelap dan mendung pun membuat langit terlihat lebih mencekam. Aku yakin, pasti Darren dan gadis pilihannya itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke gala dinner. Dan tentang Bayu, dia sangat mengharapkan cintaku sedangkan aku?, aku malah mengharapkan cinta dari seseorang yang memilih orang lain. Perasaanku perih, air mata mulai membasahi pipiku. Aku pernah membaca sebuah kutipan,
"Aku suka hujan, saat tetesannya berbaur dengan airmataku  takkan ada yang tahu saat itu aku menangis".
Dan sepertinya kali ini aku berpihak pada kutipan itu. Perlahan hujan mulai membasahiku dan tak kalah derasnya dengan air mataku. Entah untuk berapa lama aku membiarkan diriku terkena guyuran hujan, sampai seseorang menghampiriku dengan payungnya. Aku mendongak untuk melihat siapa yang datang. "Kamu??, ,”.  Tanyaku dengan suara serak dan tenaga yang mulai melemah. Dia menggeleng lemah dan menatapku sedih. Dia membantuku berdiri, dan ketika aku hendak melangkah semuanya menjadi gelap.

****

Aku terbangun dengan tubuh terbalut selimut di kamarku. Semua baju yang aku pakai kemarin sore sudah berubah menjadi piyama coklat favouriteku. 'Siapa yang anter  aku pulang ya?'. Otakku berputar - putar mencari jawaban tapi hasilnya Nihil. Bi Erna, pembantuku tiba-tiba melongokkan kepalanya kedalam kamar.
"Mbak Nisa sudah bangun?". Tanyanya sambil masuk ke dalam kamarku dan menuju jendela untuk membukanya.
"Siapa yang anter aku pulang bi?". Tanyaku sambil sibuk mencari - cari hanphone di dalam tas.
"Mas Darren mbak, kemarin sore jam 7 malam mas Darren datang kerumah tapi mbak Nisanya belum pulang, mas Darren nungguin mbak sampe jam 10 malam tapi mbak Nisa belom juga pulang. Sampe akhirnya mas Darren pergi dan balik lagi sambil gendong mbak Nisa yang sudah pingsan....". Aku hanya melongo mendengar penjelasan bi Erna. Saat aku mengecek handphone ada banyak 10 sms dan 16 panggilan tak terjawab. Semuanya dari Darren yang menanyakan keberadaanku, dan terselip satu sms dari mama yang mengabarkan kalo mama pergi keluar kota bersama budhe Nana, kakak mama. 'Pantesan ajah mama gak kelihatan dari tadi'. Batinku. Aku celingukan mencari sosok malaikat penolongku semalam.
"Mbak Nisa nyariin mas Darren ya?", tanya bi Erna yang menangkap gelagat kebingunganku. Aku mengangguk cepat, "Mas Darrennya sudah pergi pagi-pagi mbak, katanya ada acara kampus....". Seketika otakku berfikir keras, mencoba mengingat kegiatan Darren untuk hari ini. Aku menemukannya, ya gak salah! Darren kan jadi panitia ospek jurusan di kampusnya. Itu artinya dia bakalan ada di luar kota selama tiga hari. Astaga.... Astaga.... Kepalaku mendadak pusing!, itu artinya aku gak akan ketemu dia selama 3 hari kedepan!, batinku sedih. Aku mengalihkan perhatianku ke meja belajar ketika aku melihat sebuah kotak berukuran sedang berwarna gold ada disana.
"Itu kotak milik siapa bi?", tanyaku pada Bi Erna dengan setengah berteriak karna bi Erna sedang membereskan baju-baju basahku dikamar mandi.
"Itu mbak... sepertinya milik mas Darren, semalam dia datang kesini sambil bawa kotak itu. Tapi mas Darren pulang eh kotaknya nggak dibawa. Jadi saya letakkan di meja mbak deh.....". Jawab Bi Erna sambil berlalu pergi dan menutup pintu.
Aku termangu duduk sendirian di atas kasur, entah apa yang kupikirkan, yang pasti mendadak memori otakku blank.

******

***Four...

Hari ini hari minggu, jadi aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk menonton tayangan televisi. Entah sudah berapa ratus kali aku mengganti chanel tapi tak ada satupun acara yang mampu mengalihkan pikiranku dari Darren. Berkali - kali dia mencoba menelpon dan mengirim sms untukku, tak ada satupun yang aku gubris. Aku masih kalut dengan pikiranku sendiri. Dan untuk kesekian kalinya handphone ku bergetar, aku melirik kearah layar dan mendapati nama Adriansyah  disana. Segera aku mengangkat handphoneku dan terdengar suara dari seberang sana.
"Iya Dri..... Aku gak sibuk kok. Iya.. Iya, aku ke rumah kamu sekarang!". Aku bergegas masuk kamar untuk ganti baju dan langsung berangkat ke rumah Adri.

"Ini apanya yang kurang Dri?", tanyaku sesaat setelah aku sampai dan Adri menggiringku ke ruang tivinya. Aku melihat susunan program - program yang sedang dikerjakannya. "Itu kurang materinya ajah Nis....", Adri duduk disampingku. Hampir satu jam lamanya aku berkutat ketikan - ketikan materi yang aku masukkan ke programnya, sampai akhirnya aku menyadari Adri tertidur dan kepalanya kini berada di bahuku. Aku menghela nafas panjang. Pasti dia kelelahan karna harus menyelesaikan program yang harus di kumpulkannya besok. Aku mengenal Adri dengan baik, dia seorang yang pekerja keras. Dan aku gak akan kaget saat melihatnya tertidur kelelahan seperti ini, 'pasti semalaman dia gak tidur....'. Batinku dalam hati. Aku mengamati wajahnya jawanya yang khas itu, dia terlihat sangat damai dalam tidurnya. Aku kembali menekuni ketikanku ketika dengan tiba-tiba secara refleks Adri memeluk pinggangku. Aku yang kaget dengan hati-hati berniat untuk mengangkat tangannya. Tapi terlambat, muncullah seorang Ade yang entah gimana caranya dia bisa masuk ke dalam rumah dan sekarang di berdiri mematung dihadapanku dengan deraian air mata. "Aku... Aku gak nyangka kalian ada main dibelakangku!". Ekspresiku yang tak kalah kagetnya memerintahkan pada otakku agar aku bereaksi dengan cepat. Aku berdiri seketika dan membuat Adri terbangun. Aku mencoba mengejar Ade, tapi dia sudah keburu jauh. Akhirnya aku kembali kerumah Adri  dan melihatnya sedang duduk di sofa dengan tatapan bingung kepadaku.
"Itu tadi Ade yang kesini?, ato aku yang lagi mimpi?", tanyanya.
Aku mengangguk lemah, "Iya Dri, dan sepertinya dia salah faham....".
"Salah faham kenapa?", tanya Adri lagi masih dengan tatapan yang sama. Aku menceritakan semua yang terjadi dari awal sampai detik terakhir Ade pergi. Adri menatap mataku lurus, "maafin aku ya Nis, udah bikin kamu jadi korban kayak begini...". Aku hanya terdiam dan mengangguk lemah. "Kamu harus jelasin ke Ade yang sebenarnya Dri, aku tau kamu dan Ade saling cinta. Dan aku gak mau kalian berdua bermasalah karena kehadiranku.....". Aku berdiri sambil menjinjing tasku, "Aku balik dulu Dri, materinya sudah selesai semua aku tambahkan. Sampein permintaan maafku ke Ade ya....". Akupun melangkah keluar dari rumah Adri, dan pulang.

*******

***Five...

Aku sedang berjalan - jalan di mall sendirian saat seseorang menepuk bahuku keras dan dengan terpaksa membuatku menoleh ke arahnya.
"Mbak Farah?", dan sosok yang kusebut namanya barusan langsung memelukku erat.
"Apa kabar Nis?, lama ya kita nggak ketemu....". Sapanya hangat. Masih dalam pelukannya, aku menjawab pertanyaan mbak Farah dengan sukacita. "Baik mbak, mbak sendiri gimana?". Aku melepaskan pelukanku dan mengamati sosok wanita cantik dengan rambut coklat dan warna mata yang senada ini. Mbak Farah adalah kakak kandung Darren yang tinggal di Belanda bersama omanya untuk meneruskan kuliah S2. "Aku baik juga Nis, is like you see.....". Jawabnya sambil tersenyum lebar. Tanpa aku sadari sepasang mata yang sedari tadi berdiri di Belakang mbak Farah mengusikku, seolah mengerti akan isyaratku mbak Farah langsung menoleh kearahnya dan memperkenalkannya padaku. "O ya Nis, Kenalin ini Clare adik tingkatku di Belanda. Dia keturunan Belanda Makassar...., Clare ini Nisa, temen Darren dari jama SD dulu....". Tuturnya sambil tertawa. Aku menjabat tangan Clare dengan hangat. "Hallo.... Aku Nisa...Nice to meet you...", sapaku ramah. "Aku Clare... Nice to meet you too....", balasnya dengan senyum yang anggun. Dia sangat cantik, dengan tubuh langsing dan rambut keriting hitamnya. Mbak Farah berbisik kearahku, "Dia suka banget sama Darren sejak ketemu setahun yang lalu saat Darren menghabiskan liburan semesternya di Belanda....". Mbak Farah cekikikan, dan aku hanya bisa tersenyum garing menyambutnya. Mendadak ada yang sakit di dadaku, rasanya sesak dan mataku mulai memanas. Buru - buru aku berpamitan pada kak Farah dan segera berlalu dari hadapannya.

*****

Sekilas aku melihat sosok Aina yang mondar - mandir di depan kelasku, sesekali ia melirik kearahku yang sedang fokus mendengarkan penjelassan materi dari dosen. Handphoneku bergetar dan 2 sms masuk secara berurutan.
Sms pertama dari Darren,

Pulang kuliah bisa mampir ke Cafe?

Aku menutup sms itu, dan beralih ke sms yang kedua, dari Aina.

Kak Nisa masih lama kuliahnya?, ada hal penting yang harus aku sampaikan ke kakak. Darurat!!!

