Sesaat setelah
pesawat landing di bandara juanda, aku merasa seperti jutaan beban terlepas
dari pundakku. Sambil menarik koper dan membawa tas ranselku aku melangkah
keluar dan menemukan seorang gadis dengan membawa papan bertuliskan
"Welcome my lovely Brother Alcander", dengan aksen pita - pita dan
coretan ala princess. Aku mengenali coretan itu, dia Aina adik semata wayangku
yang kini sudah menjelma menjadi gadis cantik dengan pipi chubby dan rambut
panjang coklatnya yang indah, tubuhnya yang langsing bak model membuatku tak
berkedip menatapnya. Aku dibuat terkejut oleh perubahannya, dia sangat berbeda
dari saat dahulu aku meninggalkan negara ini untuk mengejar impianku di negeri
paman Sam selama 5 tahun. Aku melangkah cepat menghampiri gadis itu,
"Aina.....?",
aku memanggilnya dengan nada ragu. Gadis itu menatapku dan langsung memelukku
erat.
"Kak Alca
apa kabar?, aku kangen kakak....", nada suaranya menjadi terisak.
"Hey....
kamu kok nangis??", kataku sambil melepaskan pelukanku dan mengusap
pipinya yang basah.
"Kakak juga
kangen banget sama kamu, kamu makin cantik! Gak heran kalo kakak sampai hampir
gak ngenalin kamu..", lanjutku sambil tertawa kecil.
"Yaudah
sekarang kita pulang yuk...... Mama papa sudah nungguin kakak dirumah..".
Aina menarik tanganku kearah mobil.
Di dalam mobil
tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Ain, kita
mampir kerumah Nixi dulu ya....".
"Hah?,
ngapain???", Aina menoleh kaget kearahku.
"Hey...kakak
juga kangen banget sama Nixi, gak cuman sama kamu. Dia kan pacar
kakak....", kataku sambil menjitak kepala Aina pelan. Sekilas aku melihat
wajah Aina mendadak ragu.
"Ada
apa?", kataku sambil menatap wajah aina yang sibuk menyetir.
"Gak gitu
Kak...., mama papa kan sudah. Kangen banget sama kakak, bahkan mama sudah
nyiapin makanan kesukaan kakak dari tadi pagi...".
Sejenak aku
berfikir dan akhirnya, "yaudah kita langsung pulang aja dech....",
kataku mantap.
Dirumah mama
papa heboh menyambut kedatanganku. Bahkan mama tak henti -hentinya memelukku.
"Kamu
memang hebat sayang, kamu membuktikan omongan kamu untuk tidak pulang ke tanah
air sebelum kamu sukses dengan cara kamu sendiri..", mama mengelus
rambutku. Dan papa akhirnya angkat suara.
"Baiklah..
Baiklah... Papa mengaku kalah Al, kamu memang anak papa yang hebat!", kata
papa sambil menepuk pundakku.
Sudah 5 tahun
aku gak pernah tidur di kamar ini, sambil rebahan di kasur mataku tertuju pada
foto seorang cewek yang ada di meja kerjaku. Yah.. Cewek itu, Phoenixia, tapi
aku lebih suka memanggilnya Nixi. Aku sangat mencintainya, bahkan demi
membuktikan keseriusanku pada orang tuanya dan juga oramg tuaku aku rela
meningalkan tanah air untuk meraih kesuksesanku. Selama 4 tahun menjalani LDR
hubunganku baik-baik saja, tapi setahun belakangan ini aku merasa ada yang
berubah dengannya, Nixi seolah menjauh dariku dan sekarang aku bahkan tak tahu
lagi kabarnya. Mendadak perasaanku menjadi kalut, aku segera bangkit dan turun
kebawah.
"Mau kemana
sayang?", mama menghampiriku.
"Ada urusan
bentar ma, kunci motor Alca dimana ma??", aku mencari - cari kunci motor
di laci meja.
"Motor kamu
sudah lama kamu tinggal, jadinya kemaren papa membawanya ke bengkel buat di
servis. Kamu pake mobil mama aja Al...". mama menyodorkan kunci mobilnya.
