Kamis, 18 April 2013

Tak Mungkin Lagi



Sesaat setelah pesawat landing di bandara juanda, aku merasa seperti jutaan beban terlepas dari pundakku. Sambil menarik koper dan membawa tas ranselku aku melangkah keluar dan menemukan seorang gadis dengan membawa papan bertuliskan "Welcome my lovely Brother Alcander", dengan aksen pita - pita dan coretan ala princess. Aku mengenali coretan itu, dia Aina adik semata wayangku yang kini sudah menjelma menjadi gadis cantik dengan pipi chubby dan rambut panjang coklatnya yang indah, tubuhnya yang langsing bak model membuatku tak berkedip menatapnya. Aku dibuat terkejut oleh perubahannya, dia sangat berbeda dari saat dahulu aku meninggalkan negara ini untuk mengejar impianku di negeri paman Sam selama 5 tahun. Aku melangkah cepat menghampiri gadis itu,

"Aina.....?", aku memanggilnya dengan nada ragu. Gadis itu menatapku dan langsung memelukku erat.
"Kak Alca apa kabar?, aku kangen kakak....", nada suaranya menjadi terisak.
"Hey.... kamu kok nangis??", kataku sambil melepaskan pelukanku dan mengusap pipinya yang basah.
"Kakak juga kangen banget sama kamu, kamu makin cantik! Gak heran kalo kakak sampai hampir gak ngenalin kamu..", lanjutku sambil tertawa kecil.
"Yaudah sekarang kita pulang yuk...... Mama papa sudah nungguin kakak dirumah..". Aina menarik tanganku kearah mobil.
Di dalam mobil tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Ain, kita mampir kerumah Nixi dulu ya....".
"Hah?, ngapain???", Aina menoleh kaget kearahku.
"Hey...kakak juga kangen banget sama Nixi, gak cuman sama kamu. Dia kan pacar kakak....", kataku sambil menjitak kepala Aina pelan. Sekilas aku melihat wajah Aina mendadak ragu.
"Ada apa?", kataku sambil menatap wajah aina yang sibuk menyetir.
"Gak gitu Kak...., mama papa kan sudah. Kangen banget sama kakak, bahkan mama sudah nyiapin makanan kesukaan kakak dari tadi pagi...".
Sejenak aku berfikir dan akhirnya, "yaudah kita langsung pulang aja dech....", kataku mantap.

Dirumah mama papa heboh menyambut kedatanganku. Bahkan mama tak henti -hentinya memelukku.
"Kamu memang hebat sayang, kamu membuktikan omongan kamu untuk tidak pulang ke tanah air sebelum kamu sukses dengan cara kamu sendiri..", mama mengelus rambutku. Dan papa akhirnya angkat suara.
"Baiklah.. Baiklah... Papa mengaku kalah Al, kamu memang anak papa yang hebat!", kata papa sambil menepuk pundakku.

Sudah 5 tahun aku gak pernah tidur di kamar ini, sambil rebahan di kasur mataku tertuju pada foto seorang cewek yang ada di meja kerjaku. Yah.. Cewek itu, Phoenixia, tapi aku lebih suka memanggilnya Nixi. Aku sangat mencintainya, bahkan demi membuktikan keseriusanku pada orang tuanya dan juga oramg tuaku aku rela meningalkan tanah air untuk meraih kesuksesanku. Selama 4 tahun menjalani LDR hubunganku baik-baik saja, tapi setahun belakangan ini aku merasa ada yang berubah dengannya, Nixi seolah menjauh dariku dan sekarang aku bahkan tak tahu lagi kabarnya. Mendadak perasaanku menjadi kalut, aku segera bangkit dan turun kebawah.
"Mau kemana sayang?", mama menghampiriku.
"Ada urusan bentar ma, kunci motor Alca dimana ma??", aku mencari - cari kunci motor di laci meja.
"Motor kamu sudah lama kamu tinggal, jadinya kemaren papa membawanya ke bengkel buat di servis. Kamu pake mobil mama aja Al...". mama menyodorkan kunci mobilnya.
"Makasih ma, Alca pergi dulu..", aku keluar rumah dan saat ini yang ada dipikiranku cuma Nixi. Sesampainya dirumah Nixi, aku mendapati rumahnya gelap seperti tak berpenghuni, di pagar terdapat papan yang menyatakan rumah ini dijual. Sungguh, aku gak habiz fikir. Kenapa semuanya mendadak seperti ini? Dan kenapa tak ada satupun yang memberitahuku. Aku merasa marah dan kecewa. Aku menelfon Nixi, tapi nomornya tidak terdaftar. Menelfon ke nomor rumahnya dan aku pun mendapat jawaban yang sama. Sungguh malam ini aku benar-benar putus asa. Kenapa Nixi tega berbuat seperti ini?.