Aku menutup sms itu juga, dan kembali fokus pada penjelasan dosenku. Saat kuliah selesai dan aku beranjak keluar kelas, Aina menarikku ke pojokan.
"Ada apa sih?", tanyaku sedikit ketus.
"Bayu kak..... Kak Bayu kecelakaan semalem.....". Air mata Aina mulai bercucuran. "Kecelakaan?", aku mengulang pemberitahuan Aina itu dengan nada serak, tenggorokanku mendadak kering. Aku tau, aku sudah tak mau berurusan dengannya. Tapi aku masih punya hati yang jelas-jelas mengkhawatirkannya saat Bayu kecelakaan seperti sekarang.
"Iya Kak, kak Nisa pasti ngerti kan sama kebiasaan kak Bayu yang suka kebut - kebutan dijalan raya saat dia frustasi....?", yah aku sangat mengerti kebiasaan Bayu yang satu itu, tapi seingatku dia sudah berhenti melakukan hal gila itu setahun yang lalu saat kita masih dekat, tapi kenapa dia kembali pada kebiasaan lamanya?.
"Dia tertabrak mobil saat ngebut kak, keadaannya parah..... Tadi mamanya telpon aku, dan cerita kalo kak Bayu sudah sadar tapi menolak oprasi untuk gegar otaknya sebelum dia ketemu kak Nisa....". Tangis Aina semakin keras, dan lagi - lagi aku hanya bisa menyodorkan Tissue kearahnya. "Aku mohon kak, temui kak Bayu sekarang juga.... Aku rela melakukan apapun asal kak Bayu selamat.....". Aina memohon dihadapanku, dan aku? Perasaanku mendadak kacau. Dan aku hanya bisa menurut saat Aina menarik tanganku untuk mengikutinya menuju Rumah sakit.

Aku bertemu mama papa Bayu di depan kamar perawatannya. Aku sudah mengenal mereka sejak aku dekat dengan Bayu dulu.
"Nisa......", mama Bayu menghambur kearahku dengan matanya yang berkaca - kaca. Wajahnya terlihat 10 tahun lebih tua, pasti karna semaleman ngejagain Bayu disini.
"Maaf tante, Nisa baru tau kabar ini jadi baru sekarang bisa kesini.....". Kataku sambil melepaskan pelukan mamanya Bayu, tante Ira.
"Iya gak apa - apa Nis, kamu cepet masuk kedalam ya Bayu sudah Nungguin kamu..". Pintanya lembut, aku mengangguk kecil. "Permisi dulu tante, om....". Kataku berpamitan. Mereka mengangguk berbarengan.

Aku masuk ke kamar perawatan Bayu bersama Aina. Dia sedang tertidur rupanya. Aku dan Aina hanya duduk di samping ranjang Bayu dalam keheningan sampai akhirnya Bayu terbangun, membuka matanya. Dia menatap kearahku dan tersenyum. Aku hanya diam memandanginya, tengannya menyentuhku dan kini menggenggamku. Aku bisa merasakan usaha keras Aina untuk menahan air matanya. Perasaanku tak karuan, jelas aku sedih harus melihat Aina berkorban seperti ini, dan aku? Mendadak kepalaku dipenuhi wajah Darren dan perasaanku terhadapnya, yang sudah aku pendam selama bertahun tahun.
"Kamu sudah Baikan?", tanyaku pada Bayu sekaligus untuk memecah keheningan. Bayu mengangguk kearahku dan tersenyum.
"Tante Ira bilang kamu harus segera di oprasi Bay, kenapa kamu gak mau?". Aku menatap mata Bayu yang kini berubah sayu karna menahan sakitnya, genggamannya mengeras. "Buat apa aku sembuh?, kalo keadaannya tetap sama. Aku gak bisa milikin kamu....aku mau kamu terima aku Nis, jadi pacar kamu.....". Jawabnya dengan suara serak dan terbata. Perasaan galau menyerangku seketika, aku menoleh ke arah Aina. Tatapan mata Aina seolah olah memohon padaku untuk menerima permintaan Bayu. Tenggorokanku mengering lagi, aku tercekat memikirkan cintaku pada Darren dan juga keadaan Bayu yang membahayakan nyawanya. Kali ini perasaanku kalah, aku akhirnya mengangguk kearah Bayu. "Iya aku bakalan jadi pacar kamu, asal kamu janji harus mau dioprasi dan sembuh.....". Kataku pada akhirnya.
Sejam kemudian Bayu sudah masuk ruang operasi dan aku, Aina, tante Ira dan om Tio papa Bayu terdiam dengan gelisah menunggu proses operasi itu selesai sambil terus berdoa.

*****

***Six...

Sebulan sudah Bayu keluar dari rumah sakit, dan seperti janjiku aku resmi menjadi pacarnya sekarang. Jujur dadaku mendadak sesak saat tiba-tiba wajah Darren terlintas di benakku saat aku sedang bersama Bayu. Aku menghindari Darren sebulan ini, karna jujur aku masih gak mau dia tau hubunganku dengan Bayu.
"Sayang.... Kamu kenapa?", Bayu menyentuh pipiku lembut yang langsung menyadarkanku. Secepat kilat aku menggeleng, "aku....aku gak apa-apa kok Bay....". "Kita mau kemana?", aku memecah keheningan.
"Kita mampir ke kedai kopi tempat temenku kerja dulu ya sayang, aku ada urusan sama dia.....". Bayu membelokkan mobilnya ke jalan kecil yang tak asing lagi bagiku. Yah.... Ini jalan menuju kedai kopinya Darren, aku berdoa dalam hati agar tempat yang dimaksud Bayu bukan Kedai Kopinya Darren. Tapi sia -sia, mestinya aku sadar hanya ada satu Kedai Kopi  disini dan itu milik  Darren. Mobil berhenti dan Bayu membuka pintu kemudi, "ayo sayang turun....". Ajaknya. Mendadak perutku mulas, seperti ada jutaan lebah didalamnya. Bagaimana ini ya tuhan?, selama ini aku menghindari Darren tanpa alasan yang jelas. Lalu sekarang jika aku muncul dihadapannya bersama Bayu, apa yang akan dipikirkannya ya tuhan???.
Aku berjalan di belakang Bayu untuk menjaga jarak, tapi sial! Bayu malah melambat dan sekarang dia memeluk pinggangku erat.
"Hai Nic apa kabar....!!!", sapanya pada Nico yang langsung menyambut kami begitu kamu memasuki Kedai.
"Hallo Bay... Baik bro!!, kamu sendiri gimana kabar?". Tanyanya sambil memeluk Bayu lalu sedetik kemudia melepaskannya. "Sama baiknya bro!!, o ya kenalin, ini Nisa pacarku....". Nico hanya mengerjap ngerjapkan pandangannya padaku, yang kusambut dengan senyum garing.
"Pantesan ya sekarang mbak Nisa gak pernah kesini lagi, pasti Bayu bikin mbak Nisa sibuk ya?", tawa Nico meledak dan membuat Bayu penasaran.
"Kalian sudah saling kenal?", Bayu menatapku dan Nico bergantian dengan tatapan meminta penjelasan. "Iya lah Bay, mbak Nisa ini sahabatnya mas Darren, Bos sekaligus pemilik tempat ini.....!!! Gimana aku gak kenal coba?". Tawa bayu masih menggema, dan aku mulai mengedarkan pandanganku ke segala penjuru kedai mencari keberadaan Darren, tapi syukurlah. Mungkin Darren masih di kampus.
Nico mengajak Bayu dan aku ngobrol disalah satu meja yang ada disudut. Awalnya aku bertanya - tanya, gimana bisa Bayu sekelas sama Nico saat SD. Padahal Bayu sekarang satu angkatan denganku. Dan aku baru inget kalo Bayu adalah siswa akselerasi yang menempuh SMP dan SMAnya dalam waktu 4tahun. Yah... Bukan hal aneh lagi lah bagi seseorang seperti bayu yang memiliki IQ jenius. Dan kenyataannya diusianya yang lebih muda 2tahun dariku, dia bisa meraih IPK tertinggi se jurusanku. Bayu dan Nico masih sibuk ngobrol ini itu tentang urusan mereka yang aku gak mau tau itu apa. Tapi mendadak perasaanku gelisah, aku mencium parfum Hugo Boss dengan aroma yang sangat familiar untukku. Semakin dekat, semakin dekat dan akhirnya....
"Nisa???", dia menepuk pundakku lembut dari belakang. Aku menoleh kearahnya dengan perasaan gugup, "Darren....., baru pulang kuliah?", tanyaku ber basa - basi untuk memecah keheningan. Raut wajah Darren tak kalah gugupnya saat aku melihat sosok yang berdiri dibelakangnya. Aku tersenyum kearahnya, "Hai Clare apa kabar?", Clare langsung menghampiriku dan memelukku, mungkin dia terbiasa dengan adat orang belanda. Aku menyambutnya dengan hangat. "I'm fine Nis, nice to meet you again....". Senyuman Clare tak kalah lebarnya. "Kalian sudah saling kenal?", Darren menatap kami berdua. "Iya, minggu lalu ketemu di mall sama mbak Farah juga....". Jawabku kikuk. Rupanya Darren mulai menatap ke arah Bayu dengan tatapan bertanya, "Aku balik dulu Rren,....". Aku segera beranjak dan berjalan keluar dengan cepat tanpa melihat reaksi Darren, menuju mobil outlander sport hitamnya Bayu.
"Kenapa buru - buru sih sayang?", Bayu memecah keheningan saat mobil mulai membelah jalanan kota Surabaya. "Gak apa-apa Bay, aku cuman mendadak pusing ajah....". Jawabku ngasal. Aku cuman gak mau Darren tau tentang Bayu dari mulutku sendiri, biar dia tau dari Nico ajah. "Yaudah, aku anter kamu pulang....", sahutnya dan aku hanya mengangguk kecil.

*****
Hari ini Mbak Farah mengundangku kerumahnya, ada acara kumpul-kumpul katanya. Sebenernya males banget aku kesana, apalagi sampai saat ini aku masih menghindar dari Darren.