"Makasih
ma, Alca pergi dulu..", aku keluar rumah dan saat ini yang ada dipikiranku
cuma Nixi. Sesampainya dirumah Nixi, aku mendapati rumahnya gelap seperti tak
berpenghuni, di pagar terdapat papan yang menyatakan rumah ini dijual. Sungguh,
aku gak habiz fikir. Kenapa semuanya mendadak seperti ini? Dan kenapa tak ada
satupun yang memberitahuku. Aku merasa marah dan kecewa. Aku menelfon Nixi,
tapi nomornya tidak terdaftar. Menelfon ke nomor rumahnya dan aku pun mendapat jawaban
yang sama. Sungguh malam ini aku benar-benar putus asa. Kenapa Nixi tega
berbuat seperti ini?.
Aku pulang
kerumah dengan wajah kusut. Aina yang masih menonton televisi terkejut melihat
kedatanganku.
"Kak Alca
darimana?", tanyanya.
"Dari rumah
Nixi, tapi dia sudah pindah!", aku merebahkan tubuhku di sofa samping Aina.
Sedetik kemudian
aku teringat sesuatu dan bangkit.
"Ain,
selama ini kamu dekat kan dengan Nixi?, Nixi pasti cerita sesuatu kan sama
kamu?, kakak mohon kasih tau kakak....". Aku menatap wajah aina dengan
tatapan memelas. Aina menggelengkan kepala. Tapi aku dapat menangkap gelisahan
dimatanya.
"Kamu yakin
gak tau apa-apa tentang nixi, kamu kan sekelas dama dia..?", tanyaku
dengan tatapan menyelidik.
Aina terdiam
sejenak, dan kemudian di bangkit dari sofa.
"Ain
ngantuk kak, mau bobog dulu. Besok ada kuliah pagi soalnya....".
'Hemmhhh....',
aku menghembuskan nafas dalam. Aku yakin, Aina pasti tau sesuatu tentang Nixi,
tapi kenapa dia berbohong?.
******
Hari ini target
pencarianku adalah kampus Aina dan Nixi. Mereka berdua kuliah di jurusan yang
sama dan dikelas yang sama. Aku menunggu. Di seberang kelas jurusan Sastra
inggris, satu jam, dua jam, hingga akhirnya tiga jam mahasiswa yang ada di
kelas tersebut berhamburan keluar. Dan aku meneliti satu persatu dari mereka
untuk menemukan NiXi tapi hasilnya nihil. Sampai siswa terakhir yang keluar
dari kelas itu, Nixi tak juga muncul. Mendadak pikiranku kalut dan lesu.
Aku merasakan
ada yang menepuk bahuku, dan disaat aku menoleh aku mendapati Aina berdiri
dengan tatapan menyelidiknya kearahku.
"Kak Alca
ngapain disini?", tanya heran.
"Kakak
nyari Nixi, dia hari ini gak masuk kuliah?", tanyaku balik. Aina mendadak
terdiam utuk beberapa saat.
"Kenapa sih
kakak masih nyari Nixi?", Aina bertanya padaku dengan suara lirih.
"Dia sudah gak mau peduli lagi sama kakak....". Lanjutnya. Aku
tercekat mendengar pernyataan Aina barusan.
"Ain....,
kamu pasti tau sesuatu tentang Nixi kan??, kakak mohon kasih tau kakak tentang
keberadaan Nixi sekarang, kakak cemas banget sama dia...", nada suaraku
memelas dengan kepala tertunduk lesu.
"Ain mau
kak alca lupain Nixi, Kak Alca bisa kok dapetin yang lebih baik dari
dia...".
"Tapi aku
cuman cinta dia Ain, selama 5 tahun aku berjuang di Amrik, biar aku bisa buktikan
ke orang tuanya kalo aku mampu bahagiain dia....!!!". Aku bersuara dengan
setengah membentak di depan Aina. Dia terlihat ketakutan dan menangis. Aku
mendekapnya erat.
"Maafin kak
Alca Ain, kakak gak bermaksud membentakmu. Kakak cuman sedang kalut..", nada
suaraku mendadak turun dua oktaf.
"Ain...ain.
Gak mau lihat kak Alca sedih, Ain gak mau kak Alca tersakiti....". Aina
terisak dipelukanku.
"Tapi kakak
pengen tau, sebenernya apa yang terjadi sama nixi.... Kak Alca mohon...".
Aku tertunduk lesu di hadapan Aina dan dia menarik tanganku tiba-tiba.
"Kita mau
kemana ?", tanyaku pada Aina yang sedang sibuk menyetir mobil.