Aku pulang kerumah dengan wajah kusut. Aina yang masih menonton televisi terkejut melihat kedatanganku.
"Kak Alca darimana?", tanyanya.
"Dari rumah Nixi, tapi dia sudah pindah!", aku merebahkan tubuhku  di sofa samping Aina.
Sedetik kemudian aku teringat sesuatu dan bangkit.
"Ain, selama ini kamu dekat kan dengan Nixi?, Nixi pasti cerita sesuatu kan sama kamu?, kakak mohon kasih tau kakak....". Aku menatap wajah aina dengan tatapan memelas. Aina menggelengkan kepala. Tapi aku dapat menangkap gelisahan dimatanya.
"Kamu yakin gak tau apa-apa tentang nixi, kamu kan sekelas dama dia..?", tanyaku dengan tatapan menyelidik.
Aina terdiam sejenak, dan kemudian di bangkit dari sofa.
"Ain ngantuk kak, mau bobog dulu. Besok ada kuliah pagi soalnya....".
'Hemmhhh....', aku menghembuskan nafas dalam. Aku yakin, Aina pasti tau sesuatu tentang Nixi, tapi kenapa dia berbohong?.

******

Hari ini target pencarianku adalah kampus Aina dan Nixi. Mereka berdua kuliah di jurusan yang sama dan dikelas yang sama. Aku menunggu. Di seberang kelas jurusan Sastra inggris, satu jam, dua jam, hingga akhirnya tiga jam mahasiswa yang ada di kelas tersebut berhamburan keluar. Dan aku meneliti satu persatu dari mereka untuk menemukan NiXi tapi hasilnya nihil. Sampai siswa terakhir yang keluar dari kelas itu, Nixi tak juga muncul. Mendadak pikiranku kalut dan lesu.
Aku merasakan ada yang menepuk bahuku, dan disaat aku menoleh aku mendapati Aina berdiri dengan tatapan menyelidiknya kearahku.
"Kak Alca ngapain disini?", tanya heran.
"Kakak nyari Nixi, dia hari ini gak masuk kuliah?", tanyaku balik. Aina mendadak terdiam utuk beberapa saat.
"Kenapa sih kakak masih nyari Nixi?", Aina bertanya padaku dengan suara lirih. "Dia sudah gak mau peduli lagi sama kakak....". Lanjutnya. Aku tercekat mendengar pernyataan Aina barusan.
"Ain...., kamu pasti tau sesuatu tentang Nixi kan??, kakak mohon kasih tau kakak tentang keberadaan Nixi sekarang, kakak cemas banget sama dia...", nada suaraku memelas dengan kepala tertunduk lesu.
"Ain mau kak alca lupain Nixi, Kak Alca bisa kok dapetin yang lebih baik dari dia...".
"Tapi aku cuman cinta dia Ain, selama 5 tahun aku berjuang di Amrik, biar aku bisa buktikan ke orang tuanya kalo aku mampu bahagiain dia....!!!". Aku bersuara dengan setengah membentak di depan Aina. Dia terlihat ketakutan dan menangis. Aku mendekapnya erat.
"Maafin kak Alca Ain, kakak gak bermaksud membentakmu. Kakak cuman sedang kalut..", nada suaraku mendadak turun dua oktaf.
"Ain...ain. Gak mau lihat kak Alca sedih, Ain gak mau kak Alca tersakiti....". Aina terisak dipelukanku.
"Tapi kakak pengen tau, sebenernya apa yang terjadi sama nixi.... Kak Alca mohon...". Aku tertunduk lesu di hadapan Aina dan dia menarik tanganku tiba-tiba.
"Kita mau kemana ?", tanyaku pada Aina yang sedang sibuk menyetir mobil.
"Nanti kakak juga tau...". Jawab Aina
satu jam di dalam mobil, mobil belom juga berhenti. Sebenernya Aina mau ngajakin aku kemana?, ini kan arah ke luar kota. Ke kota Malang tepatnya. Aku teridiam tak bersuara, sampai Aina memberhentikan mobilnya di depan rumah besar bergaya minimalis. Dia mengajakku turun. Sejenak kami menunggu di depan pagar setelah memencet bel pintu rumah. Semenit kemudian seorang ibu-ibu berusia 40 tahunan membukakan pintu untuk kami.