"Haii Niss.......", mbak Farah menyambutku dengan pelukan hangat saat aku memasuki rumah keluarga Darren. Tak kalah hebohnya, mama Darren pun memelukku "Hallo sayang, kok sudah jarang main kesini sih?". Tanyanya. "Iya.... Anu.... Nisa lagi sibuk sama tugas kuliah tante", jawabku dengan nada gugup. "Hai Nis, how are you?", DEG!! Jantungku serasa berhenti mendengar suara itu, suara yang mulai gak asing lagi di telingaku. Aku berbalik dan benar dugaanku, Clare sudah berdiri dihadapanku sambil merentangkan tangannya, "Hai Clare I'm fine....", jawabku sambil balas memeluknya.
"Ini acara dalam rangka apa sih mbak?", tanyaku saat aku dan mbak Farah sedang mengambil kue di meja kecil yang ada di sudut taman belakang.
"Bukan acara penting kok Nis, cuman kumpul-kumpul bareng temen-temen mbak yang sama-sama kuliah di Belanda sekaligus farewell party buat Clare karna besok dia sudah balik ke Belanda duluan, kuliahnya dimulai 1minggu lebih awal katanya.....". Aku hanya manggut - manggut kecil menanggapi penjelasan mbak Farah. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh taman, "Nyariin Darren ya?". Tanya mbak Farah seolah mengerti apa yang aku cari. Aku mengangguk kecil sambil menundukkan kepala, malu. "Dia masih di jalan, tadi ada kuliah dadakan katanya! Palingan bentar lagi juga nyampe Nis....". Aku mengangguk kecil sebelum ngeloyor pergi dari hadapan mbak Farah.
Gak seberapa lama terdengar suara gaduh dari ruang tengah sambil menyebut nyebut nama Darren, aku langsung bangkit menuju sumber suara itu tapi langkahku terhenti, aku melihat Clare memeluk Darren hangat, diselingi godaan godaan dari mbak Farah, "Cie.... Yang habis ini long distance..... Lengket amat pelukannya!!!". 'Long distnace?', aku mengulang kata-kata itu dalam hati. Ya Tuhan?, jadi mereka sudah pacaran. Dadaku terasa dihantam batu besar, rasanya sakit sekali. Air mata meluncur bebas begitu saja di pipiku, mendadak aku panik. Ya tuhan, gimana kalo ada yang lihat aku nangis disini?, buru - buru aku mengambil tasku dan ngacir meninggalkan ruman bergaya kolonial itu tanpa pamit.

*****

Mbak Farah dan Darren gak henti - hentinya menelpon dan meng sms-ku sejak kejadian kabur itu dari rumahnya, tapi jujur perasaanku yang sudah terlanjur berantakan memerintahkan otakku untuk gak merespon semuanya, termasuk Bayu. Aku lebih memilih diam di rumah dan meminta bi Erna serta mama untuk bilang aku lagi gak di rumah kalo ada yang nekat mencariku kesini.

"Nisa!!!", bersamaan dengan itu pintu kamarku terbuka dengan keras. Aku yang sedang tiduran sambil baca majalah mengalihkan pndanganku kearah sumber suara itu, "iya ma..... Ada apa?". Sekilas aku mengamati mamaku yang dandanannya sudah rapi. "Ada Darren di taman Belakang, mama gak enak kalo harus bohong lagi sama Dia Nis...". "Emang mama mau kemana?", tanya mengalihkan pembicaraan. "Mama mau meeting sama rekan bisnis mama, mungkin pulangnya agak malam karna ini proyek besar". Aku menatap mamaku kagum, sejak papa meninggal mama menjadi single parents yang tangguh. Banting tulang demi aku dan masa depanku. "Nis, kok malah bengong sih sayang.....!! Cepet turun ya, kasihan Darren tuh! Mama berangkat ya...". Mama mencium keningku sebelum akhirnya pergi, dengan langkah super duper males aku turun ke bawah dan menemui Darren yang kali ini hanya duduk termangu di bangku taman. Aku duduk disebelahnya tanpa bersuara.
"Nis.....", Darren memecah kesunyian.
"Hemm.....".
"Kenapa kamu gak cerita kalo sudah jadian sama Bayu?". DEG!!! Jantungku mendadak berdegup kencang. Ya, cepat atau lambat pasti Darren tahu tentang ini. Aku hanya diam. "Nis..... Jawab donk!, kamu sudah gak nganggap aku sahabat kamu ya sampe kamu nyembunyiin ini smua dari aku?". Darren memutar bahuku agar aku menghadap kearahnya. 'Gimana aku bisa cerita Rren?, aku malah gak pengin kamu tahu semua ini....', batinku dalam hati.
"Niss??, kamu ngomong sesuatu donk Nis.....". Ditatapnya mataku lekat-lekat.
 "A...ak..aku.... Gak mau kamu tau semua ini Rren, ini smua terjadi karna aku gak punya pilihan. Kamu jelas tau kalo aku gak pernah cinta Bayu.....". Tangisku pecah, dan Darren memelukku. "It's okay, it's okay Nis..... Aku bisa ngerti kok...". Sahutnya sambil mengelus rambutku.
"Tapi, kamu sendiri kenapa gak bilang kalo sudah jadian sama Clare?", Suaraku mendadak serak saat mengucapkan nama itu, Darren melepaskan pelukanku dan wajahnya kini menatapku lekat. "Ini semua gak seperti yang kamu kira Nis, aku gak pernah nerima pernyataan cintanya Clare....". Suaranya lirih. Tangisku kembali pecah dan Darren memelukku lagi, untuk beberapa saat dia membiarkanku menangis sampai sesenggukan. Aku melepaskan pelukanku, dia mengamati wajahku lekat sambil mengusap sisa - sia air mataku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, Darren menciumku lembut aku bisa merasakan kehangatannya dari bibirku, mataku terpejam mencoba merekam semua ini tanpa ada sedetikpun yang terlewat. Untuk beberapa detik aku ingin waktu berhenti. Aku harus kembali ke dunia nyata saat Darren mencium keningku. "Kamu gak boleh sedih lagi ya dan harus janji jangan menghindar lagi dariku....". Aku mengangguk kecil.
"Masalah Bayu, aku bisa ngerti kok..... Kamu jangan khawatir....". Sahutnya lagi sambil tersenyum.
"Makasih Rren....". Kataku lirih.

*****
Hari ini benar - benar melelahkan, mulai dari kuliah, presentasi sampai praktikum semuanya ditumpahkan dihari ini sampai nyut -nyutan rasanya kepalaku.
"Kenapa Nis?", Ane memperhatikan tingkahku yang sedang memijit mijit pelipisku.
"Pusing nih kepalaku Ne!!!, gila ajah praktikumnya susah banget tadi.....". Aku mengeluh dengan wajah mengkerut, Ane hanya tertawa melihatku.
"Di tungguin pangeran kamu tuh di depan taman". Keningku mengkerut lebih dalam, "pangeran???", tanyaku pada Ane.
"Busyet deh nih anak!!!, iya pangeran kamu si Bayu.....". Jitakan Ane di ubun -ubunku membuatku tersadar akan statusku yang masih pacar Bayu. Bibirku membentuk huruf O menanggapinya.
"Yaudah aku duluan ya Ne, laporan sementaranya ada di kamu kan?", aku memastikan disambut dengan anggukan kecil dari Ane.
Aku melangkahkan kaki menuju taman, dan mendapati Bayu duduk di kap mobilnya dan sedang menatapku. Aku berjalan cepat menghampirinya,
"Hai sayang..., sudah selesai praktikumnya?", tanya Bayu sambil memeluk pinggangku erat dan mendudukkannya di kap mobil sebelahnya. Aku mengangguk pelan, "Kelas kamu juga sudah selesai?", aku balik bertanya. Bayu dan aku Kuliah di jurusan yang sama hanya saja kita berbeda kelas. "Sudah, tadi siang waktu kamu presentasi aku praktikum.....".
"Pulang yuk,.......", ajakku sambil beranjak dari kap mobil. "Kok pulang?, kita kerumah dulu ya.....". Tatapan mata Bayu merajuk kearahku, dan meski berat hati aku hanya bisa mengangguk menyetujuinya karna Bayu bukan tipe orang yang senang akan perlawanan.