"Nanti
kakak juga tau...". Jawab Aina
satu jam di
dalam mobil, mobil belom juga berhenti. Sebenernya Aina mau ngajakin aku
kemana?, ini kan arah ke luar kota. Ke kota Malang tepatnya. Aku teridiam tak
bersuara, sampai Aina memberhentikan mobilnya di depan rumah besar bergaya
minimalis. Dia mengajakku turun. Sejenak kami menunggu di depan pagar setelah
memencet bel pintu rumah. Semenit kemudian seorang ibu-ibu berusia 40 tahunan
membukakan pintu untuk kami.
"Cari siapa
ya mas?", tnyanya padaku.
"Nixinya
ada bi?", sahut aina balik bertanya.
"Iya mbak
silahkan masuk, saya panggilkan mbak Nixi dulu...". Bibi itu berlalu
kedalam dan kami duduk di ruang tamu. Aku tersentak ketika melihat foto
sepasang kekasih menggunakan gaun pengantin dan tersenyum lebar. Aku menatap
foto itu untuk beberapa lama, cewek yang ada dalam foto itu, dia... Dia.. Nixi.
Dadaku mendadak sesak, aku merasakan sakit yang sangat luar biasa. Aku menoleh
kearah Aina, dan dia menatapku sedih.
Seorang cewek
dengan dress berwarna biru keluar dari dalam, tenggorokanku tercekat, mataku
panas dan amarahku tiba-tiba mendidih.
"Alca....",
Nixi terkejut melihatku. Aku kembali menatap foto pernikahan itu dengan tatapan
meminta penjelasan.
Nixi mentap
kearahku, dia mencoba memelukku tapi aku mundur beberapa langkah.
"Maafin aku
Alca, maafin aku.....". Nada suaranya terisak, dia menangis
"Kenapa
kamu tega lakuin ini Nix....", suaraku lirih menahan pedih.
"Aku lakuin
semua ini karna terpaksa Al, aku mohon kamu mengerti. Aku sangat sayang sama
kamu tapi aku gak punya pilihan....", tangis nixi pecah membuat seisi
ruangan pilu.
"Orang
tuaku memaksaku menikah dengan pilihan mereka, mereka bilang aku gak boleh
menunggu sesuatu yang gak pasti...mereka memaksaku". Lanjutnya dengan nada
suara terbata - bata. Serasa tersambar petir di siang bolong, rasanya hatiku
remuk berantakan.
"Tapi apa
kamu sadar, selama 5 tahun aku berjuang di Amrik nix! Kuliah sambil kerja
sampai sekarang akhirnya aku berhasil meniti karirku disana, menjadi brand
manager di perusahaan ternama itu semua aku lakuin buat kamu! Buat buktikan
keorang tua kamu!". Nafasku tersengal, wajahku memerah dan emosiku benar-benar
meledak. Aina memelukku erat untuk menenangkanku, dan tangis Nixi makin keras.
Untuk beberapa saat aku tenggelam dalam kesedihan dan kesakitanku. Nixi
menghampiriku dan duduk dihadapanku.
"Maafin aku
alca... Aku gak bermaksud membuat semua yang kamu lakukan untukku
sia-sia...".
Aku menghela
nafas panjang, "Sudahlah Nix, semuanya sudah terlanjur. Aku ngerti kamu
gak bisa sabar nungguin aku. Jangan pernah cari aku atau temui aku lagi, aku
sudah memaafkanmu!", aku bangkit dan berjalan keluar dengan perasaan remuk
redam. Nixi menahanku utnuk tidak pergi, tapi aku tak bisa. Aku sudah terlanjur
kecewa dan sakit. Dan aku memutuskan untuk meninggalkannya bersama masa laluku
selamanya.....
Malam ini, saat
aku mendongak kearah lagit, seolah mengerti tentang perasaanku bintangpun
enggan muncul. Dan sebuah lagu dari kerispatih menutup perjalana cerita
cintaku....
Tersentak aku
seketika
Seakan - akan
tak percaya
Saat kulihat kau
telah berdua
Sebelum sampai
diriku
Melepas rindu
Tak satupun kata
terucap
Ketika kutanya mengapa
Air mata
penyesalan mengalir deras
Itupun tak bisa,
kembalikan dirimu
Kumaafkan semua
ini
Walau tak ingin
lagi ku melihatmu
Ku maklumi
ketidak sabaranmu menanti
Bejana cinta,
yang ku tinggal sesaat
Sudahlah,
lupakanlah
Tak mungkin lagi
kau kumiliki...
THE END




0 komentar:
Posting Komentar