"Cari siapa ya mas?", tnyanya padaku.
"Nixinya ada bi?", sahut aina balik bertanya.
"Iya mbak silahkan masuk, saya panggilkan mbak Nixi dulu...". Bibi itu berlalu kedalam dan kami duduk di ruang tamu. Aku tersentak ketika melihat foto sepasang kekasih menggunakan gaun pengantin dan tersenyum lebar. Aku menatap foto itu untuk beberapa lama, cewek yang ada dalam foto itu, dia... Dia.. Nixi. Dadaku mendadak sesak, aku merasakan sakit yang sangat luar biasa. Aku menoleh kearah Aina, dan dia menatapku sedih.
Seorang cewek dengan dress berwarna biru keluar dari dalam, tenggorokanku tercekat, mataku panas dan amarahku tiba-tiba mendidih.
"Alca....", Nixi terkejut melihatku. Aku kembali menatap foto pernikahan itu dengan tatapan meminta penjelasan.
Nixi mentap kearahku, dia mencoba memelukku tapi aku mundur beberapa langkah.
"Maafin aku Alca, maafin aku.....". Nada suaranya terisak, dia menangis
"Kenapa kamu tega lakuin ini Nix....", suaraku lirih menahan pedih.
"Aku lakuin semua ini karna terpaksa Al, aku mohon kamu mengerti. Aku sangat sayang sama kamu tapi aku gak punya pilihan....", tangis nixi pecah membuat seisi ruangan pilu.
"Orang tuaku memaksaku menikah dengan pilihan mereka, mereka bilang aku gak boleh menunggu sesuatu yang gak pasti...mereka memaksaku". Lanjutnya dengan nada suara terbata - bata. Serasa tersambar petir di siang bolong, rasanya hatiku remuk berantakan.
"Tapi apa kamu sadar, selama 5 tahun aku berjuang di Amrik nix! Kuliah sambil kerja sampai sekarang akhirnya aku berhasil meniti karirku disana, menjadi brand manager di perusahaan ternama itu semua aku lakuin buat kamu! Buat buktikan keorang tua kamu!". Nafasku tersengal, wajahku memerah dan emosiku benar-benar meledak. Aina memelukku erat untuk menenangkanku, dan tangis Nixi makin keras. Untuk beberapa saat aku tenggelam dalam kesedihan dan kesakitanku. Nixi menghampiriku dan duduk dihadapanku.
"Maafin aku alca... Aku gak bermaksud membuat semua yang kamu lakukan untukku sia-sia...".
Aku menghela nafas panjang, "Sudahlah Nix, semuanya sudah terlanjur. Aku ngerti kamu gak bisa sabar nungguin aku. Jangan pernah cari aku atau temui aku lagi, aku sudah memaafkanmu!", aku bangkit dan berjalan keluar dengan perasaan remuk redam. Nixi menahanku utnuk tidak pergi, tapi aku tak bisa. Aku sudah terlanjur kecewa dan sakit. Dan aku memutuskan untuk meninggalkannya bersama masa laluku selamanya.....

Malam ini, saat aku mendongak kearah lagit, seolah mengerti tentang perasaanku bintangpun enggan muncul. Dan sebuah lagu dari kerispatih menutup perjalana cerita cintaku....

Tersentak aku seketika
Seakan - akan tak percaya
Saat kulihat kau telah berdua
Sebelum sampai diriku
Melepas rindu

Tak satupun kata terucap
Ketika kutanya mengapa
Air mata penyesalan mengalir deras
Itupun tak bisa, kembalikan dirimu

Kumaafkan semua ini
Walau tak ingin lagi ku melihatmu
Ku maklumi ketidak sabaranmu menanti
Bejana cinta, yang ku tinggal sesaat

Sudahlah, lupakanlah
Tak mungkin lagi kau kumiliki...

THE END

0 komentar:

 

Miss Double N's Story Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
and web hosting