Sesampainya di rumah Bayu, aku mendapati rumahnya sepi. "Tante sama om kemana?", tanyaku pada Bayu yang sedang melepas kaus kakinya.
"Mama lagi nemenin papa meeting ke singapura....", jawabnya Santai, "Kamu mau minum apa Nis?", Bayu Membuka kulkas dan meneguk jus Jeruk.
"Aku air putih ajah dech....", jawabku ngasal sambil membuka - buka majalah Fashion milik tante Ira. Bayu melangkah kearahku dengan segelas air putih, memberikannya padaku  lalu merebahkan kepalanya di pangkuanku. Aku hanya diam.
"Nis....", panggilnya.
"Hemm......... ". Sahutku sambil pura - pura membaca majalah. "Bisa gak sih majalahnya di taruh dulu....". Aku terkesiap dengan nada suara Bayu yang naik satu oktaf. Segera aku menutup majalah, menatap kearahnya.
 "Ada apa?", tanyaku mencoba lembut. "Kenapa handphone kamu jarang banget aktif akhir - akhir ini?", tanyanya dengan nada serius. Jujur aku gugup, aku bisa melihat tatapan lurus Bayu kearahku. "Hemm.... Gak ada apa - apa kok, aku sering lupa nge charge ajah....".  "Kamu pacarku kan Nis?", tanyanya lagi, kali ini aku menangkap ada keraguan yang tersirat didalamnya. "Ka...kamu kenapa tanya begitu Bay?", Bayu mengarahkan tanganku ke keningnya, segera aku menarik tanganku. "Kamu kenapa sih Nis?". Bayu bangkit dari posisi tidurnya dan duduk dihadapanku. "Aku.... Aku... Gak apa-apa kok Bay, aku cuman gak suka ajah kalo berlebihan....". Jawabku gugup. "Berlebihan katamu???, cuman pegang keningnya pacar kamu ajah kamu bilang berlebihan?", Bayu memegang kedua pipiku dan menatap mataku tajam, lalu dengan cepat Bayu mencium bibirku paksa. Aku terus meronta ronta melepaskan diri, tapi Bayu semakin menggila. Ya Tuhan aku gak mau hal bodoh terjadi sekarang, sekuat tenaga aku meronta, sampai akhirnya aku berhasil mendorong Bayu hingga dia terjatuh dan aku langsung berlari keluar dari rumahnya. Aku menyetop taxi yang kebetulan lewat, dan menumpahkan air mata yang sedari tadi kutahan. "Ke jalan Nias pak, Kedai Kopi....". Kataku, sambil menangis sesenggukan. Sopir taxi yang sedari tadi memperhatikanku dari kaca yang ada di bangku depan, akhirnya kembali fokus pada jalan di depannya setelah aku menyebutkan tempat tujuanku.
Begitu sampai di depan Kedai, aku langsung berlari ke rumah Darren ada di belakang. Nico yang yang mencoba menyapaku hanya menatapku kebingungan. Aku mengetuk ngetuk pintu rumah Darren dengan masih berderai air mata. Tapi tak ada jawaban. Akhirnya aku terduduk di depan pintu pasrah sambil terus menangis.
"Nisa......", seseorang memanggilku, aku menoleh dan mendapati Darren menatapku sedih. Dia langsung memelukku erat tanpa kata-kata.
"Kita masuk dulu ya....". Dia melepaskan pelukanku dan memapahku untuk masuk kedalam rumah.
Aku menangis sejadi jadinya, aku tau aku bukan cewek munafik yang menolak apa yang diminta Bayu. Tapi masalahnya, aku benci dipaksa!. Aku akan melakukannya dengan orang yang aku cinta, yang aku inginkan. Bukan dengan cara paksa seperti tadi.
"Kamu kenapa?", Darren merenggangkan pelukannya.
"Aku... Aku.. Takut Rren....". Tangisku mereda, hanya menyisakan isakan - isakan pilu.
"Kamu tenang ajah Nis, aku disini. Kamu aman sekarang.....".
Lama setelah tangisku reda, aku menceritakan kejadian yang terjadi dirumah Bayu tadi dan dengan lembut Darren menenangkanku.
Belaian tangan Darren dirambutku membuatku merasa aman dan nyaman, dia membiarkan kaos polo hijaunya basah karna air mataku.


Entah untuk berapa lama aku tertidur, aku terbangun karna mendengar suara ribut diluar. Dengan segera aku bangkit dan mengintip dari balik jendela. Darren sedang adu mulut dengan Bayu, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi seumur hidup untuk kali pertama aku melihat Darren marah dengan ekspresi paling menakutkan.
'Oh tidak, mereka mulai adu fisik!'. Batinku panik, tapi kakiku masih tertancap dibalik jendela. Bayu mulai meninju Darren membabi buta, tapi Darren bisa mengeles dengan mudah karna ilmu bela dirinya sudah tak diragukan. Dan kini Darren bersiap siap untuk membalas pukulan Bayu, tangannya sudah terayun keatas. Aku berlari sekuat tenaga keluar dan mencoba menghentikan tindakannya sebelum Darren membuat cedera otak yang pernah dialami Bayu menjadi lebih parah.
"Darren... Jangan!!!!!!". Aku memekik histeris!, tapi terlambat. Pukulan Darren pas mengenai pelipis kanan Bayu dan membuatnya langsung tersungkur ditanah.
"Bayuu......". Aku menghampirinya dan dia sudah tak bergerak lagi. Darah segar mengalir dari telinganya. Aku panik, jantungku serasa berdegup 100kali lebih cepat.
"Darren, kita harus bawa Bayu kerumah sakit sekarang!". Teriakku pilu.

Dan kini, aku mondar mandir di depan ruang gawat darurat. Nomer telpon mama papa Bayu gak bisa dihubungi dan aku gak kenal dengan satupun saudaranya.
"Nis, duduk sini!, sudah sejam kamu mondar mandir begitu....". Aku mengalihkan pandanganku kearah Darren yang menggeser tempat duduknya untukku.
"Aku gak bisa Rren!, aku takut..... Gimana kalo sesuatu yang buruk terjadi sama Bayu!. Aku gak mau dia sakit lagi.....". Tangisku mulai meledak.
'Sssstttt......". Darren menempelkan telunjuknya di bibirku. "Kamu berdoa ajah!, Dokter pasti bakalan lakuin yang terbaik buat nyelametin dia....".
Dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiriku.
"Bisa saya bicara dengan Orang tua dari Bayu?", aku sudah mengenal dokter ini, dokter yang menangani Bayu saat dia gegar otak beberapa bulan yang lalu.
"Maaf dok, orang tuanya sedang ada di luar Negeri dan sampai saat ini saya masih berusaha menghubunginya.....". Jawabku dengan suara serak.
"Kalo begitu, silahkan anda ikut saya keruangan saya. Ada yang perlu saya bicarakan..". Aku melangkah hendak mengikuti dokter itu, tapi Darren menarik tanganku. "Kamu tunggu sini ajah Rren, biar aku yang kesana....". Tanpa suara, Darren kembali duduk diruang tunggu dan aku mengikuti Dokter keruangannya.

"Jadi gimana keadaan Bayu dok?", tanyaku setelah sampai di ruang serba putih dengan aneka pajangan taksonomi manusia yang tersusun rapi.
"Bayu sedang mengalami masa kritis, terjadi pendarahan di otaknya. Kami selaku tim dokter sudah mengupayakan yang terbaik untuk menghentikannya. Jika Bayu berhasil melewati malam ini dengan baik, saya yakin besok Bayu bisa sadar dalam keadaan normal.  Jika tidak, maka akan dilakukan tindakan medis segera untuk menyelamatkannya......".
Aku keluar dari ruangan Dokter dengan langkah gontai. Jujur aku gak ngerti akan perasaanku buat Bayu. Tapi melihat keadaannya sekarang, aku merasa terpukul. Dan kalo sampe terjadi hal hal buruk dengannya, aku adalah orang pertama yang akan merasa bersalah seumur hidup.
"Gimana kata dokter Nis?", tanya Darren. Aku menggeleng lemah, "kita baru tau hasilnya besok....".

"Gimana ceritanya sampai Bayu masuk rumah sakit lagi Nis?", Tante Ira merongrongku dengan pertanyaan yang aku sendiri bingung menjawabnya. Aku takut, kalo sampe tante Ira tahu ini smua karna akibat pertengkaran Bayu dengan Darren, maka kasus ini akan dilaporka ke Polisi dan posisi Darren bisa terancam.
"Nisa.... Nisa gak tahu tante, Nisa tahunya Bayu sudah gak sadar saat Nisa keluar....". Jawabku terbata karna menahan tangis.
"Gimana kalo terjadi sesuatu yg buruk sama Bayu Nis?, tante gak rela anak semata wayang tante jadi begini! Siapa yang melakukan ini Nis??? Jawab tante!!!". Tangisku pecah, aku tak tahu lagi bagaimana menjawab pertanyaan tante Ira.
"Sudah... Sudah ma, Nisa kan sudah bilang kalo dia tidak tahu tentang kejadiannya...... Papa janji akan mengusut kasus ini sampai tuntas!". Ucapan om Tio barusan sanggup menenangkan kehisterisan istrinya.

Bayu sudah sadar sejak tadi siang, dan malam ini aku berhasil meyakinkan om Tio dan tante Ira agar beristirahat dirumah dan aku yang menjaganya. Ada yang harus kubicarakan dengannya dan aku dengan gelisah menunggunya terbagun. Satu jam.... Dua jam... Hingga tiga jam berlalu akhirnya Bayu membuka mata.
Aku menghampirinya perlahan,
"Nis....". Suaranya terdengar parau.
"Gimana keadaan kamu?", aku duduk di kursi damping ranjang.
"Sakit....". Keluhnya tapi Bayu mencoba untuk duduk. Aku membantunya dengan menekan tombol untuk menegakkan ranjang.
"Maafin aku yang udah buat kamu begini Bay.....". Bayu menggenggam tanganku dan menarikku untuk duduk di ranjang bersamanya.
"Kamu gak salah Nis, aku yang seharusnya minta maaf untuk kejadian kemaren....".
"Gak papa Bay, aku sudah maafin kok.....". Bayu memelukku erat, "Makasih ya Nis....".
"Hemm... Bay, boleh aku minta sesuatu?". Bayu melepaskan pelukannya. "Apa?".
"Soal kejadian ini, kamu sudah cerita sama tante Ira dan om Tio?".
"Belum, aku belum cerita apa - apa sama mama papa.... Memangnya kenapa?". Bayu menatapku curiga.
"Soal Darren, aku mohon jangan cerita sama orang tua kamu. Mereka bilang kalo akan mengusut kasus ini sampai tuntas dan aku gak ingin Darren terlibat. Dia hanya ingin membelaku.....".
"Seharusnya bagus kan Nis!, biar dia dapet ganjaran atas perbuatannya.....".
Mataku mulai berkaca - kaca, aku menggigit bibir bawahku kuat kuat untuk menahan agar air mata tak jatuh. "Tapi Bay, dia sahabatku dari kecil. Aku gak tega harus korbanin dia karna masalah kita. Aku mohon Bay.... Aku akan lakuin apapun kalo kamu janji gak bakal libatin Darren dalam masalah ini....". Aku menatap bayu dengan tatapan memelas yang pernah aku lakukan seumur hidupku.
"Apapun?", katanya mengulangi perkataanku untuk meyakinkan. Aku mengangguk lemah. Hening sejenak....
"Aku mau kamu jauhin dia Nis, jangan temui dia lagi. Dan aku janji akan bilang sama mama papa kalau ini semua murni karna kecerobohanku. Gimana kamu mau kan?". DEG!!!! Aku menelan ludah. Menghindari Darren saja rasanya sudah sangat menyiksa, apalagi harus menjauhinya?. 'Ya tuhan... Gimana ini?, seberat inikah penderitaanku?'.
"Nis...... ", bayu menggenggam tanganku. Aku menarik nafas panjang dan akhirnya mengangguk.
Senyumnya mengembang dan langsung memelukku.
"Makasih ya Nis.....".
'Darren... Maafin aku, aku lakuin semuanya demi kamu. Aku gak mau kamu jadi korban. Cukup aku yang berkorban buat kamu Rren....'. Rintihku dalam hati.

*****

***Seven...

Seminggu setelah Bayu keluar dari rumah sakit, aku menemui Darren. Dengan seizin Bayu tentunya....

Taman ini masih gak berubah, taman belakang kedai Darren, dengan ayunan yang salalu aku duduki jika aku kesini. Perasaanku campur aduk sekarang.
"Nisa.......", tersirat keterkejutan dalam nada suaranya. Aku mendongak, menatap Darren yang perhatiannya terfokus padaku.
"Ada apa?, kamu kenapa?". Nadanya berubah panik.
"Aku.... Aku cuman pengen ketemu kamu Rren....", suaraku tertahan karna air mata.
"Ada apa?", Darren duduk dihadapanku. Air mata mulai mengalir dan aku terisak perih. Rasanya sakit harus mengucapkan perpisahan yang gak pernah aku inginkan ini.
"Aku akan belajar mencintai Bayu Rren, dan untuk itu aku gak mau kita ketemu lagi.....". Mendadak wajahnya menegang, hening, dan hanya terdengar suara isakan tangisku.
" Kenapa Nis?,memangnya aku salah apa?". Darren mencoba menyentuhku, tapi aku menghindar
"Kamu gak salah apa-apa Rren, justru karna kamu nggak salah itu aku gak bisa ketemu kamu lagi......".
"Aku bisa ngerti Nis kalo kamu akan mencintai Bayu. Tapi gak harus dengan cara seperti ini kan?".
"Aku gak bisa Rren, aku takut....".
"Takut kenapa Nis?", Darren mengguncangkan bahuku.
"Kamu mencintaiku?", DEG!!! Kata - kata Darren berhasil menusuk tepat ditengah jantungku. Rasanya ingin mati saja!, dia sadar akan perasaanku setelah semuanya menjadi runyam begini. Aku hanya Diam.
"Niss.... Jawab aku...". Suara Darren melembut, dia mengusap rambutku dan aku tak menghindar. Biarkan aku menikmatinya untuk yang terakhir kalinya Tuhan.....

****

Serasa ada yang hilang, serasa hati ini berlubang. Sekuat tenaga aku memaksa Darren keluar dari hidupku. Aku memang sudah ikhlas menjalani takdir bahwa aku harus tetap bersama Bayu agar Darren aman. Tapi tetap saja, hati tak bisa dibohongi.
"Nis....., kok ngelamun sih?". Panggilan Bayu menarikku kembali kedunia nyata.
"Hemm.... Ada apa?".
"Jalan yuk, aku lagi pengen beli sepatu Nis....".
"Kemana?", sahutku datar.
"Ke Mall biasanya lah.....". Bayu mulai merajuk di sampingku.
"Yaudah aku temenin, kita berangkat sekarang ajah ya....".

Sesampainya di mall, aku dan Bayu bergegas ke toko sepatu yang biasa Bayu datangi. Aku hanya memperhatikannya yang sedang sibuk memilih sepatu dan sesekali aku akan memberikan pendapat jika ditanya.
"Nisa.......". Seseorang menepuk bahuku dari belakang, sontak aku menoleh.
"Mbak Farah?", aku memandangi sosok dihadapanku ini, dan langsung memeluknya.
"Kamu apa kabar Nis?, kok menghilang dari peredaran begitu. Sudah gak pernah main lagi kerumah...". Cerocos mbak farah panjang lebar. Aku melepaskan pelukannya, "Iya mbak maaf, aku sibuk urusan kampus. Mbak farah kok disini?". Tanyaku Heran.
"Gini nih, kalo udah lama gak ketemu. Jadi gak update berita!". Canda mbak Farah. "Aku sudah lulus Nis, sekarang aku kerja di kantor papa....".
"Selamat ya mbak atas kelulusannya..". Aku memeluk mbak Farah sekali lagi.
"Iya makasih Nis, Bay the way Darren sudah ngabari kamu?, anak itu akhir - akhir ini susah banget dihubungi.....". Wajah mbak Farah mendadak lesu.
"Susah kenapa mbak?, kan mbak tinggal dateng ke kedai kopinya.....". Aku masih gak ngerti dengan pembicaraan mbak Farah.
"Lho?, Darren gak ngasih tau kamu Nis?". Raut wajah Mbak Farah berubah menjadi keheranan. Aku menggeleng lemas.
"Darren mutasi dari kampusnya dan meneruskannya di Belanda Nis. Kamu beneran gak tau Nis?", tanya mbak farah sekali lagi untuk meyakinkan.
"Kalian gak lagi bertengkar kan?", lanjut mbak Farah. Aku menggeleng cepat, "Mungkin Darren gak mau aku sedih mbak, makanya dia perginya diem - diem gitu. Lagi pula akhir - akhir ini aku sibuk ngurusin urusan kampus. Jadi hampir gak pernah ketemu lagi.....". Aku mencoba ber alibi. Mbak farah hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Yasudah kalo gitu, nanti kalo kamu dapet kabar dari Darren kasih tau mbak ya Nis....". Mbak Farahpun berlalu pergi.

"Ehem....". Suara berdehem itu mengagetkanku, aku menoleh kebelakang.
"Itu tadi siapa ?", Bayu menatpku curiga.
"Mbak Farah, mbaknya Darren...". Tatapan Bayu semakin dalam. "Kenapa?, perjanjian kita kan hanya melibatkan Darren. Aku gak harus menjauhi mbaknya juga kan!". Sahutku singkat, senyum Bayu mengembang, "iya iya sayang, maaf ya.....". Ucapnya sambil mengecup keningku. Dan lagi-lagi perasaanku hampa....

*****
Setelah berita kepergian Darren ke Belanda rasanya jiwaku melayang entah kemana. Serasa aku ini hanya tinggal jasad yang berjalan. Tak ada semangat, tak ada cinta, semuanya bias. Bayu masih tetap denganku tapi kini aku fokus terhadap kuliahku. Aku ingin lulus di semester 7 dan impianku itu sudah terwujud. Aku lulus dengan IPK yang cukup memuaskan sehingga bisa membuat mama bangga.  Dan kini aku sedang mencari namaku di daftar peserta program pengabdian Guru yang akan dikirim ke daerah terpencil, terdepan, dan terluar Indonesia. 'Yes.....'. Pekikku pelan! Aku menemukan namaku berada di urutan ke 37 dengan daerah tujuan Aceh. Akhirnya aku akan meninggalkan semua kepura puraanku selama ini, dan aku bertekad untuk membuka lembaran baru disana.

Ekspresi mama benar-benar mengejutkan, awalnya mama bersuka cita dengan berita kelolosanku, tapi setelah tau aku akan ditempatkan di daerah terpencil mama mulai menangis histeris karena mengkhawatirkan keadaanku. Tapi bukan aku namanya jika aku tak bisa meyakin mama, apapun caranya yang penting aku harus bisa keluar dari hidupku yang sekarang ini.

*****

Hari ini aku menemui Bayu setelah hampir seminggu aku lost contac dengannya. 10 menit aku menunggu di cafe bernuansa classic dengan ditemani secangkir creme brulle.
"Maaf telat Nis....". Bayu menarik kursi yang ada di hadapanku. 'Nis?, untuk pertama kalinya selama setahun pacaran Bayu memanggil namaku'. Batinku heran.
"Aku sudah dengar soal penerimaanmu ke Aceh itu....". Suara Bayu menggantung.
"Lalu?".
"Kamu pasti berangkat kan?", tanyanya dengan nada rendah. Aku mengangguk pelan, "Semuanya sudah fix Bay, dan mau tak mau aku harus berangkat. Maaf aku terlambat memberitahukan ini padamu...". Aku meneguk creme brulleku.
"Kamu sengaja kan Nis?", pernyataan Bayu barusan membuatku tercekat.
"Sengaja?", ulangku untuk mempertegas.
"Iya kamu sengaja mengikuti program ini biar bisa lepas dariku kan Nis?, Jujur selama hampir setahun kita bersama aku merasa kamu jadi orang yang berbeda. Aku sudah tak mengenalimu, kamu jadi pendiam, sering murung, dan aku hampir gak pernah melihatmu tertawa lepas lagi seperti saat ada Darren....".
"Ini semua tak ada hubungannya dengan Darren Bay!!!". Selaku dengan setengah membentak.
"Bohong!!! Sudah lah Nis, aku bisa mengerti perubahanmu itu karna kamu melakukan semua ini dengan terpaksa! Karna kamu mencintai Darren dan kamu rela berkorban apapun untuknya bahkan mengorbankan perasaanmu......". Nada rendah suara Bayu berhasil mengiris ngiris hatiku, tersirat kesedihan disana dan aku benar benar spechless, air mata mengalir begitu saja....
"Aku... Aku minta maaf Bay......". Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Sudahlah Nis, gak ada yang perlu di maafkan. Mulai detik ini aku sudah melepaskanmu. Kamu bebas Nis, aku harap kamu bisa mendapatkan hidupmu kembali seperti dulu. Dan maafkan atas semua keegoisanku.....". Bayu bangkit dari tempat duduknya, menghampiriku dan mencium keningku dengan penuh ketulusan. "Aku mencintaimu Nis....", ucapnya sebelum akhirnya melangkah pergi dan meninggalkanku sendirian di Cafe dengan perasaan campur aduk tak karuan.

*****

Aku benar-benar menikmati kebebasanku saat ini. Saat saat dimana aku telah lepas dr kebohongan atas kepalsuan hubunganku dengan Bayu, dan saat saat kesendirianku. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu Darren, tapi aku masih belum siap. Aku masih ingin seperti ini....

"Mbak Nisa, ada tamu di bawah....". Bi Erna menyadarkanku dari lamunan.
"Tamu?, siapa Bi?". Tanyaku penasaran.
"Haduh.... Siapa ya mbak, Bibi juga lupa namanya. Yang pasti perempuan, tinggi, putih, agak bule-bule gitu mbak.....". Otakku langsung meloading semua orang yang kukenal dengan ciri-ciri itu.
"Mbak Farah Bi?", aku memastikan.
"Bukan mbak, kalo Mbak Farah kan Bibi kenal. Lebih baik Mbak Nisa turun ke bawah dulu saja.....". Aku mengikuti Bi Erna turun kebawah.
Ternyata yang dimaksut Bi Erna adalah Clare, 'tapi... Tunggu tunggu, Clare???'. Tanyaku dalam hati. 'Buat apa dia ingin bertemu denganku?, dan tau darimana dia alamatku?'. Pertanyaan pertanyaan itu muncul silih berganti memenuhi otakku.
"Nisa......", Clare memelukku dengan nada sendu.
"Duduk dulu Clare....". Aku mempersilahkan Clare duduk dan mengamati raut wajahnya yang terlihat sedih.
"Ada apa?", tanyaku tanpa basa-basi. Clare memegang perutnya.
"Aku.... Aku hamil Nis....". Nadanya terisak.
"Hamil?", aku mengulangi pernyataannya lagi. "Lalu?". Tanyaku, aku masih gak mengerti arah pembicaraan Clare.
"Darren Nis, Darren ayah dari anak ini. Tapi Darren gak mau tanggung jawab..... ". DEG!!! Bagaikan didorong dari lantai 10sebuah gedung tanpa persiapan, rasanya hatiku remuk. Sekuat tenaga aku menahan air mata dengan menggigit bibir bawahku kuat-kuat. 'Aku gak percaya! Ini semua pasti bohong!!!! Darren cowok baik-baik, dia gak mungkin seperti itu!!!', jeritku dalam hati.
"Kamu bohong kan Clare?, Darren gak mungkin kayak gitu....". Clare menggeleng, tangisnya semakin kencang.
"Darren ayah dari anak ini Nis, semuanya terjadi saat kita berdua sedang merayakan pesta dirumahku saat tahun baru kemaren... Dan aku baru menyadari kehamilan ini sebulan kemarin dan Darren menolak anak ini Nis....". Kepalaku berputar putar, aku tak bisa mencerna kata-kata Clare. Rasanya otakku menolak semua cerita itu.
"Kumohon Nis, yakinkan Darren untuk mengakui anak ini. Aku gak ingin menggugurkan kandunganku, aku sudah berdosa dan aku gak mau menanggung dosa lebih banyak lagi.......". Clare bersimpuh dihadapanku, aku hanya diam. Semua kata-kataku terhenti di tenggorokan.
"Aku mohon Nis, Darren kembali kesini dan aku mohon kamu mau menemuinya untuk membujuknya Nis, cuman kamu yang bisa membujuknya.....".
Aku bangkit dari tempat dudukku, "Lebih baik kamu pulang sekarang Clare!". Aku meninggalkan Clare, masuk kamar dan menangis sejadi jadinya.
Rasanya seperti hampir mati ketika aku mendengar itu semua. Tubuhku menggigil menahan rasa sakit hati yang begitu Dahsyat, aku rela jika Darren memilih orang lain, tapi aku gak habiz fikir Darren bisa berkelakuan seperti itu. Aku mengenal Darren sejak kelas 1 SD dan kita selalu bersama, aku yakin Darren tak seperti itu!!, tapi perut clare? Itu bukti nyata!!. 'Arggghhhhh------ aku bisa gila kalo terus begini!!!'. Jeritku.
Aku mengambil jacket dan tasku lalu memacu motorku ke jalanan, membelah kota surabaya yang lengang di malam hari karna ini sudah hampir jam 11 malam. Satu-satunya tempat yang ada di pikiranku adalah rumah Darren. Yach aku harus menemuinya!.

Kedai sudah tutup saat aku tiba disana, aku bergegas kebelakang ke rumah Darren. Dengan tidak sabar, aku memencet Bel berkali - kali. Hingga lebih dari 10 kali akhirnya pintu terbuka. Aku melihat wajahnya, kuyu dan tampak ada beban berat yang menggantung di pelupuk matanya.
"Kamu jahat Rren!!! Kamu jahat!!! Kenapa kamu bisa bertingkah sebodoh itu!!!", aku memukul - mukul dada Darren yang bidang dengan tangis histeris.
Darren hanya diam mematung menatapku sedih.
"kenapa harus begini sih Rren??, aku mencintaimu! Sangat mencintaimu. Selama setahun ini aku berjuang untuk bisa bersamamu, tapi kenapa akhirnya malah begini Rren??". Pernyataan cinta  itu mengalir begitu saja. Aku terduduk lemas dihadapannya, rasanya sluruh tenagaku sudah habis terkuras karna kejadian ini. Darren memapahku bangun dan mendudukkanku di sofa, memelukku untuk waktu yang lama tanpa bersuara.
"Maafkan aku Nis, ini semua gak seperti yang kamu dengar. Semuanya akan baik - baik saja, aku janji.....". Nada suara Darren getir, entah harus berpihak pada siapa aku sekarang, aku tak peduli! Kalaupun aku harus kehilangannya demi orang lain, biarkan aku memilikinya untuk saat ini.
"Aku capek Rren, aku lelah...... Aku ingin semuanya kembali seperti dulu lagi....".
Darren mengecup keningku lembut, "kamu istirahat sekarang ya, jangan fikirkan hal ini lagi. Semuanya akan baik - baik saja, aku janji....". Kali ini aku membiarkan diriku percaya padanya, perlahan aku melepas semua masalah ini dan mulai terlelap dipelukannya.

Aku terbangun karna mendengar suara ribut diluar. Oh ya tuhan... Satu hal yang aku sadari. Aku sedang berada di kamar Darren, dan aku yakin suara yang kudengar barusan adalah suaranya. Aku membuka knop pintu dengan perlahan agar aku bisa mendengar apa yang sedang di bicarakan.
"Sudahlah mbak, aku mohon mbak percaya sama aku! Bayi yang di kandung Clare bukan anakku!". Aku yakin itu suara Darren, dan tak diragukan lagi lawan bicaranya adalah mbak Farah.
"Tapi Clare tetap ngotot kalo kalian sudah melakukannya di malam tahun baru dan dia mengandung anakmu Rren!!!, sekarang orang tua Clare sudah tahu masalah ini. Mereka meminta mbak untuk memaksamu menikahinya. Mbak berada di posisi yang serba salah saat ini, mbak harap kamu mau mengalah dan menikah.....". Suara Mbak Farah terdengar pilu.
"Gak!!!, aku gak bisa mbak!!! Ini semua gila!!!, Clare yang menjebakku!!!. Aku memang bersamanya dimalam itu, bahkan aku yang mengantar Clare ke kamarnya karna dia sudah hangover dan hampir pingsan. Setelah itu aku balik ke bawah dan ngelanjutin party lagi... Clare cuman mengarang cerita, percayalah mbak!!!". Darren terdengar memaksa, tapi hanya isakan yang terdengar dari Mbak Farah.
"Mbak gak tahu harus ngapain sekarang Rren, jujur mbak bingung. Sebagai wanita mbak gak tega ngelihat kandungan Clare yang semakin lama semakin membesar, tapi sebagai kakak mbak juga gak rela harus membuatmu berada di posisi pesakitan seperti ini. Maafin mbak Rren, mbak gak mau bela siapa - siapa sekarang.....". Terdengar langkah kaki mbak Farah menjauh meninggalkan rumah, dan langkah kaki Darren mendekat kearah pintu kamar. Aku segera kembali ke tempat tidur dan berpura-pura tidur. Darren mengamatiku sesaat, lalu duduk tepi tempat tidur.
"Maafkan aku Nis harus mengacaukan perasaanmu dan membuatmu terluka.....". Darren mengecup keningku lembut sebelum akhirnya meninggalkanku.
Aku terbangun sesaat kemudian dan rumah Darren sudah sepi. Segera aku pulang kerumah sebelum mama balik dari urusan bisnisnya di Jogja.

Aku tak menyadari ada seseorang yang menungguku di ruang tamu saat aku masuk kerumah, sampai sebuah sapaan membuatku berbalik.
"Adri???". Aku cukup terkejut melihat keberadaannya di rumahku.
"Hey.... Are you okay?, kok kamu berantakan begitu....". Adri menarik tanganku lembut agar duduk disebelahnya. Aku mengangkat kedua bahuku.
"Ada apa Dri?, tanyaku menanyakan maksud kedatangannya.
"Aku sudah dengar soal kepergianmu ke Aceh, kamu serius?".
Aku mengangguk mantap kearahnya, "Aku sudah yakin kali ini Dri... Dan gak ada apapun yang bisa menghalangiku, aku ingin meninggalkan kehidupanku disini....". Air mataku meluncur bebas tanpa di komando. Adri mendekat kearahku untuk menenangkanku, tapi aku mundur. "Jangan Dri, aku gak apa-apa. Aku gak ingin ada salah faham lagi.....". Adri perlahan mundur dan duduk d tempat semula.
"Gimana hubunganmu dengan Ade?", tanyaku untuk memastikan.
"Semuanya baik-baik ajah kok Nis....".
"Syukurlah kalo gitu...", aku merasa lega setidaknya aku tidak pergi dengan image sebagai pengahancur hubungan orang lain.

*****

Berhari - hari aku menunggu kabar dari Darren, tapi sia-sia!!!. Tak ada telpon, sms, email atau apapun darinya yang membuatku semakin frustasi. 'Pembohong!!!, kamu bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi sekarang kamu mengacaukan semuanya!!! Aku benci kamu Rren...'. Tangisku dalam hati, sejenak aku melirik kearah kalender. Sore ini aku akan berangkat ke Aceh, aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya. 'Mungkin ini jalan terbaik yang telah tuhan rencanakan untukku. Baik Darren ataupun Bayu, salah satu dari mereka bukan jodohku....". Hiburku pada diri sendiri.
Lama aku terdiam di dalam kamar sampai tatapanku tertuju pada sebuah kotak emas diatas lemari. Aku ingat, kotak emas itu kata Bi Erna milik Darren yang tertinggal saat membawaku pulang dalam keadaan pingsan. Aku mengambil kotak itu dan mengusap debu yang mulai menebal sehingga membuatku bersin bersin. Perlahan aku membuka ikatan pitanya dan ternyata kotak itu berisi gaun cream yang pernah aku coba dan Darren berencana memberikan gaun itu kepada cewek yang akan diajaknya ke gala Dinner saat itu.

"Ma, kita kerumah Darren dulu ya.....". Mama mengangguk menyetujui permintaanku dan kembali fokus mengemudi. 2jam lagi aku akan meninggalkan kota ini dengan segala ceritanya, dan untuk terakhir kalinya aku ingin bertemu Darren dan melepasnya dari hatiku.
Aku memencet bel rumah bergaya kolonial ini untuk ketiga kali sebelum akhirnya pintu rumah terbuka.
"Nisa.....". Mbak Farah memelukku, mbak Farah sudah tahu kalo aku akan datang untuk menemui Darren. "Kamu jadi berangkat ke Aceh?", lanjutnya.
Aku mengangguk pelan. "Hemm..... Kenapa mendadak sekali sih Nis?, aku pasti kangen sama kamu.....". Rengek mbak Farah.
"Iya maaf baru ngasih taunya kemarin mbak, aku juga pasti kangen sama mbak Farah....". aku mengamati penjuru rumah, "O ya, kamu kesini kan mau ketemu Darren. Dia diatas Nis di kamarnya, semenjak mama memutuskan agar Darren bertunangan dulu dengan Clare dia jadi sering mengurung diri di kamar Nis....". Ada kesedihan pada nada suara mbak Farah. Aku segera beranjak ke lantai 2 dan mengetuk kamar Darren. Lama tak ada jawaban akhirnya aku langsung masuk ke kamarnya. Darren bangkit dari kursi kerjanya saat aku masuk.
"Nisa.....".
Aku mendekat kearahnya, dan Darren diam tak bergerak.
"Aku ingin mengembalikan ini Rren,.... Semoga kamu bisa menemukan cewek yang pantas menggunakan gaun ini. Aku ingin mengubur semua kenanganku Rren.....". Air mataku mulai bercucuran tak terkendali.
"Kenapa kamu pergi Nis?, kenapa kamu ninggalin aku disaat aku begini?". Nada suara Darren serak.
"Aku sudah cukup terluka Rren, dan aku bukan seorang masokist!!!". Jaritku histeris. Seketika Darren langsung memelukku.
"Maafkan aku Nis, aku memang bodoh!. Aku terlambat menyadari perasaanmu dan membuat segalanya berantakan. Aku mencintaimu Nis, sangat men.....". Aku memotong pembicaraannya.
"Cukup Rren!!! Cukup!!!!, jangan dilanjutkan!!! Semuanya sudah percuma. Semuanya sudah berakhir.....". Aku melepaskan pelukan Darren dan berlalu pergi dari hadapannya. Aku tak ingin mendengar pengakuan apapun darinya, bagiku semuanya sudah berakhir dan apa yang diucapkan Darren takkan mengubah apapun. Dia akan tetap bertunangan dengan Clare. Dan aku?, aku tetap akan pergi ke Aceh. Jadi semuanya sia-sia!, percuma!!!.

Mama hanya diam menatapku yang terisak isak kecil saat kembali ke mobil dan mulai melaju menuju bandara.
Perpisahan antara aku dan mama benar-benar memilukan, mama tak henti - hentinya menangis dan tak mau melepaskan pelukannya sampai tiba waktunya aku masuk ke pesawat bersama teman-teman seperjuanganku yang lain.

******

***Eight...

Hari ini tepat setahun aku berada di kota serambi Makkah. Sudah tak bisa kugambarkan lagi kerinduan yang aku rasakan pada kota kelahiranku, pada mama utamanya. Aku bersiap siap di ruang tunggu Bandara. Rasa capek karna perjalanan selama 8 jam ke kota, dan pesta perpisahan yang diadakan oleh dinas yang terkait tak menyurutkan semangatku untuk segera pulang.
"Sudah gak sabar untuk pulang ya?", goda Tantri teman seperjuanganku selama disini. Aku mengangguk dengan semangat.
"Ciyee..... Pasti pengen cepet-cepet ketemu sama si Doi ya?". DEG!!!, seperti ada yang mencongkel paksa peti memori yang sudah lama terkuci di otakku. Mendadak semua hal yang selama ini aku coba sembunyikan kembali terkuak.
"Helloo.... Are u okay?", tanyanya lagi sambil melambaikan tangannya di depanku dan membuatku kembali kelam nyata.
"Eh... Sorry, sorry. I'm ok!". Jawabku singkat.
"Yaudah, ayok masuk ke pesawat. Sudah d tunggu temen-temen yang lain tuh....". Ajak Tantri sambil menarik tanganku seenak jidat.

*****

Sesampainya di bandara Juanda aku sengaja pulang sendiri kerumah dengan mobil carteran. Aku ingin memberikan surprise untuk mama.
Dan Voila!!!!, bi Erna langsung berlari lari masuk kedalam untuk memanggil mama di kamar. Dan tak kalah hebohnya mamapun berlari - lari menyongsongku. Pelukan hangat mama yang sangat aku rindukan akhirnya terbayar sudah. Aku dan mama sama-sama menangis menumpahkan kerinduan yang tertahan selama setahun kita terpisah.
"Mama seneng kamu pulang Nis, kamu jangan pergi lagi ya......". Pinta mama dengan nada terisak.
"Iya ma, Nisa juga seneng bisa kumpul lagi sama mama di rumah....". Kataku meyakinkan.
Jadilah seharian aku menjadi seorang putri, mama memasakkan makanan kesukaanku. Mulai dari Soto, rendang, sambal goreng kentang, dan banyak lagi. Benar - benar hari yang menyenangkan.

*****

Pagi ini menjadi pagi yang sangat cerah, aku bangun tidur di kamarku sendiri dan sudah ada segelas susu vanilla buatan bi Erna kesukaanku. Aku mengamati kesekeliling kamar, memikirkan apa yang aku lakukan hari ini.  Sampai beberapa saat kemudian, aku memutuskan untuk ke butik mama. Aku kangen dengan suasana butik dan karyawan-karyawan mama yang rame.

"Mbak Nisa mau kemana mbak?", tanya bi Erna saat menyiapkan sarapan pagiku di meja makan.
"Aku mau nyusulin mama ke butik Bi, kangen suasana di sana....". Jawabku riang sambil mengunyah nasi goreng favoriteku. Bi Erna hanya manggut-manggut lalu meninggalkanku sendirian.

Karyawan - karyawan mama menyambutku dengan meriah bak artis pemenang piala oscar. Dan aku hanya bisa tersenyum lebar menanggapinya.
"Mama dimana mbak?", tanyaku pada mbak Ina yang bertugas sebagai kasir.
"Mama mbak Nisa ada di kantornya mbak...".
Baru saja aku hendak naik tangga keatas, mama sudah menuruni tangga dengan terburu-buru.
"Nisa??, kok kamu disini sayang?. Harusnya kamu istirahat ajah dirumah, kan masih capek....".
"Gak papa kok ma, Nisa kangen suasana disini...". Jawabku santai. "Mama mau kemana?", lanjutku bertanya.
"Mama ada janji sama supplier setengah jam lagi, mama hampir lupa makanya buru-buru. Yaudah kebetulan kalo gitu, kamu gantiin mama ya ngawasin butik....". Mama mengecup keningku sebelum pergi. "Hati-hati ma.....". Teriakku.

Aku memutuskan untuk berkeliling butik sambil melihat koleksi baju-baju terbaru mama.
"Mbak Nisa....?". Aku menoleh ke sumber suara.
"Iya mbak Ina, ada apa?".
"Bisa tolong gantiin saya sebentar jaga kasir?, saya mau ngecek barang yang datang mbak. Biasanya kan mamanya mbak yang ngecek.....".
"Iya mbak, tinggal ajah. Biar aku yang jaga....". Sahutku sambil beranjak kebelakang meja kasir. Aku sibuk membolak balik majalah fashion saat seorang pembeli menghampiriku.
"Mbak ini belanjaan saya, saya pakek creditcard ajah.....".
Aku mendongakkan wajah dan ternyata....
"Tante Karenina?", aku menyebut nama itu dengan nada kaget.
"Nisa???, kamu sudah pulang Nak?", aku keluar dari balik meja kasir dan memeluk tante Karenina mama Darren.
"Iya tante, baru kemarin Tan......".
"Tante kangen banget sama kamu Nis.....". Suara tante Karenina mendadak sendu.
"Iya tan, Nisa juga......". Jawabku sambil melepas pelukan.
"Kamu gak kangen sama Darren juga Nis?", pertanyaan tante Karenina barusan langsung membuat dadaku sakit seketika. Aku tahu aku gak bisa menghindar dari bagian yang sebenarnya ingin aku  pendam.
"Nis....?", tante karenina membuyarkan lamunanku.
"Iya tante Nisa juga kangen, tapi masih belum ada waktu tan........". Jawabku lirih.
"Tapi janji ya kamu harus main kerumah....". Pinta tante Karenina.
"Iya tan, akan Nisa usahakan....".
tante Karenina pun mengangguk,
dan beberapa saat kemudian berlalu setelah membayar semua belajaannya.

*****

"Kamu cuman ke butik ajah hari ini Nis?", tanya mama memecah keheningan makan malam.
"Iya ma, niatnya mau main ke Ane tapi dia lagi sibuk ngurusi kepindahannya ke luar kota.....".
"Lho?, kamu gak kerumah Darren???". Kunyahan ayam gorengku mendadak berhenti di tenggorokan dan membuatku tersedak. Aku meneguk air putih dengan cepat sebelum kehabisan nafas.
"Kamu kenapa sih sayang?, kok jadi gugup begitu waktu mama sebut nama Darren?". Tanya mama sambil menatapku curiga.
"Gak apa-apa kok ma, cuman Nisa kaget ajah....". Aku mencoba mengeles.
"Ato mungkin kamu cemburu ya karna Darren sudah bertunangan?", goda mama sambil tertawa cekikikan.
"Bertunangan?". Ulangku.
"Iya.... Sama siapa sih namanya.....". Mama mencoba mengingat-ingat.
"Cla...Clare. Iya namanya Clare Nis....".
'Jadi mereka sudah bertunangan rupanya!, jangan-jangan sekarang mereka sudah menikah...'. Aku mencoba mengabaikan pikiran-pikiran buruk itu, tapi gagal! Mataku mulai memanas. Aku beranjak bangkit dari kursiku.
"Mau kemana Nis?, kan belum selesai makannya....".
"Nisa sudah kenyang ma, Nisa mau keatas dulu...".
Aku masuk ke kamar dan menguncinya. Tangisku pecah seketika karna tak sanggup menahan sakit hati yang begitu menyakitkan.
Rupanya mama baru menyadari perasaanku, itu sebabnya kenapa mama tak menggedor - gedor pintu kamarku seperti biasanya ketika sikapku mendadak aneh.

******
Keesokan harinya,

"Nis,kamu rencana mau kemana hari ini?". Tanya mama sambil membuka gorden kamarku yang membuatku langsung terbangun karna cahaya silaunya.
"Hemm....... Gak tau ma, Nisa pengen dirumah ajah....". Sahutku bermalas malasan sambil masih memeluk guling.
"Yaudah kalo gitu temenin mama belanja bulanan ya Nis, mama gak mau sendirian....". Pinta mama lalu pergi meninggalkanku sendirian tanpa menunggu jawabanku.

Sudah hampir sejam aku dan mama berputar putar di carrefour dengan troli yang hampir penuh.
"Masih lama ya ma?", tanyaku gak sabaran.
"Bentar lagi Nis, mama masih mau nyari pembersih lantai ini. Tapi mama lupa raknya....".
"Aduh ma, Nisa capek nih! Nisa tunggu sini ajah ya sekalian cari sampo...". Sahutku dengan wajah cemberut.
"Yaudah yaudah, mama cuman bentar kok...". Sahut mama dengan nada bijak khas keibu - ibuannya yang kusuka.

"Kak Nisa?", seseorang memanggilku dari kejauhan dan perlahan menghampiriku.
"Aina??", tanyaku untuk memastikan. Dan benar saja Aina langsung memelukku erat.
"Apa kabar kak??", tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
"Baik kok, kamu sendiri gimana?", tanyaku balik.
"Aku juga baik kak....". Jawabnya ceria. "Sebelumnya aku mau ngucapin makasih banyak buat semua pengorbanan yang kak Nisa udah lakukan untuk Kak Bayu, dan sekarang Kak Bayu sudah benar-benar mencintaiku dengan tulus kak.....".
Senyumku ikut mengembang mendengar penuturan Aina barusan. "aku ikut seneng Aina kalo akhirnya kamu bisa bahagia sama Bayu....". Sahutku tulus.
"Iya kak, bulan besok aku akan bertunangan sama Bayu. Kakak harus datang ya.....".
"Oh ya?, selamat ya Aina. Aku ikut seneng... Kalo gak ada halangan apa-apa aku usahain dateng kok....".
"Beneran ya kak?", Tanya Aina untuk memastikan dan kujawab dengan anggukan mantap.
"Makasih kak.....", Aina memelukku sekali lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkanku.

*****

***Nine...

Mendadak aku kembali menjadi down dan terpuruk. Rupanya orang-orang disekitarku sudah menemukan kebahagiannya masing-masing. Sedangkan aku?, aku masih bertahan dengan kesendirian dan luka - luka di masa laluku yang belum berhasil aku sembuhkan.
Aku memutuskan untuk berlibur beberapa hari kerumah Ane yang ada di kota tahu Kediri. Dia baru saja pindah mengikuti suaminya dan mengundangku untuk datang dan menginap di rumah barunya.
"Kamu mau sampai kapan terpuruk begitu?",
Ane melihatku sedih, aku meletakkan cangkir teh yang sedari tadi hanya kupegang tanpa kuminum.
"I'm fine kok, buktinya sampai sekarang aku masih bisa survive...". Belaku untuk diri sendiri.
"Iya kamu memang bisa survive untuk hidup, tapi tanpa jiwa!. Kamu gak ubahnya kayak mayat hidup Nis.....". Sahut Ane ketus.
"Sudahlah Ne, aku gak ingin bahas itu sekarang.....". Dan deringan dari handphoneku menyelamatkanku dari obrolan yang memang sengaja aku hindari setahun belakangan ini.
"Nisa, kamu kok gak ngasih kabar sih sama mama sayang?", suara dari seberang sana langsung nyerocos panjang lebar.
"Iya ma maaf, Nisa lagi sibuk bantuin Ane ma. Emangnya ada apa?, mama baik - baik ajah kan?". Tanyaku dengan nada panik, karna bukan kebiasaan mama tiba-tiba menelpon kalo bukan ada yang penting, palingan biasanya hanya sms ajah.
"Iya mama baik-baik ajah kok Nis, o ya kamu rencana pulang kapan??". Aku mengerutkan kening, "masih belum tau ma, Nisa masih pengen disini beberapa hari lagi. Palingan hari minggu pagi Nisa pulang....". Jawabku untuk memastikan.
"Yasudah kalo begitu, sampai jumpa hari minggu besok ya sayang.....". Mama menutup telponnya dengan ceria. 'Tumben banget mama begitu? Aneh...'. Batinku dalam hati.

*****

Sesuai janjiku, hari minggu pagi aku meninggalkan rumah Ane dan kembali ke Surabaya. Hampir semua bus penuh dan dengan dukungan udara Surabaya yang panas sukses membuatku kelelahan dan langsung naik ke kamar untuk tidur.
Aku baru terbangun saat bi Erna menggedor pintuku dengan keras.
"Ada apa sih Bi?, Nisa masih capek banget nih....". Sahutku kesal sambil membuka pintu.
"Saya cuma disuruh nganter ini Mbak, kata Ibu mbak Nisa harus segera mandi dan pakek baju ini dan harus sudah turun ke bawah dalam waktu 15menit soalnya tamunya sudah pada datang mbak....".
Aku mencoba mencerna kata-kata bi Erna yang diucapkannya dengan cepat.
"Tunggu tunggu dech Bi, memangnya ada acara apa di bawah?", tanyaku penasaran.
"Ada acara keluarga mbak, semuanya pada nyariin mbak Nisa...". Jawab bi Erna sambil menutup kembali pintuku.
Dengan semangat 45 aku masuk kamar mandi dan mengenakan dress yang bi Erna berikan tadi, sejenak aku memperhatikan Dress itu, dress cream dengan aksen renda-renda yang sepertinya aku kenal. Aku merasa sudah tak asing lagi dengan dress ini, tapi yasudahlah. Otakku terlalu ber euforia untuk diganggu dengan pikiran soal siapa yang membelikan dress ini untukku. tanpa make up dan sandal akupun turun kebawah dengan riang.

*****

Langkahku tiba-tiba berhenti saat tatapan mataku beradu dengan seorang pria yang menggunakan setelan tuksedo hitam dengan gagahnya. Pria itu tersenyum kearaku dengan manisnya, jantungku seolah jumpalitan mendadak. Perasaan itu, perasaan yang sudah lama kupendam dalam kini bisa kurasakan lagi.
"Nisa duduk sini sayang....". Mama menyadarkanku dari kebekuan.
Dengan langkah gontai aku melangkah ke ruang tengah yang kini dipenuhi dengan banyak keluargaku.
Pria itu berdiri menyambutku dan mendudukanku di sampingnya.
Suasana menjadi hening seketika,sebelum pria itu berdehem untuk mencairkan suasana.
"Nis, malam ini aku dan keluargaku kesini ingin menyampaikan sesuatu.......". Pria itu bersimpuh dihadapanku sambil memasangkan cincin dengan hiasan batu safir cantik di jari manisku.
"Aku menginginkanmu untuk menjadi istriku, ibu dari anak-anakku yang menemaniku hingga maut yang memisahkan kita....". Air mataku tak terbendung lagi, aku memeluk pria yang menjadi cinta abadiku dengan erat.
"Terimakasih Rren, terimakasih sudah memilihku....".

Malam ini benar-benar malam terindah dalam hidupku. Dalam sekejap statusku sudah berubah, keputusanku untuk tetap meyakini akan cinta pertamaku memang tak salah. Aku bahagia... Sangat sangat bahagia.....
"Nis......", Sapaan itu mengagetkanku, aku menoleh kearah sumber suara.
"Apa?".
"Kamu kok disini sih?, sudah malam nanti kamu sakit....". Darren melepas tuksedonya dan memakaikannya padaku. Aku tersenyum manis kearahnya.
"Aku masih pengen disini....". Darrenpun mengajakku duduk di bangku yang ada di taman belakang.
"Rren.....", aku memecah keheningan.
"Iya...".
"Makasih ya buat semuanya.....". Ucapku lirih. Darren merangkul pundakku lembut.
"Justru aku yang mau bilang makasih Nis, terima kasih sudah mau menungguku. Dan terimakasih sudah mau bertahan untukku......". Sebuah kecupan hangat mendarat di keningku.
"Kamu terlihat cantik dengan gaun ini Nis,....". Lanjutnya. Sontak aku langsung mengamati gaun yang aku pakai. "Gaun ini........, ini kan gaun yang kamu bilang untuk seseorang yang bakalan nemenin kamu ke acara gala dinner waktu itu kan....???". Tiba-tiba aku bisa mengingat semuanya.
"Gaun ini memang untukmu Nis, aku sengaja gak bilang saat itu karna aku ingin memberikanmu kejutan. Tapi aku malah menemukanmu pingsan di tengah hujan malam itu...... Gak ada yang pantas memakai gaun ini selain kamu Nis.....". Tutur Darren.
"Hemm..... Lalu soal Clare?", pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa bisa kutahan lagi.
"Ah iya, aku hampir lupa menceritakannya!. Seperti yang ku bilang sejak awal, aku bukan ayah dari anak yang di kandungnya. 3 bulan setelah kepergianmu ke Aceh, aku bisa menemukan cowok yang menghamili Clare dan membuatnya bertanggung jawab. Setelah semuanya selesai, aku kembali fokus untuk melanjutkan kuliah S2ku yang sempat tertunda dan membangun kembali bisnis Kedai Kopiku demi masa depan kita Nis.....". Aku memeluk Darren erat.
"Makasih Rren,......".

The End

0 komentar:

 

Miss Double N's Story Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting